Home | Looking for something? Sign In | New here? Sign Up | Log out
Showing posts with label Modul Sistem Penunjang Keputusan. Show all posts
Showing posts with label Modul Sistem Penunjang Keputusan. Show all posts

Sunday, June 20, 2010

Penelitian Persyaratan Database Untuk Dss Institusional Dan Ad Hoc

Sunday, June 20, 2010
0 komentar
Banyak organisasi yang telah menggunakan sistem penunjang keputusan (DSS). Aplikasinya meliputi perencanaan keuangan [19], manajemen portofolio 16], pembuatan keputusan marketing campuran [13,14], perencanaan kapasitas pabrik [17], dan analisis joint venture [12]. Apabila kita mempelajari berbagai macam aplikasi DSS, kita akan menjadi jelas bahwa sistem penunjang keputusan begitu berlainan antara satu dengan yang lainnya. DSS ini bisa digunakan untuk kontrol operasional, kontrol manajemen, atau perencanaan strategis. Mereka bervariasi dalam kestrukturan tugas pembuatan keputusan yang mereka dukung. Mereka bisa digunakan untuk pembuatan keputusan satu kali atau berulang-ulang. Karena keberadaan variasi ini, kita akan bisa menjumpai perbedaan bagian komponennya, termasuk komponen database.

Penulis baru-baru saja meneliti (investigate) empat sistem penunjang keputusan yang dibuat untuk pengalokasian anggaran dan sumber daya, penjadwalan pemberangkatan (dispatching) kereta api, penentuan harga, dan aplikasi akuisisi. Dua dari DSS yang dipelajari atau diteliti tersebut digunakan secara berkelanjutan, sedangkan dua yang lainnya digunakan untuk pembuatan kepUtusan secara sesaat (satu kali). Donovan dan Madnick [4] menamakan kedua cara tersebut, berturut-turut, DSS institusional dan DSS ad hoc. Area penelitian yang dilakukan difokuskan untuk mengungkap mengenai apakah ada perbedaan komponen database antara DSS institusional dengan DSS ad hoc. Studi ini mengisyaratkan bahwa ada beberapa perbedaan yang berimplikasi praktis bagi perancang DSS.

Gorry dan Scott Morton [7] mengkombinasikan kategori aktivitas manajerial dari Anthony [2] (yakni, kontrol operasional, kontrol manajemen, dan perencanaan strategis) dengan konsep pembuatan keputusan terstruktur dan tak terstruktur dari
Simon [15] untuk membuat kerangka guna peninjauan sistem informasi. Kerangka ini terbukti berguna untuk memahami persyaratan informasi dan jenis sistem informasi yang diperlukan untuk mendukung pembuatan keputusan. Sebagai contoh, persyaratan informasi mungkin akan disesuaikan dengan aktivitas manajerial. Keen dan Scott Morton [11] mengidentifikasi keakuratan, umur informasi, tingkat kerincian, cakrawala waktu, frekuensi penggunaan, sumber, lingkup informasi, dan jenis informasi sebagai aspek persyaratan informasi yang bervariasi menurut aktivitas manajerial. Dalam contoh lain, jenis sistem informasi yang diperlukan, yakni pemrosesan data elektronik (EDP), sistem informasi manajemen (SIM) atau (DSS) dikaitkan dengan kestrukturan tugas pembuatan keputusan. Sementara EDP dan SIM yang diperluas dianggap berguna untuk mendukung keputusan terstruktur, DSS cocok untuk mendukung pembuatan keputusan semi terstruktur dan tak terstruktur. Dan sebagai contoh terakhir, jenis sistem informasi yang diperlukan dikaitkan dengan aktivitas manajerial. Biasanya, EDP sangat cocok digunakan untuk kontrol operasional, SIM diorientasikan untuk kontrol manajemen, dan DSS mendukung perencanaan strategis.

Walaupun kerangka dari Gorry dan Scott Morton memiliki generalisasi yang berguna, namun is memiliki pula kekecualian. Yang menarik dan studi ini adalah bahwa DSS dapat digunakan untuk kontrol operasional, kontrol manajemen, dan perencanaan strategis. Dengan demikian, berbagai macam jenis DSS bisa saja cocok untuk berbagai macam aktivitas manajerial. Tulisan atau karya Donovan dan Madnick mendukung pernyataan ini. Mereka mengatakan bahwa DSS secara pokok dapat dibagi menjadi dua kategori: DSS institusional yang berkenaan dengan keputusan yang stfatnya berulang-ulang, dan DSS ad hoc yang berkenaan dengan keputusan tertentu yang biasanya tidak diantisipasi atau tidak berulang-ulang. Sifat kedua gents DSS ini ditunjukkan secara ringkas pada Tabel 8.1. Donovan dan Madnick mengisyaratkan bahwa sifat DSS institusional dan ad hoc tersebut mengarah pada suatu kesimpulan bahwa DSS institusional paling cocok untuk aplikasi kontrol operasional, sedangkan DSS ad hoc sangat cocok untuk aplikasi perencanaan strategis, dan disini ada keterkaitannya dengan aplikasi kontrol manajemen. Keen dan Scott Morton menunjukkan bahwa karena persyaratan informasi bervariasi menurut aktivitas manajerial, maka demikian pula halnya persyaratan atau keperluan data. Karena DSS institusional dan ad hoc cenderung dikaitkan dengan aktivitas manajerial yang berbeda, maka bisa ditebak bahwa komponen databasenya juga akan berbeda. Walaupun persyaratan database DSS telah diperumbangkan dalam berbagai konteks, namun tak ada riset mengenai persyaratan database spesifik untuk DSS institusional ataupun untuk DSS ad hoc. Dengan memberikan dikotomi antara DSS institusional dan ad hoc sebagai cara untuk melihat DSS, maka riset yang demikian tersebut bisa akan memberi pedoman yang yang membantu untuk merancang database DSS. Sprague dan Carlson [61] telah membuat daftar yang berisi persyaratan umum bagi database DSS, seperti terlihat pada Tabel 8.2. 1a digunakan dalam studi ini sebagai dasar untuk meneliti persyaratan atau keperluan database bagi DSS institusional dan ad hoc.

Daftar ISI :

Pendahuluan
Kerangka Konseptual Metode
Studi
Empat Studi Kasus Penemuan Dan Pembahasan
Kesimpulan
Pertanyaan
Referensi

Untuk Selengkapnya Silahkan Download :
Penelitian Persyaratan Database Untuk Dss Institusional Dan Ad Hoc.pdf

Anda Akan Menyukai ini :

read more

Komponen Artsitektur Untuk DSS

0 komentar
Cara pemikiran yang tepat mengenai bagian komponen dari suatu sistem penunjang keputusan (DSS) dan hubungannya diantara bagian tersebut adalah dengan menggunakan paradigma dialog, data, model (D,D,M) [7, 8]. Dalam konseptualisasi ini, ada dialog (D) antara pemakai dengan sistem, data (D) yang mendukung sistem tersebut, dan model (M) yang memberikan kemampuan analisis. Walaupun komponen tersebut bisa agak berbeda dari satu aplikasi dengan aplikasi yang satunya, namun mereka tetap dalam beberapa bentuk yang sama. Gambar 7.1, yang diadaptasi dari [7], memberikan representasi gambaran mengenai bagian komponen dari suatu DSS.

Pemakai dan pembangun DSS sebaiknya memahami bagaimana setiap komponen ini bisa dirancang. Bagi pemakai, pemahaman ini menciptakan kesadaran tentang apa yang dapat diperoleh dari DSS. Sedangkan bagi pembangun DSS, is memberitahu tentang apa yang bisa diberikan oleh pembangun tersebut.

Teknologi yang baru terus memberikan pengaruh terhadap komponen dialog, data, dan model. Sebagai contoh, sistem touchscreen (layar sentuh) yang berdasarkan icon memberikan opsion baru untuk mengarahkan atau menjalankan sistem tersebut.

Teknologi database relasional, dan database lebih barn yang berorientasi obyek, juga memberikan pilihan yang lebih tentang bagaimana data disimpan, diupdate, dan dipanggil. Hasil dari munculnya artificial intelligence memberikan potensi baru guna merepresentasikan dan menggunakan model dengan cara baru.

Tujuan dari bacaan ini adalah untuk meneliti bagian komponen dari suatu DSS. Dalam bacaan ini, kita mencoba untuk mendeskripsikan kekayaan atau potensi yang ada tersebut, dan memberikan keterangan mengenai teknologi yang sedang berlangsung, yang akan berlanjut mengembangkan atau meningkatkan bidang ini.

Daftar ISI :

Pendahuluan
Komplementasi Dialog
Komponen Data Komponen
Model Kesimpulan
Pertanyaan
Referensi

Untuk Selengkapnya Silahkan Download :
Komponen Artsitektur Untuk DSS.pdf

Anda Akan Menyukai ini :

read more

Komputer Untuk Penjadwalan Pemberangkatan Kereta Api: Dukungan Keputusan Melalui Optimisasi

0 komentar
Sistem informasi berdasarkan mini-komputer yang mempunyai kemampuan perencanaan rute optimal on-line dikembangkan (dibuat) untuk membantu pengatur jadwal pemberangkatan kereta api di Southern Railway's Alabama Division pada bagian utara yang sibuk lalu lintasnya. Rencana pengarahan perjalanan (routing) ini direvisi secara otomatis apabila terjadi perubahan kondisi. Sejak diimplementasikannya pada bulan September 1980, keterlambatan (delay) kereta api bisa dikurangi sampai lebih dari 15 persen, dimana hal ini menghemat biaya tahunan sebesar $316.000.

Sistem penunjang penjadwalan pemberangkatan ini sekarang dikembangkan atau diperluas ke semua divisi pengoperasian Southern Railway, dengan tujuan penghematan biaya tahunan sebesar $3.000.000 dari turunnya jumlah keterlambatan kereta yang diharapkan.

Southern Railway Company yang beroperasi di seluruh bagian tenggara Amerika Serikat ini merupakan perusahaan perkeretaapian terbesar di negara itu. Selama bertahun-tahun, ia unggul dalam perolehan keuntungan dalam industri ini. Pada tahun 1981, total keuntungan setelah dikurangi pajak dari Southern ini adalah $212 juta dari pendapatan sebesar $1,87 milyar.

Pada bulan Juni 1982, Southern Railway dan Norfolk and Western Railway bergabung untuk membentuk Norfolk Southern Corporation. Sistem gabursg_ul tersebut memberikan servis atau layanan sistem tunggal yang efisien ke seluruh South, East, dan Midwest. Norfolk Southern Corporation ini sekarang menjadi sistem perkeretaapian nasional terbesar kelima dan paling banyak mendapatkan keuntungan. Seperti yang terjadi pada tahun 1981, ia juga menghasilkan pendapatan sebesar $3,59 milyar dan merealisasikan keuntungan sebesar $500 juta. Bahkan pada tahun resesi 1982, setelah dikurangi pajak keuntungan, ia masih memperoleh keuntungan sebesar $411 juta.

Southern Railway dan Norfolk and Western beroperasi sebagai organisasi swatantra (otonomi) yang aktivitasnya dikoordinasikan pada tingkatan holding company. Setiap perusahaan (kereta api) ini dibagi ke dalam dua wilayah operasi, dan setiap wilayah, yang dikepalai oleh general manajer, memiliki lima divisi operasi.

Operasi hariannya dikontrol pada tingkatan divisi kantor pusat. Walaupun perjalanan kereta api antara divisi ini dikoordinasi melalui pusat kontrol operasi tersentral, namun tanggung jawab atas keselamatan dan efisiensi perjalanan kereta api yang melewati suatu divisi, pada prinsipnya adalah tanggung jawab kantor pemberangkatan pada divisi tersebut. Yang secara langsung bertanggung jawab pada pengawas divisi, dimana kantor pemberangkatan kereta dikepalai oleh asisten pengawas, adalah "Super Chief'; yang melaporkan (bertanggung jawab) kepadanya adalah kepala bagian pemberangkatan kereta (dispatcher) dan staf dari dispatcher.

Mengatur penjadwalan kereta api adalah sulit (kompleks) dan berisiko. Dalam shift delapan jam biasa, dispatcher kereta api akan mengontrol perjalanan 20 sampai 30 kereta api yang berjalan sepanjang wilayah yang menjangkau 3 sampai 6 ratus mil. Dalam sebagian besar kasus, kereta api-kereta api ini berjalan melalui rel tunggal dan kereta api-kereta api yang berlawanan arah hams bertemu di rel langsir. Dispatcher mengatur "pertemuan" ini secara aman dengan perhitungan yang sangat seksama. Ia juga hams mengkoordinasikan perjalanan regu pemeliharaan rel kereta api, km pemeliharaan signal, mesin (lok) pengubah arah, dan km pengawasan motor pembakaran bahan bakar.

Dispatcher juga harus selalu berhubungan dengan personel (petugas) langsir yang ada di terminal langsir, yang melaporkan informasi mengenai kereta api-kereta api yang akan melewati divisinya. Bila kereta api telah tiba pada tujuannya, is melaporkan statistik pengoperasian dan keterlambatan (delay) untuk dicatat oleh dispatcher. Hukum federal menghendaki agar dispatcher tersebut memelihara atau menyimpan "train sheet" (catatan pengoperasian kereta api) ini. Yang terakhir, dispatcher (petugas pengatur jadwal pemberangkatan) kereta api berinteraksi dan berkoordinasi dengan dispatcher yang lain, dan juga dengan kepala dispatcher dengan memberikan dan meminta laporan mengenai operasi di wilayahnya.

Southern Railway's Alabama Division (Gambar 6.1) merupakan divisi operasi yang kompleks (sibuk). Dengan berpusat di Birmingham, Alabama, rute perjalanannya yang paling sibuk menjangkau dari Atlanta melalui Birmingham ke Sheffield, Alabama, dekat Memphis. Divisi ini berinterface dengan divisi operasi lain pada setiap lokasi tersebut. Rute utama yang lain adalah dan Birmingham menuju selatan ke Mobile dan dari Birmingham menuju tenggara ke Columbus, Georgia. Bila digabungkan, jalur rel kereta api utama ini panjangnya lebih dari 800 mil dan 80 sampai 90 kereta api beroperasi setiap hari. Divisi tersebut mempekerjakan lebih dan 1.200 orang, yang kebanyakan bekerja di dalam kereta api dan bertugas di bagian lok.

Dua dispatcher kereta api ditugaskan untuk mengatur waktu pemberangkatan pada divisi pusat di Birmingham. Seorang mengontrol jalur penghubung yang ramai antara Birmingham-Sheffield (North Alabama District) dan jalur yang menuju selatan ke Mobile. Sedang yang seorang lagi mengontrol lute Birmingham-Atlanta (East End District) dan jalur yang menuju Goergia barat daya.

Baik North Alabama District dan East End District beroperasi di bawah kontrol Centralized Traffic Control (CTC). Ia memberikan sistem pengontrolan signal dan mengganti pekerjaan yang dikontrol secara sentral oleh dispatcher yang memonitor semua aktivitas pekerjaan melalui papan tampilan elektronik. Jalur lain pada divisi tersebut tidak mempunya kontrol signal. Dalam wilayah yang "gelap" ini, perjalanan kereta api melulu dikontrol oleh dispatcher dengan mengeluarkan aba-aba kepada km kereta api.

Sampai pada pertengahan tahun 1970-an, operasi Alabama Division tidak begitu kompleks; pada saat itu tak ada kontrol lalu lintas terpusat apapun. Kemudian pada tahun 1974, dengan diadakannya fasilitas langsiran di Sheffield, tingkat lalu lintas barang-barang mulai padat, dimana hal ini membuat North Alabama District menjadi pintu gerbang utama ke dan dan Midwest. Fasilitas pengisian batu bara di dekat Sheffield dibuka pada tahun 1977, sehifigga membuat jalur menjadi padat. Kereta api unit (kereta api dengan tujuh lokomotif dan 96 mesin pembakar batu bara) mulai beroperasi ke daerah utama di Georgia dan Alabama.Kereta api ini beroperasi pada "siklus" 40 jam, yakni, membawa muatan ke tujuan, menurunkan muatan, dan kembali dengan muatan kosong sepanjang rute yang berlawanan untuk mengambil muatan lagi. Yang bisa dioperasikan secara bersamaan hanya sampai empat kereta api.

Manajemen mamandang perlunya kontrol lalu lintas terpusat untuk membantu dispatcher, dan kemudian pada tahun 1976 dimulailah instalasinya.

Proyek riset dan pengembangan untuk memberikan bantuan komputer kepada dispatcher berlangsung secara independen pada periode yang sama. Setelah instalasi CTC hampir selesai dan proyek R&D mulai menunjukkan hasil, maka telah bisa diputuskan bah wa Alabama Division bisa menjadi lokasi yang tepat untuk menentukan sejauh mana komputer untuk pengaturan pemberangkatan kereta api bisa lebih jauh lagi meningkatkan kinerja.

Daftar ISI :

Pengembangan Sistem Pendukung Implementasi Dan Dampaknya Peningkatan Sistem Dasar
Ringkasan
Pertanyaan

Untuk Selengkapnya Silahkan Download :
Komputer Untuk Penjadwalan Pemberangkatan Kereta Api: Dukungan Keputusan Melalui Optimisasi.pdf

Anda Akan Menyukai ini :

read more

Experimen Dalam Menerapkan Pendekatan Desain Adaptif Untuk Pengembangan DSS

0 komentar
Sistem penunjang keputusan (DSS) adalah sistem berdasarkan komputer yang dirancang untuk meningkatkan efektivitas pembuat keputusan dalam menjalankan tugas semi terstruktur. Dengan tugas seperti ini, pembuat keputusan belum bisa mengetahui dengan pasti mengenai sifat masalah/ peluang, pemecahan alternatif dan/ atau kriteria atau nilai yang digunakan membuat penentuan. Oleh karenanya, peran pokok DSS adalah untuk membantu proses pembuatan keputusan selagi pembuat keputusan menghadapi masalah yang tidak ditetapkan dengan baik.

Cara merancang DSS berbeda dengan cara merancang sistem pemrosesan transaksi. Asumsi dasar dalam pendekatan "siklus hidup" tradisional adalah bahwa persyaratan atau keperluan dapat ditentukan sebelumnya guna memulai proses desain dan pengembangan. Namun demikian, Sprague [14] menyatakan bahwa perancang DSS benar-benar "tidak bisa memulai base yang pertama" karena pembuat keputusan atau pemakai tidak bisa mendefmisikan keperluan atau persyaratan fungsional DSS sebelumnya. Juga, sebagai bagian yang terpadu dari proses desain dan implementasi DSS, pemakai dan perancang akan "mempelajari" mengenai tugas keputusan dan lingkungan, yang dengan demikian berarti mereka mengidentifikasi persyaratan fungsional yang barn dan yang belum diantisipasi.

Umumnya, perancang DSS telah mengetahui bahwa keadaan ini memang di luar tradisi yang biasa dilakukan dalam merancang sistem; oleh karenanya kita menamakannya desain adaptif. Ia adalah konsep yang baru, dan hasil karya empiris yang dilakukan dengan cara ini masih sangat terbatas.

Tulisan ini difokuskan untuk membahas pendekatan desain adaptif. Pertama, kita akan meneliti dan membahas permasalahan konseptual mengenai desain adaptif. Kemudian kita tampilkan studi kasus. Penemuan dari studi ini memberikan wawasan mengenai aplikasi dan efektivitas pendekatan tersebut. Dikemukakan pula beberapa area untuk riset di masa mendatang.


Daftar ISI :
Proses Desain Adaptif Studi
Kasus
Observasi Pada Studi Kasus
Ringkasan
Pertanyaan
Referensi

Untuk Selengkapnya Silahkan Download :
Experimen Dalam Menerapkan Pendekatan Desain Adaptif Untuk Pengembangan DSS.pdf

Anda Akan Menyukai ini :

read more

Analisis Nilai Mempertimbangkan System Penunjang Keputusan

0 komentar
Sistem penunjang keputusan (DSS) dirancang untuk membantu meningkatkan efektivitas dan produktivitas para manajer dan profesional. Ia adalah sistem interaktif yang biasa digunakan oleh individu yang memiliki pengalaman sedikit mengenai komputer dan metode analitis. Ia mendukung, bukannya mengganti, pertimbangan atau keputusan, dimana is tidak mengotomatisasi proses keputusan dan juga tidak menentukan rangkaian analisis bagi pemakai. DSS adalah hasil dari usulan staf asisten yang diberi delegasi oleh manajer untuk melaksanaan aktivitas yang menyangkut pemanggilan (retrieval), komputasi, dan pelaporan. Manajer mengevaluasi hasilnya dan menentukan langkah berikutnya dalam proses tersebut. Tabel 4.1 menyebutkan beberapa aplikasi DSS biasa.

Analisis biaya-manfaat tradisional tidak begitu cocok bagi DSS. Manfaat atau keuntungan yang diberikannya seringkali bersifat kualitatif; contoh yang disebutkan atau berasal dari pemakai DSS mencakup kemampuan untuk memeriksa atau meneliti alternatif lebih banyak lagi, stimulasi akan gagasan barn, peningkatan komunikasi analisis. Memang sangat sulit untuk menaksir nilai dari kemampuan tersebut. Selain itu, karena kebanyakan DSS terns berkembang. Tak ada sistem "akhir" (yang selesai secara sempurna); versi awal dari suatu sistem dibangun dan fasilitas yang barn ditambahkan terus guna merespon terhadap pengalaman dan pembelajaran pemakai. Oleh karena itu, biaya pengembangan DSS tidak mudah ditetapkan atau diidentifikasi.

Keputuan untuk membangun DSS kelihatannya didasarkan pada nilai, bukannya pada biaya. Sistem tersebut memberikan gambaran investasi untuk efektivitas di masa mendatang. Analog yang tepat adalah dengan adanya pendidikan manajemen. Perusahaan akan mensponsori penyelenggaraan kursus lima hari mengenai perencanaan strategis, pengembangan organisasional, atau sistem kontrol manajemen, berdasarkan kebutuhan yang dirasa perlu atau berdasarkan manfaat jangka panjang. Tak ada usaha untuk melihat atau menentukan jangka waktu pengembalian atau ROI (kembali modal), dan manajemen juga tidak mengharapkan secara langsung nilai atau manfaat yang ingin diterimanya.

Tulisan ini mengemukakan tentang bagaimana DSS dipertimbangkan dan bagaimana menggunakan Value Analysis (VA), yakni metodologi menyeluruh untuk perencanaan dan pengevaluasian proposal DSS. Bagian berikutnya menggambarkan aplikasi DSS. Point pokoknya adalah.
1. ketergantungan (pengandalan) pada prototipe,
2. ketiadaan anlisis biaya-manfaat,
3. sifat perkembangan DSS yang evolusioner, dan
4. sifat manfaat yang dirasakan.

Daftar ISI :

Pendahuluan
Sistem Pendukung Keputusan
Dinamika Inovasi
Analisis Nilai Pertanyaan
Referensi

Untuk Selengkapnya Silahkan Download :
Analisis Nilai Mempertimbangkan System Penunjang Keputusan.pdf

Anda Akan Menyukai ini :

read more

Wednesday, June 16, 2010

Kerangka Untuk Pemeriksaan Keterlibatan Manajemen Dalam Sistem Penunjang Keputusan

Wednesday, June 16, 2010
0 komentar
Evolusi aplikasi sistem informasi berdasarkan komputer (CBIS) dalam organisasi telah dituliskan dan dibahas dalam literatur [15]. Aplikasi yang telah berkembang biasanya diorganisasi ke dalam salah satu kategori dari sistem pemrosesan transaksi (TPS), sistem informasi manajemen (SIM), sistem penunjang keputusan (DSS) [ 113, 22, 251 ]. Baik TPS maupun SIM ditujukan bagi arus informasi terstruktur untuk menunjang proses organisasional rendah dan menengah.

Sistem penunjang keputusan mempunyai tujuan yang sangat spesifik yakni memberi bantuan kepada para pembuat keputusan manajemen tingkat menengah dan atas dalam membuat keputusan yang sangat penting. Mann dan Watson [17, hal.27] memberikan definisi DSS sebagai berikut:

Sistem penunjang keputusan adalah sistem interaktif yang memberikan akses yang mudah ke model keputusan dan data kepada pemakai, guna menunjang tugas pembuatan keputusan semi terstrukrur dan tak terstruktur.

Perbedaan khusus yang berarti antara TPS dan SIM disatu sisi, dengan DSS di lain sisi, adalah bahwa DSS mcmpunyai variasi informasi penunjang keputusan tertentu yang berada dalam berbagai bentuk format. Sedangkan dalam TPS dan SIM, informasi yang ada bersifat begitu tidak fleksibel.

Guna mengevaluasi tingkat dan jenis keterlibatan manajemen yang diperlukan dalam DSS, akan dikemukakan kerangka untuk pengevaluasian seperti itu. Kerangka ini dihasilkan dari pengkategorisasian proses secara intuitif dan logis maupun dari literatur yang ada. Yang pertama, kerangka untuk pemeriksaan keterlibatan manajemen dalam DSS akan dikemukakan dan dihubungkan dengan spekulasi/riset tertentu dalarn literatur. Kemudian, basil dari studi lapangan terhadap 18 DSS akan digunakan untuk memeriksa dan menguatkan kerangka tersebut.

KERANGKA UNTUK INVESTIGASI

Berdasarkan pada dan perluasan terhadap riset dan spekulasi yang ada dalam literatur, tulisan ini akan mengemukakan bahwa keterlibatan manajemen dalam DSS terpisah secara logis ke dalam empat area. Manajer, dalam kaitannya dengan DSS, berperan sebagai:

1. pemberi persetujuan dan administrator
2. developer
3. operator
4. pemakai output

Dengan sistem pengklasifikasian peran konseptual rangkap empat inilah keterlibatan manajemen diperiksa. PengIdasifikasian rangkap empat dasar tersebut dimaksudkan sebagai segmentasi logis dad tugas manajemen yang mempunyai keterkaitan dengan DSS. Empat peran tersebut nampaknya juga bisa berlaku bagi kategori lain dalam sistem informasi (yakni, TPS dan SIM); namun tak ada pengembangan seperti itu yang ditawarkan dalam riset mi. Sebagian besar subklasifikasi mengenai peranan "developer" dan peranan "pemakai output" berasal dari tulisan Sprague [22]. Pada bagian berikut, akan dikemukakan persoalan mengenai keterlibatan manajemen dalam DSS yang memiliki keterkaitan dengan pemberi persetujuan, developer, operator, dan peranan pemakai, didukung dengan bukti dari literatur. Persoalan yang spesifik kemudian akan dihubungkan secara langsung dengan penemuan yang dihasilkan dari studi DSS tertentu.

PEMBERI PERSETUJUAN DAN ADMINISTRATOR

Sebagai pemberi persetujuan, manajer melakukan peran secara konsisten dalam aktivitas perencanaan. Biasanya, untuk menentukan manfaat atau keuntungan relatif dari investasi organisasional alternatif dan untuk menerima atau menyetujui investasi tersebut apabila ia akan bemianfaat bagi organisasi adalah menjadi tanggung jawab manajemen. Lebih dari itu, DSS menjadi kesatuan (entiti) organisasional tambahan yang memerlukan posisi dalam struktur organisasi dan memerlukan hubungan ke unit organisasional.

Berkaitan dengan peranan pemberi persetujuan ml, ada tiga persoalan dasar yang akan diinvestigasi (diperiksa). Pertama, bagaimana dan oleh siapa persoalan kebijakan DSS dalam organisasi ditentukan? Pertanyaan tentang siapa yang menyusun kebijaksanaan ini belum diterangkan sebelumnya.

- Perencanaan DSS hams digabungkan ke dalam proses perencanaan bersama Sprague dan Carlson [23].

- Dalam merencanakan pengimplementasian DSS ke dalam organisasi, dampak kekuatan politis harus diteliti - Ahn dan Grudnitski [1 ].

Kedua, bagaimana manajemen mengevaluasi DSS kaitannya dengan keuntungan/biaya bagi organisasi?
- Evaluasi finansial terhadap DSS bersifat sulit dan tidak terus menerus - Alter [2], Keen 112], McCosh dan Scott Morton [18].
- Evaluasi DSS harus didasarkan pada nilai-tambah - Keen [12] - dan pengurangan biaya - Meador dan Keen [19].
- Pendekatan "portofolio" harus dimanfaatkan (length) mempertimbangkan resiko dan manfaat - Gremillion dan Ptburn 18].

Ketiga, bagaimana DSS dthubtingkan dengan ttngsi organbasional yang lain, terutama dengan fungsi CB1S yang Iehih tradisional?
- Beberapa sumber DSS dibagi (digunakan bersama), dan beberapa yang lain dipisahkan dari sumber CBIS yang lain dan dikontrol oleh manajemen pemakai
- Blumenthal [5], Locander, Napier, dan Scamell [16], Sprague [22].

DEVELOPER

Bila DSS telah disetujui, ia harus direalisasikan; yakni ia harus dikembangkan (dibuat). Dengan adanya fungsi DSS untuk menunjang tanggung jawab pembuatan keputusan oleh manajer, dan dengan adanya pembuatan keputusan yang menjadi tugas yang sulit ditetapkan atau disusun, maka logislah bila manajer perlu melakukan peran pokok dalam proses pengembangan DSS.
Ada empat sub-masalah yang berkenaan dengan penman manajer sebagai developer DSS. Pertama, pada point mana dalam proses pengembangan DSS diperlukan keterlibatan manajemen?

- Manajemen harus dilibatkan secara mendalam sepanjang proses pengembangan
- Alter [3], Bahl dan Hunt [4], Ginzberg [7], McCosh dan Scott Morton [18], Sprague [22].
- Manajemen harus memberikan pengelolaan atau arah dalam pengembangan DSS - Keen dan Scott Morton [13], Keen dan Wagner [14], Locander, Napier, dan Scamell [16].
- Pengembangan DSS sefingkali dikembangkan dan dibantu perkembangannya oleh sokongan dari suatu "organizational champion" - Curley dan Gremillion [6], Hayes dan Nolan [9], Sprague dan Olson [24].
- Pengembangan DSS hams rnencakup peningkatan kebersamaan dan koordinasi antara pemakai/manajer dengan perancang teknis - Ahn dan Grudnitski [1].
- Pendekatan pengembangan yang dikemudikan pemakai biasanya bisa meningkatkan kinerja DSS - Kasper (11].

Kedua, berapa banyak waktu yang dibutuhkan manajemen dalam mengembangkan DSS? Walaupun belum ada yang membahas persoalan ini secara khusus, namun bisa kita sebutkan lamanya waktu usaha pengembangan secara total.
- Waktu pengembangan total adalah pendek (1 hari sampai 20 minggu) - Keen [12].

Ketiga, bagaimana kebutuhan dan gaya personal dari manajer/pembuat keputusan digabungkan (dibersamakan) ke dalam DSS?
- DSS harus dikembangkan agar bisa mencakup gaya pembuatan keputusan personal dari seorang manajer - Keen (12], McCosh dan Scott Morton [18].

Yang terakhir, teknologi apa yang digunakan (atau tidak digunakan) oleh manajer dalam mengembangkan DSS? Baru ada sedikit penelitian yang dilakukan dalam area ini.
- Tingkat keberadaan nominal teknologi DSS telah begitu berpengaruh terhadap peningkatan keterlibatan pemakai dan manajer - Mann clan Watson [17].

OPERATOR

Operasi DSS yang sebenamya memerlukan keterampilan yang kebanyakan tidak sama dengan keterampilan yang biasanya diperlukan oleh para manajer. Ada beberapa "level" (tingkat) kecanggihan teknis dalam DSS yang membedakannya, yang memerlukan sejumlah kemampuan untuk menggunakan yang berbeda. Diharapkan bahwa sejumlah kemampuan operasi dan operasi aktual dari DSS akan dikehendaki oleh pan manajer.

Menurut kepentingan manajerial dalam kaitannya dengan operasi sistem, ada dua subpersoalan yang umum. Pertama, seberapa banyak manajemen mengoperasikan DSS? Belum ada penelitian mengenai frekuensi operasi manajernen ini.
Manajer lebih suka mengoperkan operasi DSS kepada stafnya - Wagner [26].
- Sebagian besar tnanajer tingkat alas hanya duduk di terminal - Keen dan Wagner [14].

Daftar ISI :

PENDAHULUAN
KERANGKA UNTUK INVESTIGASI
STUDI
PENEMUAN STUDI
PEMERIKSAAN PENEMUAN
KESIMPULAN
PERTANYAAN
REFERENSI

Untuk Selengkapnya Silahkan Download :
Kerangka Untuk Pemeriksaan Keterlibatan Manajemen Dalam Sistem Penunjang Keputusan.pdf

Anda Akan Menyukai ini :

read more

Sunday, June 13, 2010

DSS Dalam Konteks

Sunday, June 13, 2010
0 komentar
Tema tulisan ini adalah mengenai persoalan untuk menetapkan beberapa perspektif mengenai kemajuan DSS selama 10 tahun terakhir ini. Tulisan ini memberi kontribusi terhadap tema tersebut dengan cara melihat DSS dengan konteks yang luas - yakni konteks yang meliputi usaha lain dalam sistem informasi dan ilmu manajemen. Sejak dekade yang lalu, kita telah melihat bahwa sistem informasi berkembang dengan berbagai nama. Electronic Data Processing (pemrosesan data elektronik) dikembangkan lagi atau perkembangannya didukung oleh sistem informasi manajemen, otomatisasi kantor, sistem pelaporan (atau dukungan) manajemen, sistem informasi eksekutif, dan tentunya, sistem penunjang keputusan. Sementara itu, banyak usaha analisis yang pada mulanya ditetapkan dengan nama seperti ilmu manajemen, riset operasi, teknik kuantitatif, dan analisis statistik telah dimasukkan atau menjadi bagian dari fungsi sistem informasi, karena banyak sekali analisis sekarang yang menggunakan komputer.

Telah ada berbagai model dan paradigma untuk menjelaskan bagaimana berbagai usaha sistem dan analisis ini saling berkaitan. Mereka (model dan paradigma) ini biasanya menyertakan variabel seperti tingkat manajemen yang diberikan, sifat transaksi, jenis data yang digunakan, waktu respon (batch atau on-line), mengenai apakah mereka dikerjakan oleh pusat pemrosesan data atau dikerjakan oleh pemakai sendiri, mengenai apakah mereka terutama didasarkan pada data atau didasarkan terutama pada model, dan sebagainya. Tulisan ini mengemukakan sifat yang nampaknya akan menjadi ukuran yang lebih membantu dan pada ukuran tradisional dalam pengorganisasian cara pembuatan dan penggunaan sistem informasi.

Bagian pertama akan memaparkan kembali tujuan atau misi secara keseluruhan bagi sistem informasi dalam organisasi. Bagian berikutnya mengenalkan konsep aktivitas penanganan informasi Type I dan Type II yang akan dibantu dan ditingkatkan dengan cara penggunaan sistem informasi. Bagian ketiga berisi retrospeksi (peninjauan kembali) terhadap beberapa perkembangan dasar selama dekade terkahir yang dilihat menurut konteks barn ini. Yang terkahir, tulisan ini memberi saran terhadap perkembangan di masa depan yang kita harapkan atau ingin kita capai, untuk meningkatkan kontribusi DSS bagi misi tersebut secara keseluruhan.

PENDAHULUAN
MISI KESELURUHAN
DUKUNGAN UNTUK PEKERJA INFORMASI DSS SEBAGAI PEMADU
BERTEMUNYA EVOLUSI
MASA MENDATANG
PERTANYAAN

Untuk Selengkapnya Silahkan Download :

DSS Dalam Konteks.pdf

Anda Akan Menyukai ini :

read more

Kerangka Untuk Pengembangan Sistem Penunjang Keputusan

0 komentar
Sepertinya kita berada di ambang "era" lain dalam hal kemajuan sistem informasi berdasarkan komputer yang berkelanjutan dalam organisasi. Dengan dinamai "decision support system" (sistem penunjang keputusan) (DSS), sistem ini menerima reaksi yang berjangkauan dari "major breakthrough" (pemecahan utama) sampai "just another 'buzz word— (pemecahan sampingan).

Salah satu pandangan menyatakan bahwa kemajuan teknologi informasi yang evolusioner alami dan penggunaannya dalam konteks organisasional bertolak dari EDP ke SIM ke DSS yang sekarang. Menurut pandangan ini, DSS muncul menggantikan tempat SIM.

Sebaliknya, ada pandangan yang menyatakan bahwa DSS adalah sebagai subset yang penting dari SIM yang selama ini ada dan yang akan berlanjut kemudian. Pandangan lain menganggap bahwa is adalah jenis sistem yang telah berkembang selama beberapa tahun dan "barulah sekarang kita menamakannya sebagai DSS". Sementara itu, para skeptis (yang berpandangan ragu-ragu), dalam meragukan apa yang akan dihadirkan oleh para vendor pada waktu berikutnya, menyatakan bahwa DSS hanyalah "buzz word" (desas-desus).

Tujuan dari bacaan ini adalah untuk melihat secara singkat pandangan yang berlainan mengenai DSS tersebut dan mengemukakan kerangka yang bisa memberikan kegunaan bila kita menggabungkan pandangan tersebut. Kerangka ini menyambungkan dan memadukan hal pokok dari para "stakeholder" (pengemuka pendapat) dalam perkembangan DSS: yakni pap eksekutif dan profesional yang menggunakannya, manajer SIM yang mengelola pengembangan dan penginstalannya, spesialis informasi yang membangun dan mengembangkannya, perancang sistem yang menciptakan dan mengasembling teknologi yang digunakan untuk mendasarinya, dan peneliti yang mempelajari pokok bahasan dan proses DSS.

Daftar ISI :

PENDAHULUAN
DEFINISI, CONTOH, DAN SIFAT
DSS DIBANDINGKAN DENGAN SIM
PANDANGAN TEORITIS KERANGKA
TIGA TINGKAT TEKNOLOGI
MENGEMBANGKAN PERAN DALAM DSS
CARA PENGEMBANGAN UNTUK DSS
TUJUAN DAN KEMAMPUAN KINERJA
PANDANGAN PEMBANGUN: KEMAMPUAN TEKNIS
SUBSISTEM DATA
SUBSISTEM MODEL
PANDANGAN TOOLSMITH: TEKNOLOGI DASAR
PERSOALAN UNTUK MASA MENDATANG
RINGKASAN
PERTANYAAN
REFERENSI

Untuk Selengkapnya Silahkan Download :

Kerangka Untuk Pengembangan Sistem Penunjang Keputusan.pdf

Anda Akan Menyukai ini :

read more
 

Komentar

Postingan Terakhir