Home | Looking for something? Sign In | New here? Sign Up | Log out
Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Monday, June 7, 2010

Menyambut " May Day "

Monday, June 7, 2010
0 komentar
Meski matahari sudah diseperempat langit, sinarnya masih saja garang memanasi isi bumi. Perubahan cuaca yg tidak menentu begini, sulit untuk diperkirakan : apakah kita tengah dimusim hujan atau musim panas, padahal dua hari yg lalu kota ini baru saja diguyur hujan lebat.

Sungguh tdk bisa dipungkiri, kuasa Allah yg mengatur alam dan isinya. Dan ketika panas yg seakan membakar kulit ini, boleh jadi manusia dan makhluk lainnya tengah diuji. Diuji kesabaran hambanya, sejauh mana ketaatan itu masih tetap terpatri.

Dari salah satu pintu gerbang sebuah pabrik, terlihat para pekerja pabrik yg berhamburan keluar. Adalah waktunya untuk pulang. Tampak kelelahan diwajah mereka, namun hati mereka menjadi lega karena aktifitas yg menjemukan dalam pabrik itu telah selesai. Sampai diluar gedung, mereka mengernyitkan kening saat merasakan teriknya matahari. Oh, beginilah nasib sebagai buruh pbrik.

Aku mengiringi langkah para pekerja lain, yg kebanyakan kaum wanita yg rata2 berumur 20-30 thn. Usia muda yg memiliki tenaga yg kuat. Memang pabrik yang memproduksi segala jenis pakaian ini lebh didominasi oleh kaum hawa yang memiliki keterampilan menjahit. Sementara aku sendiri sebagai tenaga mekanik yg berkutat dgn mesin jika sewaktu waktu mesin jahit rusak.

Pinggiran kota ini adalah kawasan pbrik. Pembangunan pabrik-pabrik tumbuh dgn subur. Lahan-lahan kosong warga setempat telah terjual dan disulap menjdi bangunan megah. Sungguh investasi asing dinegeriku ini bergerak maju. Bagi penguasa, mungkin dengan banyaknya investasi asing yg menanam modal maka semakin banyak peluang terbukanya lapangan kerja. Memang benar, aku sendri bisa menikmati hasilnya. Setidaknya dapat memenuhi kebtuhanku sehari hari. Sebagian pula kukirim buat ibu yg juga sebagai buruh tani dikampung dan adik-adikku pun bisa kembali sekolah. Tapi disisi lain, kehadiran asing menjadi tanda tanya akan keberadaannya. Aku melihat negeriku seperti nyaris mati oleh penguasa yg tidak mampu menyelesaikan persoalan hdup rakyatnya. Tengoklah keberadaan asing dinegeri ini, yg menorehkan luka yg menyayat hati. Sumber-sumber kekayaan alam yg seharusnya untuk kepentingan rakyat telah dieksploitasi oleh mereka. Perusahaan-perusahaan negara telah diprivatisasi. Kepemilikan beralih ketangan asing.
Dan untuk para buruh sendri yg bekerja dipabrik2 dipekerjakan seperti sapi perahan. Tenaga buruh dibayar murah. Tak dihiraukan hak haknya.Dipandang sebelah mata. Pemilik perusahan selalu berargumentasi. Kami sedang memproses. Kami sedang menggodok apa yg menjdi permintaan kalian, kilahnya.

Pertanyaannya: haruskah buruh menunggu proses yg demikian lama sementara kesakitan, kelaparan dan kematian ada didepan mata?
Mungkin tepat kalau dikatakan bahwa buruh tengah dijajah dgn cara yg picik dan licik. Mungkin kita sudah merdeka. Dan kita telah bebas dari penjajahan fisik. Tapi kita tidak menyadari kalau kita tengah dijajah dalam bentuk lain. Bayangkan, sudah puluhan tahun kita menjalaninya tanpa hasil yg mengembirakan. Kalau demikian, mengapa kita harus berdiam diri?

Yah..mungkin orang seperti aku, membicarakan hal seperti ini tidak akan dianggap. Dengan profesiku sebagai buruh pabrik ditambah pendidikan rendh, yang hanya mengandalkan tenaga dan kekuatan, otomatis akan dianggap sebagai angin lalu. Dan yg pasti aku menyadari sepenuhnya siapa diriku.
Apa yg kurasa, kualami, kutumpahkan semua setidaknya dapat membakar emosi, mengobar semangat sekaligus mengetuk pintu hati untuk tidak berdiam ditempat.

Pukul 17.00 aku keluar dri pintu gerbang pabrik. Aku pulang menuju kontrakan yang berukuran 3x2 meter, yang kusewa tiap bulan. Rasanya tempat inilah yang nyaman bagiku untuk melepas kepenatan. Kelelahan. Tempat untuk berbagi keluh kesah, bersenandung sendu, merintih dan menangis sendiri. Disinilah tempat aku menggali inspirasi. Mencoba memaknai sebuah perjalanan hdup. Seraya merebahkan badan menatap langit kamar seolah menembus langit bumi lalu berkeluh kesah dgn Sang Pencipta. Meratapi dan menyesali kesalahan dgn memohon ampun untuk setiap jengkal noda yg diperbuat.

Teman2 kontrakan menyambutku. Mereka sedang sibuk menyiapkan acara besok. Owh.. Baru sadar kalau besok adalah " may day ". Hatiku tergugah dan terpanggil untuk berpartisipasi dengan mereka yang senasib denganku. Akan ada pawai dan konvoi motor menuju kantor Pemda setempat. Moment ini tidak akan kulewatkan. Akan kusematkan semangat yang kokoh dihatiku dalam mengiringi langkah kawan-kawan yang brjuang membela nasib kaum buruh. Bravo teman2 seperjuangan ! ! !

Original Posting By : Israk Pedro
http://www.facebook.com/profile.php?id=100000172778279


Anda Akan Menyukai ini :

read more

Sunday, March 21, 2010

Cerpen - Anjing itu Bernama Bobi By Dian Arie.S.O

Sunday, March 21, 2010
0 komentar

Aku bukan pencinta binatang. Apalagi anjing! Aduh…enggak deh! Tapi air mataku ini pernah mengalir untuk Bobi. Seekor anjing.

Setelah married aku pindah ke Denpasar Bali. Dulu kamar Mas Rio kecil, di lantai dua. Tapi mengingat kami udah berkeluarga, ibu kos yang baik hati memberikan tempat di lantai tiga.

Di lantai tiga ada sebuah kamar lumayan besar sehingga aku bisa menata ruang makan dan dapur kecil di dalamnya. Ibu kos juga memberikan spring bed, meja makan plus kursi-kursinya. Di sana kami sendirian karena memang cuma ada satu tempat saja. Di luar kamar sudah terbentang teras dengan sebuah gazebo di sudut lantai tiga. Di sisi lain ada deretan ruang, satu buat kamar mandi, sedangkan yang satu buat gudang. Di sana juga terdapat sebuah kursi sofa untuk duduk santai saat sore tiba.

Saat pertama kali pindah kesana, aku langsung jatuh cinta pada tempat itu. Nggak jarang saat sore tiba dan Mas Rio lagi kerja, aku sering menghabiskan waktu duduk termenung di gazebo depan kamar. Memandangi kota Denpasar yang indah, terkadang sayup-sayup terdengar gamelan bali dari tempat sembahyang yang bertebaran di bawah sana. Hati ini rasanya tenaaaang…gak bisa dilukiskan dengan kata-kata.

Tapi seringkali ketenanganku terusik. Bobi! Anjing hitam besar itu kerasan tiduran di kursi sofa depan kamarku. Padahal jika mau ke kamar mandi aku harus melewatinya dan dia menggeram sambil menegakkan kepalanya! Siapa yang nggak takut coba? Tapi Mas Rio bilang Bobi anjing yang baik dan penurut, jadi aku nggak perlu takut. Kalo ada Mas Rio sih enak, mo ke kamar mandi dianterin sama dia, susahnya kalo dia lagi kerja...pernah aku sampe jauh malem nggak mandi gara-gara takut mau keluar kamar karena ada Bobi duduk di situ.

Tapi lama-lama kalo gitu terus, aku kan susah jadinya...akhirnya pelan-pelan aku mulai memberanikan diri keluar kamar meskipun ada dia. Tapi aku berjalan cepet-cepet tanpa berani melihat ke arah dia sama sekali. Bobi masih suka menggeram jika melihatku dan kadang suara geramannya itulah yang membuatku ngeri sendiri.
Suatu saat aku terkejut saat keluar kamar mandi, melihatnya duduk tegak di depan pintu. Duh jantungku rasanya berhenti, “Apa maunya anjing ini?” pikirku. Dan ternyata dia diam saja saat aku melewatinya. Akhirnya hal itu dilakukannya terus, setiap aku ke kamar mandi, dia duduk di depan pintu sampai aku selesai mandi.

Nggak hanya itu, setiap malam dia juga duduk di depan pintu kamarku dan kalau terdengar dia menggonggong, berarti ada orang yang naik ke atas menuju kamarku. Setiap hari begitu, tiba-tiba membuatku nyaman, sepertinya dia tengah menjagaku. Tidak hanya itu dia juga mengantarku saban pagi belanja ke pasar Sanglah. Ia mengantarku sampai aku menyeberang jalan dan diam di situ sampai aku kembali lalu mebuntutiku kembali ke kos-kosan.
Terus-terang, lama-lama aku jadi sayang sama Bobi. Nggak terasa saban pagi saat pisahan hendak nyeberang ke pasar, aku memandangnya dan berkata,” Aku belanja dulu ya, Bob, kamu tunggu disini.” Dan setiap malam justru menyenangkan jika aku keluar kamar dan duduk-duduk di gazebo luar dan memandang ke bawah, ke arah kota denpasar, dengan dia di sampingku. Sama sekali aku tidak merasakan takut , malah merasa nyaman. Kalau saja, agamaku tidak melarang dan menajiskan Anjing, rasanya aku ingin mengusap-usap lehernya sebagai tanda terima kasih atas sikapnya yang menyenangkan itu.

Saat akhirnya Mas Rio pindah ke Surabaya, bagian terberat adalah berpisah dengan Bobi. Aku sangat takjub bahwa aku merasa sedih tidak bisa menemui Bobi lagi. Terakhir kali, aku dan Mas Rio berjalan-jalan keluar dan dia membuntuti kami sampe menyeberang jalan! Mas Rio menyuruhnya pulang, karena takut dia hilang kalo mengikuti kami berdua terus. Bobi akhirnya pulang juga dengan kepala tertunduk. Aku heran dia mengikuti kami sejauh itu dan sempat khawatir dia tersesat atau hilang, tapi ternyata sepulang jalan-jalan dia sudah tertidur di muka kamarku.

Esoknya aku benar-benar harus pergi. Berpamitan pada semua orang yang kukenal. Dan juga pada Bobi. Dia membuntutiku sampai di dalam taxi dan terus berlari hingga ujung gang dan berhenti disitu. Dari spion kulihat dia tetap berdiri hingga aku tak bisa melihatnya lagi.
Percaya atau tidak, seumur hidupku baru kali ini aku menangis untuk seekor binatang. Anjing besar hitam yang semula tampak mengerikan itu. Aku benar-benar meneteskan air mata dan perih menyadari mungkin tak akan pernah bertemu Bobi lagi. Masih terbayang sosoknya yang berlari-lari kecil di belakangku tiap pagi menemaniku berbelanja. Ia menggonggong pada setiap anjing yang ditemuinya di jalan, seolah berkata, ” Jangan ganggu dia, atau kugigit dengan taringku ini!” dan anjing-anjing lain pun berhenti menyalak melihatnya.

Ketika Mas Rio sempat ke Bali, iseng-iseng aku bertanya apakah dia nggak mampir ke tempat kos kita yang dulu.
“Buat apa?’
“Pengen tahu Bobi sekarang gimana...”
Kata Mas Rio sih, mungkin Bobi wes nggak mengenali dia lagi, seperti biasa kalau ada orang asing, dia pasti akan menggonggong keras dan bersikap menyerang. Mungkin itu juga reaksinya saat bertemu dengannya.
“Mungkin juga dia sudah mati, Ma...”
Mendengar itu aku benar-benar sedih.
Bobi...Bobi...semoga dia masih hidup ya, satu-satunya binatang yang pernah kusayangi dan bila Tuhan mempertemukan kita lagi, moga-moga dia masih mengingatku...


read more

Curahan Hati - " Terlalu Pedih untukku karena….." By Denik Sisiliana

0 komentar

“ Kenapa lama sekali sih Man ? katanya jam 09 pagi berangkatnya, ternyata baru jam 02.30 siang kamu baru datang. Trus SMSku gak dibalas lagi…” Aku kesal dengan Iman yang selalu molor gak tepat waktu. Aku merasa kesal sekesal-kesalnya. Rasanya pengen memberi pengertian tapi marah – marah dengannya juga percuma … terlalu sering lagi… apalagi akhir-akhir ini, hampir tiap hari tengkar terus. Mending cari ngalah aja.

“ Aku masih bantu orang rumah. Aku rada nggak enak badan. Kufikir aku tidak perlu balas SMSmu karena pastinya aku datang kesini… jadi ya gitu… “ Kalimatnya gantung tanpa bersalah. Dia bicara sambil duduk di kursi letter L ku berwarna coklat muda. Tangannya memegang rokok wismilak kesukaannya. Matanya tidak berani menatapku. Cuma sekali-kali. Aku memandangnya sambil ingin menangis. Sebenarnya aku capek hari ini pergi ke Banyuwangi. Entah kenapa perasaanku resah. Antara malas pergi, kesal dengan situasi yang menurutku benar-benar membosankan, dan ada sesuatu yang entah kenapa dalam hatiku melarang untuk pergi kesana. Tapi perginya aku sama Iman adalah untuk kepentingan bisnisnya. Aku juga tidak enak kalau males mengantar dia berangkat. Soalnya dia sudah terlalu banyak membantuku dalam banyak hal. 5 tahun bukan waktu yang sebentar aku dan Iman menjalin kasih. Selama itu sudah banyak suka dan dukanya. Banyak halangan dan rintangannya hingga kami sering putus nyambung.

“ Jadi pergi gak ? siang – siang gini, apa kamu gak capek ? besok aja tah ? “ aku duduk didepannya dengan ekspresi kesalku. Sulit menyembunyikan rasa engganku. Tapi aku selalu begini, bersikap sok baik tapi aslinya aku setengah hati.
“ Ya ayo ! kamu keliatannya kepaksa gitu…” mata Iman memandangku tanda agak marah. Rupanya dia pintar membaca ekspresiku.
“ Ayo !!! gak usah ngerokok dulu Man ! perjalanannya kan jauh. Aku ambil helm dulu ya… “ aku bergegas masuk kedalam ruang tengahku untuk mengambil helm. Berpamitan sama ayah ibuku. Samar2 kudengar ibuku berpesan pada Iman,
“ Hati – hati Man ! gak usah ngebut ! gak usah keburu – buru… santai aja ! “
“ Iya bu… Assalamuaallaikum “

Hari menjelang sore ketika kudapati ban sepeda Iman kempes. Waktu itu aku dan Iman sudah berada di daerah pinggiran Banyuwangi. Mencari tukang tembel ban dan menemukan setelah menuntun sepedanya sejauh 10 meter. Sambil menunggu ban sepeda Iman ditembel, kami mengobrol ringan. Aku melihat wajahnya kepayahan, tapi dia keliatannya begitu antusias. Jaket berwarna putih tulang yang ia pakai terkesan lusuh. Aku tahu dia memaksakan diri pergi ke Banyuwangi hari ini. Hari Minggu yang panasnya sangat terik sementara terlihat di sisi langit sebelah sana terdapat awan hitam menggantung. Mungkin sebentar lagi hujan segera turun. Setelah semuanya bisa terkendali, kamipun melanjutkan perjalanan lagi.

Jam 20.35 malam aku mermasuki kotaku yang dingin. Sangat lelah karena selama perjalanan pulang tadi kami sering berhenti di pinggir jalan. Penyakit Iman kambuh lagi. Alhasil, kami beristirahat lumayan lama di masjid. Iman punya sesak nafas yang selalu dibantu tabung mini sebagai alat yang paling aman buatnya. Aku tidak bisa berkomentar apa-apa. Mungkin yang bisa kulakukan cuma memberi air mineral yang kubawa dari rumah. Iman sangat tidak manja. Kadang dia malu dengan sakit sesak nafasnya. Pernah waktu itu aku mengantar dia menebus obat di apotik. Iman bilang padaku,
“ Setelah aku punya penyakit begini, seharusnya kamu harus jaga-jaga mencari pacar lagi. Aku tidak mau kelak kamu menemani aku sambil mengurusi penyakitku. Kamu pasti akan segera bosan. Aku kasihan ma kamu… dan mungkin hanya kamu yang mampu bertahan dengan keadaanku …”
” Ngomong apa sih kamu ? semua bukan karena penyakit kan ? bilang aja kamu sudah bosan ma aku. Aku tidak masalahin kamu, apa yang terjadi ma kamu. Aku bukan cewek kemarin sore kenal ma kamu. Semua ini bukan masalah. Dan aku marah jika kamu merendahkan diri di depanku hanya karena sesakmu. Itu tidak etis ! kenapa aku yang bersemangat sedangkan kamu yang nggak. Ngomong apa sih kamu…?”

Iman selalu seperti itu. Dia selalu merasa kuat. Hampir tidak pernah dia mengeluh kepadaku. Malah sebaliknya, dia sebagai sumber pertahananku. Dia tempat aku berkeluh kesah. Kadang ku bertanya padanya, kenapa dengan wajahnya yang murung ? dia cuma bisa bilang “ Capek… “ setelah itu aku tidak berani bertanya lagi. Takut menambah masalah. Dia jarang bercerita panjang lebar tentang apa yang ada dalam hatinya. Dia jarang terbuka padaku. Kecuali kalau terpaksa. Tapi biasanya kalau dia ada masalah, dia tidak bercerita padaku. Kalaupun dia bercerita, setelah masalahnya sudah selesai. Dia tidak butuh bantuanku. Dia orang yang mandiri. Dia juga tidak suka merepotkan orang lain. Malah dia yang selalu dibutuhkan orang lain.

Akhir-akhir ini aku sering bertengkar dengannya. Yang dimasalahin adalah dia menyuruhku mencari pacar lagi. Aku merasa dia tidak mencintaiku lagi. Ada – ada yang bikin kami jadi ribut. Setelah itu dia hilang tidak ada kabar. Muncul kembali di rumahku tanpa penyelesaian. Ya seperti itulah Iman. Seharusnya dia tahu, aku membutuhkannya melebihi yang dia tahu. Semua bukan karena cinta, tapi karena dia adalah sosok yang sangat menghargai wanita. Dia memberiku banyak pelajaran yang berharga. Andai dia tahu seberapa pentingnya dia buat hidupku… aku jadi merasa mungkin Iman bosan padaku. Atau mungkin hubungan kami yang lama bikin dia jenuh. Jenuh ? entahlah…
“ aku pingin kopi. Buatkan ya Dik ! …” Iman menyalakan rokoknya di ruang tamu rumahku. Aku segera menuju dapur setelah bersua dengan orang rumah. Iman mengobrol dengan ibu dan bapakku. Sambil menunggu air masak, aku mencuci mukaku. Penat sekali… rasanya pingin segera merebahkan diri. Ibuku menghampiriku,
“ Gimana tadi ? Iman gak ngebut kan ? masalahnya udah selesai ? “ ibukku menungguiku yang sedang bikin kopi. “ udah kok …” aku menjawab singkat aja. Sepanjang malam itu Iman betah di rumahku, bercanda dengan bapakku. Aku pingin banget tidur. Tapi Iman masih ngobrol banyak. Jadi kuputuskan aku bikin kopi juga.

Jam 22.00 Iman berpamitan pulang. Sebelum itu, ia menawari ibuku membeli tahu lontong kesukaan ibu. Tapi karena waktu udah malam, jadi ibu menolak Iman membelikan tahu lontong kesukaannya.
“ Besok jam 11 siang aku kesini ya… kita beli pulsa bareng. Sambil cari es yuk ! “ Iman berkata padaku diatas sepedanya. Malam itu udara di luar sangat dingin. Tanah basah terkena hujan masih terasa baunya. Iman menghidupkan sepedanya. Sambil kemudian memegang tasbih yang ia lingkarkan di lehernya. Memandangnya sebentar kemudian memandangku,
“ hangat banget tasbih ini di leherku. Kamu mau ? “
“ Boleh… hehe besok aja wes. Ok Man ketemu besok ya ! aku ngantuk nih… besok gak pake molor lagi ya…”
“ Insyaallah, Assalamuallaikum…”
“ Walaikummsalam… “ jawabku sembari melihatnya berlalu di hadapanku. Entah kenapa aku tidak segera beranjak masuk kerumahku. Aku terus memandangi punggungnya sampai dia hilang di tikungan rumahku.
Dan entah kenapa Iman hari ini baik sekali.

04.00 pagi alarm HaPeku berbunyi. Aku dengan mata setengah melek terjaga dari tidurku. “… jangan lupa sholat subuh “ tulisan pesan yang diset dalam HaPeku itu mengingatkan aku akan Iman. Pasti dia nih yang udah ngeset alarm di HaPeku. HaPe pemberian Iman itu amat sangat berguna. Tapi sayang juga, walaupun Iman yang membelikannya, dia jarang sekali menghubungiku. Baik telepon ataupun SMS. Pernah aku marah padanya,
“ Man, fungsimu membelikan aku HaPe buat apa sih ? kamu gak pernah hubungi aku. Malah aku yang terus – terusan hubungi kamu. “
“ Yah kalau hubungi kamu biar enak…” jawabannya Cuma sedikit sambil menghisap rokoknya dalam – dalam. Tapi benar juga ya… dia diam-diam ngeset alarm di HaPeku. Dan segera kukirim SMS… “ Man aku udah bangun karena alarmmu tadi. Thanks ya… jangan lupa sholat juga ! “ setelah kutinggalkan pesan buat Iman, aku segera mengambil wudhu. Sebenarnya ngantuk berat, tapi mataku udah terjaga enggan untuk tidur lagi. Saatnya sholat nih…

Pagi itu dingin begitu menusuk tulang. Aku terus berada dalam selimut tebalku yang hangat. Setelah sholat subuh, aku beranjak tidur kembali. Dingin karena hujan turun tak henti-hentinya semalaman. Sesekali berhenti namun hujan lagi. Kulihat jamku menunjukkan angka 07.20 pagi. Ibuku mengobrol dengan bapakku di ruang tengah. Ngomongin banyak hal sampai aku kaget ada telpon di HaPeku. Kulihat nomor yang tidak kukenal. Sebenarnya malas kuangkat karena aku masih ngantuk, tapi telepon itu tidak henti-hentinya berbunyi,
“ Hallo…”
“ Assalamuallaikum… ni betul mbak ninie ? “ suara wanita separuh baya itu begitu asing di telingaku dan dengan enggan ku menjawab,
“ Walaikumsalam… Ya benar, ni sapa ya ? “
“ Saya tantenya Iman, mau kasih kabar kalau Iman meninggal dunia jam 06.00 pagi. Dia meninggal karena…” tak kudengar lagi orang itu ngomong apa. Aku terus berfikir, meninggal… meninggal dunia… Iman meninggal ? tidak mungkin ! semalam masih di sini. Malahan sekarang kita janji keluar bareng jam 11 siang. Itu tidak benar kan… itu hanya aku salah dengar kan…
“ mbak… saya tunggu ya di sini. Dimakamkan jam 12 siang. Assalamualaikum…”
Aku tidak bersuara sama sekali. Ku peluk erat –erat HaPe pemberian Iman itu. Aku juga tidak bisa menangis. Aku Cuma tertunduk, benarkah… benarkah… Iman… kamu jangan bercanda dong ! kamu udah janji sama aku kan… iman… hatiku menjerit pilu. Ibukku menghampiriku,
“ Siapa yang telpon ?”
” Tantenya Iman…” mataku masih kosong, belum bisa kupercaya…
“ Kenapa dengan Iman ? “
“ Ma, Iman meninggal… pagi ini dia meninggal… “ suaraku tersekat di tenggorokan. Ku lihat ibuku menangis tidak percaya. Menangis sejadi – jadinya. Ibuku kayak orang kesetanan… bapakku menenangkan ibuku sambil bertanya padaku yang tertunduk tak bergeming. Tuhan jawab tanyaku? Benarkah semua ini… benarkah kenyataan ini... benarkah Tuhan ? semua terjadi seperti mimpi. Aku berharap ini mimpi. Dan bangun dengan keadaan yang beda…

Aku melihat Iman. Dengan mataku sendiri, dia tertidur dalam damai. Bibirnya tersenyum sedikit. Tubuhnya mendingin. Kain kafan menyelimuti tubuhnya. Beberapa orang dikiri kanan Iman membaca surat Yasin. Aku duduk di sebelahnya. Iman… belum bisa kupercaya dan belum bisa ku ikhlaskan engkau begini… aku mencoba tidak menangis, karena kamu benci melihatku saat menangis. Dunia kami seolah menjadi beda. Aku menatapnya terus, berharap dia bergerak dan menghilangkan semua yang terjadi hari ini. Tapi Iman hanya diam… tak juga bernafas… tak juga tersenyum seperti yang biasa dia lakukan kepadaku. Banyak hal yang membuat perjalanan cintaku dengannya. Inikah akhirnya Man ? kamu tertidur dan tak mungkin kembali bangun…. Bagaimana kujalani hidupku tanpa kamu ? janji kamu akan menjemputku siang ini malah aku yang mendatangimu. Aku menemuimu tanpa nyawa. Jangan begini Tuhan… kumohon jangan begini. Jangan Kau beri semua kenyataan ini padaku Tuhan… aku tidak sanggup tanpanya. Aku benar-benar tidak sanggup tanpanya… banyak hal terjadi pada semua musim. Tapi hari ini mengalahkan musim-musim yang lain. Semuanya seperti hari akhir… perjalanan yang teramat panjang menjadi hilang hari ini. Kehilangan Iman seperti kehilangan separuh nyawaku sendiri. Aku jadi mengerti kenapa dia menyuruhku mencari pacar lagi. Dia tidak bisa menjagaku lagi. Selama ini dia bersikap acuh karena untuk diriku supaya bisa mandiri tanpanya. Semua yang dia lakukan adalah untukku sendiri. Aku tidak mengerti Iman, semuanya terlihat setelah dia pergi. Kenapa kesadaranku terlambat, saat kusadari semuanya yang Ia lakukan hanyalah untuk kemandirianku sendiri.

Siang yang kelabu, Mungkinkah Iman… semua ini adalah takdir saat kau merasa sudah tidak bisa menjagaku lagi… seharusnya aku lebih menjagamu… menjaga semua untukmu… maafkan aku Iman. Ku ikhlaskan kamu pergi. Tuhan lebih menyayangimu daripada semua yang ada di bumi ini. Aku yakin takdir Tuhan. Selama kau bersamaku 5 tahun ini, kamu adalah bahu sandarku, kami adalah cahaya hidupku, dan alasan aku bisa tertawa di duniaku ini. kamu adalah cahaya di rumahku. Kamu adalah pelangi bagi keluargaku. Semua merasa kehilangan. Hidup tanpa kamu adalah hidup yang kosong… Kamu bukan hanya segalanya, tapi kamu adalah satu-satunya. Semoga kau damai di surga… dan akan kujaga cinta kita selamanya… Man… semoga kau bahagia di surga. Aku mencintaimu… Aku berharap kamu masih mampu mendengar meskipun tak akan ada jawaban. Siang ini tak lagi sama, kalau boleh ku berhayal, Iman… mungkin siang ini kita minum es campur kesukaan kita setelah kita membeli pulsa. Ku berharap Iman mampu mendengar. Walaupun yang terdengar hanyalah desiran angin yang menerpa pohon bambu yang saling bergesekan. Man… hanya jasadmu yang meninggalkan aku… aku hanya mengantar kepergian jasadmu. Hatimu sudah sepenuhnya kau serahkan kepadaku… kita tidak berpisah… tidak!

Warna langit berbeda berlahan-lahan seolah ikut berkabung. Terlukis wajah Iman yang tertawa sambil memamerkan giginya yang rapi. Berdiri mematung disini sambil melihat orang tua Iman membelai tempat peristirahatannya yang terakhir. Bau harum bunga mawar menambah derita bagi yang kau tinggalkan. Aku ingin tidak mengingat semua ini. Sungguh sedikit bayangannyapun tak ingin kuingat. Aku ingin lupa!
Hari-hari tanpa Iman sungguh tidak berarti… tanpa Iman, apakah bisa kujalani hidup? Aku harus tetap hidup! Dengan penuh semangat… tapi hidup tanpa Iman? Itu… itu adalah sebuah kenyataan yang kejam… iya kan Man? Dipusara terakhir, aku memegang nisan yang bertuliskan namanya. Berharap Iman memanggilku kembali! Tapi kapan… semuanya hayalan dalam kedukaan yang teramat sangat. Kupanjatkan doa terakhir untuk Iman, seorang yang berarti bagi hidupku… karena Iman adalah kekasih, sahabat, kakak, pendengar, dan juga bagian dari hembusan setiap nafas yang mengalir di aliran darahku. Aku akan hidup dengan baik meskipun itu teramat sulit.
“ Iman, berbicaralah biar ku dengar, aku ingin kau memanggilku… lalu pergilah dengan tenang… “



In memoriam, 30 agustus 2004


read more

Cerpen - Sebatang Lilin By Dian Arie. S.O.

1 komentar

Aku bangun dengan kepala berat pagi ini. Saat terduduk di ranjang, tanpa sengaja bayangan tubuhku memantul di cermin, aku meringis. Oh my God, siapa orang itu ? Wajahnya kusam dengan kulit dibawah mata yang menghitam…aku tak mengenalinya. Coba…coba lihat rambutnya, betapa kusut dan berminyak. Pancaran matanya memancarkan kekosongan, kehampaan …

Aku terus terpaku oleh bayanganku sendiri, hingga beberapa detik kemudian aku terisak-isak. Yah…aku telah menjadi orang asing, bagi diriku sendiri. Menyedihkan! Perlahan aku bangkit dari tidurku dan berdiri di jendela. Oh tidak! Dari sini tidak begitu jelas, aku harus keluar menuju teras agar bisa melihatnya. Bergegas aku menyeret sandal bututku dan berlari-lari kecil keluar kamar kos.

Benar saja, aku melihatnya. Rasanya ingin menangis hanya karena melihatnya saja. Laki-laki itu hampir separuh mengisi hidupku, merayakan ulang tahunku, memelukku saat aku terluka, tertawa di saat-saat yang menyenangkan. Tuhan, betapa besar arti kehadirannya untukku.
Dari sini pun, rasanya aku masih bisa mencium wangi parfum yang selalu dikenakannya. Ya, dia selalu menyukai bau tajam menusuk itu, dan aku terkadang harus pura-pura menyukainya pula. Tapi, tak mengapa, saat dia pergi keluar kota, aku kerapkali tidur dengan botol bekas parfumnya dan dia hanya tertawa saat aku bercerita.

Lihatlah langkahnya yang selalu tergesa-gesa hingga dasinya berkibar-kibar tertiup angin. Dia masih seperti dulu, bangun bermalas-malasan padahal dia harus sampai ke kantor tepat waktu. Aku seringkali harus ikut tergopoh-gopoh menyiapkan semua keperluannya. Begitu tergesanya dia hingga secangkir teh hangat yang kusiapkan selalu lupa dia minum. Aku tak pernah bisa marah—tak pernah bisa padanya. Dia selalu menyiapkan senyuman terbaiknya dan sedikit bisikan maaf.

Begitu pun saat malam itu, dia pulang terlambat dan duduk dengan gelisah di ujung ranjang. Aku menatapnya tanpa prasangka. Seperti biasa jika tengah gelisah, dia berkali-kali mengusap-usap ujung dagunya. Aku tahu benar itu, aku telah mengenalnya bertahun-tahun, sejak kami masih kuliah hingga bekerja dan sudah menjalani tiga tahun pernikahan saat itu.

Jika kuingat sekarang, sebenarnya aku sering melihatnya dalam posisi kebingungan seperti itu. Kadang dia terlihat melamun saat makan siang dan mandi lebih lama dari biasanya. Tapi, kupikir tak ada persoalan, apalagi sejak setahun sebelumnya dia giat mengubah gaya hidup sehat dengan olah raga, sedikit berlatih yoga, makan makanan bebas lemak dan kami juga mengikuti terapi agar segera memperoleh momongan. Jadi kupikir dia kelelahan menjalani itu semua, belum lagi pekerjaan yang menyita seluruh waktunya.

Tapi malam itu ada yang berbeda. Biasanya dia kembali bersikap normal jika aku bertanya tapi, kali ini dia semakin gelisah dihadapanku. Aku ingat segera meletakkan laptop di pangkuanku.

“Ada apa, sayang ?” tanyaku.
Dia tidak menjawab, pandangannya tertuju pada lantai kamar. Setelah kudesak, akhirnya dia mengatakan suatu kalimat yang tak pernah kubayangkan akan kudengar seumur hidupku. Rasanya menyesal telah bertanya karena aku tak siap mendengar jawaban seperti itu.
”Vivi hamil, Ma…” katanya dengan suara setengah berbisik.
Aku mengernyitkan dahi dan sedikit terkejut mendengarnya,
”Oh ya ?” kataku kebingungan, ”Vivi teman sekantor Papa ?”
Aku mencoba mengingat-ingat dan memang aku mengenalnya walau tidak seberapa dekat. Aku pernah beberapa kali datang di acara kantor suamiku dan mengenal gadis itu di sana. Ia sangat ramah walaupun sedikit pendiam. Wajahnya biasa-biasa saja, tubuhnya tinggi, berambut pendek sedikit ikal dan setahuku ia belum menikah. Aku memandang suamiku lagi dan dia mengangguk lemah.
”Hamil? Tapi dia kan belum menikah?”
Lama suamiku membiarkan pertanyaanku menggantung di udara dan aku hanya bisa memandangnya dengan rasa penasaran yang tak bisa kusembunyikan.
“Dia—dia—mengandung anakku, Ma.” katanya lirih.

Aku tak ingat lagi yang terjadi kemudian. Oh tidak, tidak! Bukannya tidak ingat, tapi aku hanya tak ingin mengingatnya. Mereka sudah hampir dua tahun berselingkuh dibelakangku dan kehamilan Vivi membuatnya harus bertanggungjawab.

Kulalui proses perceraian yang menyakitkan. Sungguh tak kusangka menjadi janda di usia tiga puluh tahun. Saat meninggalkan rumah, aku hanya membawa pakaian, uang di bank hasil pembagian harta gono-gini dan laptop yang berisi tulisan-tulisanku.

Aku tak tahu harus kemana. Aku tak mungkin pulang ke rumah orang tua, walaupun mereka berkali-kali memintanya. Entah mengapa aku merasa ajakan itu tidak sepenuhnya tulus. Mereka adalah ‘orang baik-baik’— jika bisa dibilang begitu—penuh dengan kekerasan tekad menjaga nama baik dan perceraian sama sekali tak pernah mampir dalam sejarah keluargaku. Aku tak ingin melihat diriku sendiri telah menodai itu semua saat berhadapan dengan wajah-wajah mereka yang kecewa. Aku punya beberapa teman yang peduli tapi aku toh harus mengerti bahwa mereka memiliki hidup mereka sendiri…

Hingga aku terdampar di tempat kos ini. Tempat kos yang kupilih agar selalu bisa melihatnya setiap hari. Yah, tempat ini memang tak jauh dari rumahku dulu. Aku tak tahu mengapa aku berada di sini, tapi yang kutahu dengan pasti bahwa aku masih merindukannya, masih ingin memeluknya, masih ingin memilikinya lagi seperti dulu.

Dia adalah teman terdekatku, dia selalu ada di sekitarku, mendengarku bercerita sambil duduk merokok di pinggir jendela, memberiku semangat saat aku lelah dengan impian-impianku mewujudkan mimpi menjadi penulis, dia selalu menjadi sandaran saat aku kesepian dan ingin terbenam dalam perlindungan seseorang.

Kami berdua memilih rumah mungil itu karena sama-sama menyukai bentuk jendelanya yang kuno dan lebar serta teras berbentuk bundar di sisi rumah yang langsung menjadi tempat favoritnya setiap sarapan pagi. Aku ingat, kami harus berdebat keras menentukan warna yang tepat untuk ruang tamu kami yang mungil agar terkesan hangat. Akhirnya dia yang memenangkan perdebatan itu dengan memilih warna hijau lembut yang tidak begitu kusukai. Walaupun sedikit kesal, tapi aku puas juga karena dia membiarkanku menentukan beberapa perabotan rumah tanpa melalui perundingan sebelumnya.

Kini dia telah menjadi orang asing, dia benar-benar sudah pergi dari hidupku, disaat aku masih ingin dia ada. Tak! Segampang itulah jari pesulap dijentikkan dan setangkai bunga menjadi seekor kelinci. Hidupku telah hancur …

Aku terduduk dengan mata yang basah hingga jari-jari tanganku gemetaran.
”Kenapa, Mbak ?”
Aku mendongak. Gadis itu berdiri dengan handuk di bahunya dan memandangku cemas. Kalau tak salah, dia gadis dari kamar sebelah tapi aku tak tahu namanya.
“Tidak…” jawabku sambil bangkit dari dudukku, ”Nggak apa-apa kok, sedikit pusing aja.”
“Istirahat aja di kamar, Mbak. Ini khan lantai dua, bahaya.” katanya.
Aku tersenyum,
”Ya, terima kasih.” lalu berlalu meninggalkannya.

Aku sedikit berlari menuju kamar dan kemudian terduduk di ranjang dengan linglung. Yah…aku harus melakukannya sekarang! Sekarang! Empat jam lagi adalah waktu yang tepat. Tapi apa yang harus kulakukan sambil menunggu waktuku mati?
Meyakini bahwa segala penderitaan ini akan berakhir membuatku sedikit lega. Aku bangkit dan membongkar lemari. Aku harus memakai gaun terbaik, terindah dan laksana Juliet, aku akan terkapar di depannya. Dia akan menyesal telah membuatku begini, dia akan menyesal seumur hidupnya. Karena dia telah membunuhku...

Aku sudah mempersiapkan skenario ini setiap malam dan setiap memikirkannya, niatku mengakhiri hidup telah bulat. Semalam aku menelpon mama dan suaranya tetap dingin menyalahkanku,
”Coba kamu dengar omongan mama sejak dulu, Pram bukan pria baik-baik. Sejak dulu mama tahu itu! Sekarang coba lihat adik-adikmu sukses dan hidup bahagia karena mereka mau mendengar nasehat mama.” Omelnya dengan suara melengking seperti biasa.
Aku menutup telepon sambil menghela nafas. Sejak semula, aku tahu tak dapat berharap banyak dari mama. Aku bisa mengerti dia sangat kecewa karena aku tak pernah bisa menyelesaikan kuliah dan memilih menikah dengan Pram. Lama aku terpekur di depan telepon dan bingung harus menghubungi siapa lagi. Baru kusadari aku tak punya siapapun, menyedihkan.

Lama aku dalam posisi terpekur tanpa memikirkan apapun. Kutengok jam dinding, ya ampun, begitu lama waktu berjalan dan aku telah sampai pada detik-detik terakhir hidupku.
Aku bangkit dan bergegas mengenakan gaun itu. Sebentar lagi jam dua belas dan Pram—seperti biasa—akan makan siang di sebuah kedai makan di seberang kantornya. Aku bahkan hapal benar tempat yang biasa dia duduki, sebuah meja kecil di teras dekat trotoar jalan. Aku akan menghampirinya, mengatakan bahwa aku sangat mencintainya dan akan mengakhiri hidupku dihadapannya.
Kupandangi botol kecil dengan bubuk berwarna kelabu yang tersimpan di atas kaca rias. Dengan ragu kuambil dan segera kumasukkan dalam tas kecilku. Kamu akan menolongku mengakhiri semuanya…

Aku merias wajahku sedikit agar kematianku terlihat cantik. Kupakai baju favoritnya, atasan dengan leher rendah berwarna kuning lembut dihiasi bunga-bunga kecil dan rok selutut dengan renda-renda putih di bagian bawah. Setelah mengamati bayangan diriku sekali lagi di cermin, kulangkahkan kaki keluar kamar kos. Langkahku ragu sejenak tapi bayangan kegelapan masa depan membuatku melangkah lebih cepat.

Itu dia, kedainya masih sepi karena jam istirahat kantor masih lima belas menit lagi. Aku akan duduk disana, menunggu Pram datang. Aku duduk dengan tenang, memesan softdrink dan sedikit gelisah menunggunya. Detik demi detik bagai berjam-jam lamanya.
“Duduk disini, Nek.”
Aku menoleh. Tak jauh dari tempatku, duduk seorang nenek dengan badan agak bungkuk dengan seorang anak perempuan berusia kira-kira sebelas tahun. Mereka tampak akrab dan sang nenek mengangguk-angguk sambil mendengarkan cucu perempuannya bercerita. Aku kembali berpaling sambil memandang jam di tanganku sekali lagi. Ya ampun, sebentar lagi …
“Aku diejek gendut, Nek.” Suara gadis kecil itu terdengar lagi. Kali ini suaranya terdengar agak marah, ”Aku enggak mau sekolah lagi! Mereka semua jahat!”
Aku kembali menoleh ke arah suara itu.
“Kenapa ga mau sekolah?” tanya sang nenek dengan suaranya yang kecil dan lembut.
“Yah nenek, khan sudah dibilang kalo teman-teman mengolok-olok Caca gendut.”
“Karena itu gak mau sekolah?” tanya sang nenek sekali lagi.
“Nenek ga ngerti sih gimana rasanya.” ujar si cucu dengan suara perlahan, ”Mereka melihat Caca seperti alien aja, makhluk aneh.”
Sang nenek tertawa perlahan, lalu dia menyendokkan secuil es krim dihadapannya,
”Waduh enak sekali, ice cream rasa apa ya, Ca?”
“Aduh nenek, khan es krim stroberi.”
Sang nenek mengangguk-angguk, dan menyendokkan secuil lagi, kali ini berwarna coklat,
”Kalau yang ini?”
Si cucu memandang neneknya dengan pandangan kesal,
”Nek, itu es krim coklat.”
“Oh ya? bukannya coklat rasanya pahit? Ingat tidak waktu kita melelehkan coklat di dapur minggu lalu ?”
“Itu coklat asli, Nek, gak ada gulanya, nenek sendiri yang bilang khan?”
Si nenek tertawa lagi,
”Oh iya ya,” katanya, ”Kok bisa ya? sama-sama coklat tapi rasanya beda.”
Sang cucu tampak menggeleng-gelengkan kepalanya,
”Nenek aneh, ih.” katanya.
“Tau tidak,” kata sang nenek sambil mengelus-elus rambut sang cucu, ”Dari coklat kamu bisa belajar banyak hal, agar rasanya enak harus diberi sedikit gula atau krim, terserahlah apa saja, pokoknya rasanya tidak pahit lagi. Namun, walau kita berusaha agar tidak mendapatinya lagi, terkadang masih saja kita menemukan hal-hal yang tidak kita inginkan, seperti kopi yang kurang gula, buah yang asam, cake coklat yang keras seperti yang kita bikin minggu lalu, padahal kita membuatnya persis seperti yang tertulis di resep.”
“Tapi rasanya enak kok.” timpal sang cucu.
“Nenek pikir, kehidupan pun demikian, cucuku sayang,” ujar sang nenek, ”Kadang manis, kadang pahit, asam, pedas hingga kita mengeluarkan air mata dan kita gak bisa menghindarinya, walau telah berusaha keras menghindarinya. Dalam kue yang keras pun, ternyata rasanya enak, kopi yang pahit pun, kalau kita beri sedikit gula—hmm—rasanya sangat nikmat.” ujar sang nenek sambil memasukkan sesendok es krim ke mulutnya yang keriput, ”Bagaimana kalau sebaiknya, kau cari terus sesuatu untuk membuat hidupmu terasa manis? Bukan ide yang buruk, kan? Jika kamu tidak mendapatkannya dari orang lain, kenapa tidak kamu sendiri yang mencarinya, menciptakannya, bagaimanapun hidup harus terus berjalan, kamu harus melewatinya,”

Aku tertegun mendengarnya dan semakin tertegun saat suara yang kecil dan lembut itu kembali berkata,
”Apakah dengan bersembunyi semua akan masalah selesai? Tidak, cucuku sayang! Tak ada masalah yang benar-benar selesai bagi hati yang selalu putus asa, tak ada hidup yang menyenangkan bagi jiwa yang terus mengeluh, kamu harus tetap bangun setiap pagi, pergi ke sekolah dan menghadapi semua masalahmu,”
“Tapi—bagaimana cara menghadapinya, Nek? Mereka semua tidak menyukaiku!”
“Tidak, itu tidak benar, Caca sayang. Mereka hanya perlu lebih mengenalmu, bahwa meskipun kamu sedikit gendut tapi jika tersenyum, kau mampu menghangatkan hati siapa saja yang memandangnya, benar-benar senyuman bidadari ... “
“Ah Nenek bisa aja,” terdengar suara mungil itu sedikit malu-malu.
“Kamu juga tak pernah keberatan menolong orang lain, pandai masak, jago bikin kue…”
Sang cucu tertawa, “Cukup. Cukup, Nek...” katanya.
Tapi sepertinya sang Nenek tidak menghiraukannya.
“Tapi yang paling Nenek sukai adalah suaramu yang indah saat menyanyi—begitu bening, merdu,”
“Waduh kepala Caca mulai membesar, Nek.”
Mereka berdua terdengar tertawa riang. Kemudian terdengar lagi suara lembut sang Nenek, kali ini sedikit ada ketegasan didalamnya.

“Bagaimana mereka mengetahui itu semua, jika kamu menutup diri, meringkuk di pojok, bermuka masam dan jarang tersenyum? Bangun dan melangkahlah ke arah mereka, berbagilah kebahagiaan dan kebaikan-kebaikanmu, jika kamu diejek, tersenyumlah dan kuatkan hatimu, katakan pada dirimu sendiri bahwa, ‘aku mungkin gendut tapi aku tak pernah membuat nenekku kecewa, aku selalu membuat nenek tertawa, aku baik hati, aku tegar dan aku akan lebih kuat dari mereka yang mengejekku, jika mereka mengejek lagi, aku semakin kuat dan terus bertambah kuat hingga mereka belajar dari kekuatanku.’

”Wow, kedengarannya indah sekali, tapi Nenek tahu, bukan sesuatu yang mudah menjalaninya, terutama temanku yang bernama Melda, ia selalu melihatku dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan sikap menghina, bagaimana aku bisa tersenyum pada cewek jahat seperti dia? Aku ingin menghantamnya dengan tinjuku, atau menjambak rambutnya hingga botak. Rasanya itu lebih melegakan, Nek. Aku tak bisa melakukan sebaik yang nenek harapkan.”

“Tentu saja kau bisa meninjunya, menghantamnya ke dinding, menjambak rambutnya atau merontokkan giginya, jika kau mau! Yakinkah kamu penyelesaian seperti itu yang kau inginkan? Benarkah tidak ada jalan yang lebih baik? Menawarkan persahabatan yang manis?”

“Tidak, Nek! Kalau saja nenek tahu seperti apa dia...”
“Salahkah bila dicoba? Bukankah kamu belum mencobanya? Bukankah kamu belum membagi satu senyummu yang manis itu terhadapnya? Belum kan? Mungkin kau akan mendapatkan sesuatu yang tidak kau duga.”
Diam sejenak.
”Entahlah, Nek” terdengar suara sang cucu, sedikit mengambang.
Ia terdiam sejenak lalu bertanya lagi,
”Tapi Nek, mengapa sih Tuhan memberikan Caca tubuh begini gendut? Papa-mama yang selalu sibuk? Dan teman-teman di sekolah yang selalu mengejek? Kayaknya Tuhan nggak adil deh, masalah Caca begitu banyak.”
Sang nenek terlihat tersenyum,
”Caca Sayang, Jangan berburuk sangka terhadap Tuhan. Terkadang Ia memberikan suatu misteri untuk dipecahkan dan manusia harus menjalani takdirnya. Kadang melewati padang bunga yang harum berwarna-warni, hingga mata ini silau oleh keindahannya, atau melintasi danau biru yang tenang, teduh, hingga kita terlena oleh kedamaian dan kesejukannya, namun juga melewati sebuah gua yang gelap-gulita dan kita tak tau harus kemana,”
Sang nenek berhenti sebentar dan kali ini suaranya terdengar begitu kuat sambil memandangi sang cucu lekat-lekat,
”Tapi ingat satu hal ini,” katanya meyakinkan, ”Saat dimasukkannya kita dalam gua yang gelap-gulita, Tuhan meletakkan sesuatu di tangan kita...”
“Hm? Apa itu, Nek?”
“Itu—” ujar Si Nenek, ” Sebatang lilin dan sekotak korek api. Setelah itu, kamu sendirilah yang mencari jalannya. Apakah kamu memilih tetap dalam gelap, menangis, meratap, menyesali diri dan menyalahkan keadaan…” Suara sang nenek terhenti sejenak lalu terdengar lagi, ”Atau mulai menyalakan lilin, tapi ketakutan dan putus asa membuatmu berhenti melangkah, takut tersesat atau takut mencari, hingga akhirnya lilin habis menyala dan kamu masih berdiri mematung di tempat, kembali dalam kegelapan yang panjang—” Suaranya menggantung.
“Ya Nek ?” ujar sang cucu terdengar tak sabar.
“Atau kamu mulai nyalakan lilinnya, dan teruslah berjalan, terus berjalan ... Menangislah jika kau merasa sakit dan takut, karena kita ini hanyalah manusia yang tengah diuji, tapi jangan pernah berhenti melangkah, teruskan perjalanan dengan sebatang lilin menyala di tanganmu. Perjalanan ini akan terasa melelahkan, menyakitkan, tak apa ...tak apa... rasakan saja sakit dan lelah itu, tangisi kepedihannya tapi jangan terlalu larut olehnya, jangan padamkan semangat, ingatlah, bahwa ribuan orang pernah melintasi jalan yang sama gelapnya tapi mereka melaluinya juga. Jadi, teruslah berjalan, lalui perjalanan yang menyakitkan itu agar kamu semakin kuat dari waktu ke waktu, yakinlah bahwa lorong panjang yang gelap itu akan berakhir, kamu pasti akan menemukan sinar di ujung lorong jika kamu terus menyalakan harapan, tak berhenti melangkah, jangan pernah mengenal kata putus asa dan percayalah! Percayalah, Tuhan akan menolongmu jika kamu meminta pertolongannya dengan sungguh-sungguh.”

Aku meletakkan tanganku di bibir meja dengan gemetar dan air mataku jatuh tertumpah-ruah…Oh Tuhan, apa yang tengah kulakukan ini? Apa yang telah kulakukan?

Aku begitu limbung, alam seolah berputar di sekelilingku dan kusadari tubuhku terjatuh. Terdengar suara-suara orang disekelilingku, mataku begitu kabur oleh air mata tapi, aku melihatnya…aku melihat wajah itu … seraut wajah tua dengan keriput dimana-mana, matanya begitu damai dan teduh, dia pasti malaikat yang dikirim Tuhan untuk menyelamatkanku. Serta merta kupeluk tubuh renta yang tak pernah kukenal itu kuat-kuat sambil berbisik,
”Terima kasih…terima kasih.” Dan aku terus terisak-isak dalam pelukannya.

Toko buku yang berada di lantai dua sebuah mall terbesar di Jakarta terlihat lebih ramai dari biasanya. Beberapa orang terlihat mengantri sambil mendekap sebuah buku kecil bersampul kuning lembut. Aku menepuk-nepuk kedua pipiku, seperti biasa untuk meredakan ketegangan. Seorang pria berbaju rapi tersenyum dan mempersilahkanku duduk.

“Selamat sore,” sapaku pada seorang muda-mudi yang berada di urutan pertama, mereka tampak malu-malu sambil menyodorkan buku kecil itu dihadapanku.
”Terima kasih ya sudah membeli buku saya, ditulis buat siapa ?” tanyaku.
Sudah tujuh tahun sejak saat itu berlalu dan ini adalah buku keempatku. Rasanya hampir tak percaya, pada akhirnya aku bisa melihat bukuku dipajang di sebuah toko buku sebesar ini. Tentunya panjang sekali jalan hingga aku bisa duduk disini dan memberikan tanda-tangan pada mereka yang menyukai karya-karyaku.
Nenek Erni, yang kutemui bersama cucunya Caca di kedai siang itu, sudah tiada. Dia menutup mata dua tahun lalu karena sakit jantung kronis, namun kehangatan pelukannya masih kurasakan setiap aku mengenangnya.

Begitu hangat…hanya pelukan, tanpa kata-kata, namun aku seolah memindahkan semua beban ini dipundaknya yang rapuh. Saat terakhir aku melihatnya di rumah sakit malam itu, dia tersenyum saat melihatku dan bibir keriputnya mengucapkan terima kasih ketika menerima seikat bunga mawar putih kesukaannya. Badannya sudah sangat lemah hanya pandangan matanya yang masih terlihat menyiratkan keteguhan. Caca menangis terisak dalam pelukanku, aku hanya bisa menggeretakkan gigi dengan air mata meleleh ketika pada akhirnya kain putih itu menutupi wajahnya yang renta. Dia terlihat cantik, begitu damai…

Mengherankan, saat dia dimakamkan di pagi yang dingin, aku yang terakhir beranjak dari makamnya. Aku memandangi tanah bertabur bunga itu dan lebih merasa kehilangan dibandingkan siapapun. Dia telah pergi…tak kudengar lagi nyanyian-nyanyiannya, senda-guraunya dan kehangatan pelukan yang selalu kuterima setiap berpamitan pulang dari rumahnya yang asri. Aku telah menemukan kekuatanku, menemukan hidupku lagi dan kali ini dia telah pergi…benar-benar sudah pergi hingga aku merasa sunyi. Tapi, sebatang lilin telah dinyalakan dan aku siap untuk terus berjalan …
“ Mama !”
Aku mendongakkan kepala dan seraut wajah cantik Keisha, putriku tercinta, tengah tersenyum sambil menyodorkan buku bersampul kuning lembut itu dihadapanku,
”Aku juga penggemar buku-buku mama.”celotehnya, “Papa juga.” timpalnya lagi sambil menoleh pada Erick, suamiku, yang langsung menjawab, ”Tentu saja.”
Aku hanya bisa tertawa sambil membubuhkan tanda-tanganku di buku kecil yang disodorkan mereka. Dari jendela kaca, kulihat mulai gerimis. Titik-titik air memercik pada beningnya kaca. Aku tersenyum pada antrian berikutnya…




Finish

read more
 

Komentar

Postingan Terakhir