Home | Looking for something? Sign In | New here? Sign Up | Log out
Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts

Sunday, January 22, 2012

Konspirasi Dalam Kontroversi Kematian Osama Dan Putri Diana-Sebuah Teori

Sunday, January 22, 2012
0 komentar



Sudah lebih dari dua minggu sejak kematian Osama, banyak argumen-argumen yang bermunculan di dunia maya, kebanyakan bernada kontroversi yang intinya tidak mempercayai semua yang telah di lakukan Amerika mereka beranggapan apa yang di lakukan oleh Amerika tersebut hanyalah untuk pengalihan isu dll, dan ini ada lagi yang menurut saya cukup menghebohkan.

Bagi para penganut teori konspirasi mereka dengan sangat yakin menyatakan bahwa kematian Osama pada awal mei memang di sengaja, kenapa?. Karena pada bulan mei itulah bulan paling bersejarah bagi Perkumpulan Illuminati yang kebanyakan tokoh-tokohnya pada saat ini berasal dari negeri Paman Sam, dan yang pasti tewasnya Osama pada bulan mei di anggap sebagai “Kado Terindah dari Amerika untuk Anak Emas tercinta yaitu Israel yang merayakan hari kemerdekaannya pada 14 mei”.


Dulu saya bukan tipe yang gampang percaya pada aneka macam teori konspirasi yang banyak berkembang di tengah masyarakat.

Namun, terutama akhir-akhir ini saya agak berubah, kenapa? karena bahkan dalam negara demokrasi yang matang seperti Amerika, para pemimpinnya sepertinya menyembunyikan sebagian informasi dari rakyatnya.

Sementara dunia maya membuat kebohongan dan kerahasiaan dengan mudah diterabas.
Tetapi padatnya lalu lintas internet yang liar yang tidak bisa diklarifikasi kebenarannya membuat banyak pengguna internet akhirnya meninggalkan internet sebagai sumber informasi.
Bahkan orang seperti Julian Assange akan menyadari bahwa pengaruhnya hanya sementara dan terbatas.



Setelah melakukan pembantaian berdarah dingin terhadap Osama bin Laden, lalu kemudian diikuti pernyataan-pernyataan konyol pemerintah AS, timbul pertanyaan mengapa kita harus percaya pada pernyataan Gedung Putih atau pemerintah Inggris?

"Dia (Osama) tinggal di mansion mewah; tempat itu dipenuhi pasukan dan prajurit yang cukup untuk meledakkan seisi Pakistan. Eh!, nanti dulu, ternyata hanya ada satu orang yang membalas tembakan dari sebuah rumah sewaan itu; ternyata di dalam bangunan itu lebih banyak anak-anak ketimbang orang bersenjata. Dia (dilaporkan) menggunakan istrinya sebagai tameng hidup dan menembak ( SEAL Team 6 ) dari balik punggung istrinya; oh salah, ternyata tidak demikian..."

Versi mana sih dari informasi-informasi itu yang pantas dipercaya?

Di dunia maya, mereka yang pro Osama punya alasannya sendiri tetapi kebenaran telah menguap dan kita tidak akan pernah tahu. Apa lagi, kebanyakan orang sebenarnya tidak mempedulikannya.
Kita tahu apa yang terjadi.
Informasi resmi telah diolah dan diproses dengan harapan kita akan menelannya bulat-bulat tanpa banyak tanya.
Tetapi tidak begitu dengan beberapa orang yang mendadak menjadi pakar 'teori konspirasi', dua kata yang bisa dikonotasikan sebagai 'kegilaan, kejelekan, dan berbahaya'.

Di Uni Soviet dulu, para pemberontak yang disebut paling gila pasti akan dibungkam, lalu mulailah Barat mengecam negara komunis itu. Sekarang apakah mereka berhak mengecam penggunaan metode-metode gelap ala Alqaeda untuk mencuci otak kaum muda agar mau mengangkat senjata melawan Barat.



Jika saja Osama diadili oleh mahkamah internasional, kita mungkin akan menemukan campur tangan Amerika Serikat, demikian juga Arab Saudi, Afghanistan, dan Pakistan dalam proses yang menjadikannya seperti kita kenal sekarang.
Padahal sejauh yang saya tahu, aturan perang menyebutkan, mayat musuh sebaiknya dikembalikan kepada keluarganya untuk dimakamkan.
Tetapi menurut teori dari para ahli strategi Amerika, sebuah makam bisa membangkitkan gelora semangat generasi baru Islam.
Padahal lagi menurut saya, mayat yang tidak terlihat dan dibuang ke laut itulah yang justru akan mengobarkan aroma dendam yang lebih luas.

Mengapa sih harus menggunakan penembakan ala koboy? Mengapa sekarang? Ketika masalah sertifikat kelahiran Presiden Obama selesai, apakah dia juga harus membuktikan bahwa dia sebenarnya seorang Amerika sejati, seperti sisi gelap pada Sarah Palin?

Di sini kita punya beban Demokratis untuk menanyakan pertanyaan sulit ini kawan?

Juga mengenai Pernikahan kerajaan Inggris, William dan Kate, misalnya membuat saya jadi berpikir tentang Putri Diana, kematiannya yang tragis, dan bagaimana saya masih merasa dibohongi.



Lalu saya membaca sebuah film yang berkisah sekitar kematian Diana yang anehnya tak boleh ditayangkan di Inggris tetapi akan ditayangkan dalam Festival Film Cannes di Prancis.
Sutradara Keith Allen lewat filmnya 'Unlawful Killing' dengan berani menginvestigasi media, jaksa yang ditujuk pemerintah, dan penjelasan mereka tentang sebuah kebetulan yang aneh, bahwa 'sebelum meninggal Putri Diana sempat menyatakan ketakutan akan dibunuh dalam sebuah plot kecelakaan mobil'.

"Hanya sebuah kebetulan," kata mereka-mereka yang terhormat itu.

Jika ini hanya salah satu kasus untuk warga negara biasa, polisi pasti tidak akan percaya bahwa ketakutan korban itu 'kebetulan' belaka.
Lewat filmnya, Allen tengah memaparkan 'sebuah teori konspirasi yang bisa dibuktikan setelah kecelakaan itu'.

Kenapa di dunia yang sudah modern ini, penyelidikan seperti itu tidak diperbolehkan dan gagasan akan ketidakpercayaan publik telah dengan sukses dipinggirkan. Sehingga ketika kita ingin mempercayai sebuah plot atau manipulasi yang dirancang pemerintah AS atau Inggris, maka kita akan kehilangan kredibilitas. Tetapi jika mempercayai teori konspirasi pasti kita dianggap gila.

Lantas apakah kita harus menelan semuanya bulat-bulat?. Sebuah Ironi yang sangat menyesakan bagi kita.

Nah jika kita melihat sebentar ke belakang, ada beberapa peristiwa yang akan menunjukkan bagaimana Pemerintah yang dikatakan sangat matang demokrasinya dengan sangat baik menyembunyikan segala sesuatunya.

Selama perang dingin, para ilmuwan Amerika mengujikan sebuah serum 'kejujuran' pada beberapa orang untuk melihat apakah serum itu bisa membuatnya membocorkan semua rahasia yang mereka ketahui.

Di Alabama, sebagai bagian dari eksperimen itu, pria-pria keturunan Afrika-Amerika sengaja disuntik sifilis dari tahun 1932 hingga tahun 1972, sampai kejahatan keji itu terungkap pada 1979.

Setengah abad kemudian, rahasia penyiksaan kolonial Inggris terhadap para pejuang Mau Mau di Kenya ternyata menggunakan metode-metode sadis seperti memasukkan ular ke saluran pembuangan manusia dan pecahan kaca ke alat kelamin perempuan.

Ketika fakta ini pertama kali diungkap sejarahwan Caroline Elkins pada 2005, apa yang di dapatkannya, dia langsung diledek oleh para sejarahwan pro-pemerintah.

Sesungguhnya kita harus percaya, suatu hari nanti anak cucu kita, entah kapan, akan mengungkapkan kejahatan yang dilakukan oleh AS dan Inggris di Falujah, Irak atau mengapa para tahanan di Guantanamo sampai kehilangan akal sehat mereka?

Memang benar bahwa banyak negara di luar Barat lebih buruk praktek bernegaranya tetapi setidaknya mereka tidak mengklaim diri sebagai panutan Demokrasi.



Pada 1988, Katharine Graham, seorang wartawan surat kabar terkemuka AS, Washington Post dan anggota Dewan Hubungan Internasional AS, berpidato di depan dinas intelejen AS, CIA;


"Kita hidup dalam dunia yang kotor dan penuh bahaya. Ada beberapa hal yang tidak perlu dan tidak harus diketahui masyarakat luas. Demokrasi akan mekar ketika pemerintah bisa mengambil langkah yang sah untuk menjaga rahasia dan manakala media bisa memutuskan kapan mereka harus mencetak apa yang mereka ketahui."

Graham mungkin sudah meninggal tetapi ideologinya tetap hidup karena kita, masyarakat, membiarkannya.

Sampai kapan kita harus menghadapi semuanya ini. Ataukah sampai semuanya mati?


Jadikan setiap Postingan untuk ajang DISKUSI dan saling BERBAGI agar ilmu anda semakin berkembang dan berguna bagi orang lain.

Gunakan Kolom Komentar di bawah ini untuk menyampaikan PENDAPAT/ OPINI sebagai bentuk partisipasi untuk mencerdaskan bangsa.



Anda Akan Menyukai ini :


read more

Saturday, January 21, 2012

Drama Tentang Robohnya Kedigdayaan Nokia

Saturday, January 21, 2012
0 komentar
Temaram senja tampak tengah bersemayam diatas kompleks kantor pusat Nokia di kota Helsinki, Finlandia. Butiran salju tipis berjatuhan, menghampiri setiap sudut bangunan. Udara terasa dingin membeku. Di salah satu ruangan, para petinggi Nokia tampak duduk berdiskusi dengan penuh kesenduan. Semilir angin yang dingin membuat suasana ruangan itu terasa kian muram.

Para petinggi itu layak gundah gulana. Hari-hari ini kita tengah menyaksikan drama robohnya kedigdayaan Nokia dalam panggung industri ponsel global. Di banyak negara, pangsa pasar Nokia jatuh bertumbangan. Dalam kategori smartphone – salah satu kategori terpenting – produk Nokia terpelanting, dihantam barisan produk kompetitor.

Dan ini dia fakta yang terasa begitu pahit : dalam tiga tahun terakhir, harga saham Nokia anjlok hingga 80% (delapan puluh persen !!). Ini sama artinya dengan kehancuran. Para pelaku dan pengamat pasar terasa begitu galau dengan masa depan Nokia.

What went wrong? Bagaimana mungkin Nokia yang dulu begitu jaya kini mendadak menjadi pecundang?

Make no mistake. Tentu saja Nokia belum hancur. Produk-produknya masih tetap bisa bertahan. Di pasar Eropa, Nokia masih menjadi market leader, meski kian terseok-seok. Namun kondisi pasar di tanah air mungkin bisa menjadi ilustrasi. Semenjak serbuan masif Blackberry Mania, Nokia seperti kehilangan momentum (mampirlah ke pusat-pusat penjualan ponsel, dan kita tak lagi bisa menemukan neon sign bertuliskan Nokia. Haree gene, kok masih pake Nokia — begitu ledekan salah satu pedagang ponsel. Doh).

Sementara serbuan ponsel murah dengan fitur yang melimpah, ternyata mendapat sambutan positif yang mengejutkan dari masyarakat. Nokia mungkin tak pernah menyangka ponsel seperti Nexian, Ti-phone, Cross, dll itu bisa dengan mudah mengusik keperkasaannya.

Ada dua pelajaran penting yang bisa kita petik dari drama kejatuhan Nokia ini. Pelajaran pertama : sang raksasa pun bisa dengan mudah jatuh. Dengan kata lain, mempertahankan kedigdayaan ternyata bukan hal yang mudah. Kejayaan yang bisa terus dipertahankan itu ternyata bukan taken for granted. Itulah kenapa kita mesti memberikan applaus kepada perusahaan yang selama puluhan tahun tetap bisa menjadi leader seperti Teh Botol Sosro, televisi Sharp, printer HP, sepatu Bata, Bank BRI, sabun Lifebuoy, dan lain-lainnya.

Pelajaran kedua adalah munculnya apa yang bisa disebut sebagai innovator dilemma (tema ini diuraikan dengan amat mendalam oleh Clayton Christensen dalam buku best seller berjudul : The Innovator’s Dilemma: The Revolutionary Book that Will Change the Way You Do Business)

Inti dari innovator dilemma adalah ini : para penguasa pasar itu ragu melakukan inovasi lantaran takut produk inovasinya itu akan meng-kanibal atau menghantam balik produk utamanya yang masih laku di pasaran.

Dan dilema itu berkali-kali datang : dulu GM ragu mengembangkan mobil ukuran kecil lantaran takut justru akan “meng-kanibal” produk utamanya (akhirnya Toyota yang menang). Dulu Gudang Garam dan Djarum takut melakukan inovasi rokok mild lantaran takut akan menghantam balik produk utamanya (akhirnya Sampoerna yang datang). Dulu Honda ragu melakukan inovasi motor skutik (akhirnya Mio yang datang; untung Honda segera mengejar balik).

Dan Nokia ragu melakukan kolaborasi open source untuk mengembangkan aplikasi smart phone lantaran takut produk utamanya, Symbian, akan kehilangan pasar (dan akhirnya Android yang datang menghajar).

Innovator dilemma terjadi, bukan lantaran para market leader tidak bisa melihat arah pasar. Atau juga bukan karena mereka tidak mampu melakukan inovasi. Mereka tahu persis arah pasar dan sangat kapabel dalam melakukan inovasi. Hanya saja, mereka TAKUT melakukan itu lantaran khawatir hasilnya justru akan menghantam balik produk utama mereka yang masih laris manis di pasaran.

Dan saat mereka sadar bahwa ketakutan itu tidak beralasan, segalanya telah terlambat. Kompetitor yang sigap dan nothing to lose dengan segera mengambil kesempatan itu. Lalu meninggalkan sang incumbent (penguasa pasar saat itu) terpelanting ke pinggir arena.

Itulah dua pelajaran penting nan ringkas yang bisa kita petik dari drama kejatuhan Nokia.

Senja telah lewat, dan butiran salju kian deras mengalir di atap kantor pusat Nokia, di Finlandia. Rapat masih juga belum berakhir. Para petinggi Nokia itu harus segera mengambil solusi. Sebab jika tidak, kelak kita mungkin akan mengenal ponsel Nokia hanya dari museum dan buku-buku sejarah masa silam.

Jadikan setiap Postingan untuk ajang DISKUSI dan saling BERBAGI agar ilmu anda semakin berkembang dan berguna bagi orang lain.

Gunakan Kolom Komentar di bawah ini untuk menyampaikan PENDAPAT/ OPINI sebagai bentuk partisipasi untuk mencerdaskan bangsa.



Anda Akan Menyukai ini :


read more

Tuesday, January 17, 2012

Heboh! Bedah Perawan Bima Dua Hari

Tuesday, January 17, 2012
0 komentar
Tanggal 30 Desember tahun 2010 lalu, Grup Bima Institute, melalui akun facebook, heboh dengan diskusi gadis perawan di Bima. Diskusi berlangsung seru hingga tanggal 31 Desember 2010. Empat puluh sembilan komentar mewarnai dinding diskusi. Mereka inilah yang buka-bukaan soal keperawanan. Ada Ilham Abdul Rasul, ZhaNty Pha, Nurdin Micky, Ensyar Langgudu, Iwan Supartana, Thethe Icha MechieSelalu, Ibnu Abbas, Umar Ali, Rio Robby, Dayat Poetra M Nor, dan Mudda Bima. Bagaiman dinamika buka-bukaan soal perawan Bima? Jangan lewatkan liputan berikut!


Di awal, Ilham Abdul Rasul coba lempar umpan dengan pernyataan, “kata orang (sesumbar): sangat sulit menemukan gadis yang masih perawan di Bima. Tapi, sepertinya memang harus dilakukan survey deh supaya bisa dapatin hasil yang akurat.”


Karuan saja. Pernyataan Ilham mendapat tanggapan beragam, multiperspektif dari peserta lain. ZhaNty Pha, orang pertama beri tanggapan. Zha mendukung pernyataa Ilham. Bahkan ia mengatakan, tidak dilakukan survey pun bisa dibaca bagaimana kondisi disana. Ilham merasa geli kalau faktanya seperti itu. Soalnya, Bima yang oleh banyak kalangan dikenal masyarakatnya agamis, malah anak gadisnya tidak terjaga. “Kalau dulu waktu saya SMA, di Ngali sana, kalau mau pacaran sama seorang gadis, terlebih dahulu orang tuanya yang dipacarin, nggak tahu yah, sekarang kayak apa?” ungkap Ilham.


Ibnu Abbas menguatkan pernyataan Ilham. “Saya teringat dengan pemberitaan Koran Kompas dan Fajar (Sulsel) pada beberapa minggu lalu yang membeberkan hasil survey BKKBN pusat. Menurut suvey, hampir 50% remaja putri di kota-kota besar sudah tak perawan lagi. Berita dan hasil survey itu membuka pikiran kita. Ternyata sudah sejauh itu degradasi moral masyarakat hari ini. Namun, hal itu perlu kiranya dikaji sumber masalahnya bisa disebkan: Pertama, nilai kearifan lokal. Contoh: maja labo dahu yang berkembang di masyarakat sudah mulai tergeser. Kedua, ketidakmampuan lembaga pendidikan hari ini melakukan transformasi nilai-nilai kebajikan kepada masyarakat sebagai peserta didik. Ketiga, lemahnya kontrol orangtua. Keempat, tidak berfungsinya pendidikan informal (transformasi budaya di masyarakat). Dan Kelima, sikap politik pemangku kebijakan,” kata Ibnu.


Ups! Ada yang tersentil rupanya. Berbeda dengan ZhaNty, Ensyar Langgudu menolak keras pernyataan Ilham. “Sebagai wanita mada (baca: saya) sangat tidak sependapat dengan bahasa, bahwasannya sangat sulit menemukan wanita yang masih perawan di Bima,” ungkap Ensyar. Atas penolakan ini Ilham menjawab, “dek Ensyar, saya mengerti perasaan adik sebagai seorang wanita, tapi sekali lagi ini hanya sesumbar dan memang membutukan pembuktian, saya berharap berita itu sama sekali tidak benar. Karena jujur, saya sendiri punya adik perempuan di Bima sana. Sebagai kakak, saya juga ngeri dengarnya.” Lantas Ensyar menambahkan, “mungkin memang sebagian kecil wanita seperti itu. Tapi, bukan berarti semua orang bisa berpendapat kalau wanita di Bima banyak yang sudah tidak perawan. Insya Allah atas didikan dan kasih sayang ita doho sebagai kakak, kami selaku sebagai adik bisa manjaga diri.”


Perlukah Tes Keperawanan?

 
Sulastri sempat membatah keras pernyataan Ilham. Ilham menjelaskan bahwa tadinya pernyataannya akan membuat semua gadis Bima jengkel bahkan marah, tapi ia bersyukur karna Sulastri juga punya kegelisahan yang sama seperti dirinya dan kebanyakan orag Bima yang lain.

Kali ini Ilham semakin usil. Ia mengusulkan, langkah paling efektif menurutnya, ia hendak mengusulkan pada Bupati Bima, agar saat penerimaan CPNS bagi masyarakat yang mengaku lajang dilakukan tes keperawanan, laiknya instansi lain yang melakukan tes bebas narkoba. “Ini hanya langkah awal. Selanjutnya bupati keluarkan kebijakan melalui Kadis. Pendidikan dengan mewajibkan siswa puteri yang muslim untuk mengenakan jilbab. Memang bukan jaminan. Tapi, paling tidak, dia akan terbebani dengan jilbabnya. Kalau dia tidak menjaga pergaulannya. Dan saya kira masih banyak lagi yang lain,” tutur Ilham.


Nurdin Micky sempat meragukan metode seperti apa yang akan digunakan untuk tes keperawanan. Ilham hanya mengatakan banyak metode dan pendekatan ilmiah.


Tiba-tiba, Iwan Supartana, dengan foto profil anak kecil nan lugu muncul. Ia bilang “Hmm…rupanya rubrik buat orang dewasa, aku masih bocah, no coment ah, alnya ulama aja nggak ngurus yang demikian, hih…maaf maaf kate. Mene ku tehe….” Di balik keluguan Iwan sebetulnya meninggalkan kata-kata kritis yang sangat tajam. Atas pernyataan ini, Nurdin Micky malah menanggapi dengan nada guyon, “ya anak kecil mending nete aja biar cepat besar..” Namun Ilham mencoba jawab, “Bung Iwan, tadinya saya hanya lempar bola, dan saya bersyukur ada juga adik-adik kita yang tersinggung. Maksudku Bima nggak buruk-buruk amat.”


Kali ini, Thethe Icha MechieSelalu muncul dengan penolakan yang cukup keras. Thethe tidak sependapat dengan pernyataan Ilham di atas yang menyatakan cek keperawanan saat tes CPNS. Thethe malah mempertanyakan, apa ada yah, alat untuk mengetahui keperawanan seseorang. Thethe merasa, itu hak individu untuk mengakui perawan atau tidak perawan. Untuk hal seperti ini Thethe merasa perlu adanya kesadaran individu. Kita ketahui juga bagaimana keadaan Bima sekarang, semakin modern dan masyarakat Bima juga lebih mementingkan gengsi. “Kanda Micky, saya tidak sepakat juga dengan pernyataan, seharusnya itu anak kecil yang dididik, dibina dan diberikan pencerahan,” ungkap Thethe menambahkan.


Atas pernyataan Thethe, Ilham menanggapi, “dek Thethe, saya sudah menduga hal ini banyak yang tidak setuju dengan pernyataan saya. Semua itu benar, hak masing-masing individu, cuma kalau benar ada syarat kayak gitu, kan pasti tambah takut adik-adik kita untuk berbuat yang nggak wajar. Bahwa, ada modernisasi yang ikut mempengaruhi, iya. Saya juga setuju, tapi modernisasi tanpa nilai budaya lokal saya malah khawatir bablas adikku.”


Umar Ali, kali ini menanggapi ringan. Umar mengatakan, pembahasannya adalah pola hidup terindikasi terjadi seks bebas yang meresahkan dikalangan kaum muda Bima. Terlalu dini menyimpulkan apalagi dengan melihat kondisi sosial pergaulan dan referensi umum yang terjadi di kota-kota besar lain. “Pergaulan bebas, lebih terbuka, seks bebas, dan lain-lain, berbeda makna. Maka survei boleh-boleh saja, tapi prosentase sosialnya belum sebanding. Siwe Mbojo tentu masih sangat menjaga hak kepribadian,” kata Umar.


Ibnu Abbas menanggapi Umar. “Pak Umar, sip, adinda setuju. Dalam hati kecil kami masih yakin bahwa Bima tidak seperti itu. Namun, itu perlu menjadi bahan pertimbangan agar bisa diantisipasi sedini mungkin. Tak perlu menunggu dari pemerintah, kita mulai saja dengan kesadaran kita masing-masing. Kemudian kita menyadarkan orang terdekat kita, sebagaimana tertuang dalam pesan-pesan suci, ‘jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka’,” ungkap Ibnu diplomatis.


Rupanya Thethe Icha MechieSelalu belum puas. Ia menambahkan “ Masih jauh beda juga model pergaulan Daerah Bima dengan kota-kota besar lainnya. Tidak bisa dibandingkan. Yang saya lihat sebenarnya pergaulan di daerah kita hanya sebatas ikut-ikutan saja,” kata Thethe dengan tulisan gaul, hingga sedikit merepotkan editor menafsirkan kalimat demi kalimat.


Menjawab Thethe, Ilham berusaha diplomatis, “dek Thethe, survey itu tidak hanya dengan melakukan wawancara terhadap sasaran, kan bisa dilakukan wawancara pada anak lelaki. Dan bukan hanya wawancara ada juga pendekatan lain misalnya medis. Ada kok dek, alat untuk nguji keperawanan, jangankan itu orang suka bohong aja ada alat deteksi, namanya lie detektor.”


Tantangan dan Harapan

Nurdin Micky mengatakan, “saya kira kini saatnya kita bangkit dari keterpurukan, terutama dari keterpurukan moral dan mental. Boleh pacaran tapi tak perlu dicoba-coba yang belum saatnya. Ibarat mangga kalau dimakan sbelum matang rasanya asam, tapi kalau udah matang rasanya sungguh nikmat. Prinsib maja labo dahu adalah prinsip yang mutlak dimiliki kita, orang Bima. Sehingga selalu terkontrol dalam pergaulan. Majulah terus putra putri Bima….!!!” Dijawab Ilham, “Insya Allah adik. Sejauh kita masih punya keyakinan untuk mempertahankan budaya dasar masyarakat dan merubah keadaan hari ini pastilah ada jalannya. Ilham menambahkan, “dinda Nurdin, saya setuju, tapi usul saya, saya pikir pemaknaan dari prinsip hidup maja labo dahu itu perlu dilakukan rekonstruksi agar pemahamannya tidak menjadi bias. Prinsip ini memang telah mengakar dalam setiap individu kita, orang Bima. Tapi, tidak sedikit yang mengalami reduksi. Maja dalam pengertiannya, yakni malu dalam konteks ini malu yang dimaksud adalah terhadap perbuatan yang salah. Dahu yang berarti takut, mengandung arti takut untuk berbuat dosa. Prinsip ini merupakan perwujudan dari konsep taqwa dalam Al-Qur’an.”


Zha lantas mengajak, sebagai kakak atau pun orangtua bagi adik-adik, anak Bima yang bermoral, marilah sama-sama memegang teguh bagaimana Bima dulu yang subhanallah, karakteristiknya tak bisa dimiliki oleh komunitas lain. Lalu, Zha menambahkan, apapun metode atau cara yang di pikirkan semoga bisa membangun Bima lebih baik, amien. Ditambahkan pula, sebagai putri Bima yang jauh, mencari ilmu ingin sekali membawa ilmu yang bermafaat buat Bima tercinta. “Walau terkadang hati kecil saya menangis melihat kondisi pergaulan adik-adik disana. Kalau pulang, jadi tolong sebagai ayah bagi kami, berikan yang terbaik dan lebih tegas lagi,” ungkap Zha penuh harap.


Ilham berharap, ide yang kecil bisa memberi manfaat kendati hasilnya pun agak kecil, tapi kalau boleh berumpama, ide kecil ini ibarat lilin ditengah lorong yang sangat gelap, sekecil apapun sinar lilin itu pastilah memberi manfaat bagi setiap orang yang melewati lorong tersebut.


Melihat dinamika diskusi yang semakin hangat, Nurdin Micky, salah satu inisiator Bima Institute mengambil kesempatan. “Saya pernah disindir oleh teman-teman di kampus. Katanya mahasiswa Bima itu nggak bisa bersatu, nggak bisa berdiskusi, sukanya berkelahi antar sesama. Tapi, melihat antusias dan semangat berdiskusi yang kita lakukan lewat grup ini, maka mulai sekarang saya berani berteriak sekencang-kencangnya, bahwa kami orang Bima bisa bersatu, walau sering beda pendapat dalam forum diskusi….!!” ujar Micky.


Tikungan Tajam di Akhir Putaran

Ibarat lomba balap, tiba-tiba Rio Robby melejit kencang dari belakang. Rio mengatakan, “Bung Ilham, salut dengan keprihatinan Anda. Tapi, tetap saja tidak menyentuh akar permasalahannya. Menurut saya, perempuan adalah korban, korban dari brutalnya nafsu laki-laki. Jangan lupa sesuatu menjadi ada karena adanya permulaan. 100% saya yakin, jika saat ini ada permpuan Bima sudah tidak perawan itu karena laki-lakinya yang bejat. Terlalu jauh jika sampai pada harus adanya tes keperawanan, karena sebenarnya banyak faktor yang bisa saja membuat seorang perempuan sudah tidak memiliki keperawanan. Jangan naif menyikapi hal ini.


Rio menmbahkan, “Sulastri, Anda jangan menjadikan pergaulan sebagai faktor penentu bahwa seorang perempuan dikatakan sudah tidak perawan. Dasarnya kurang kuat. Seharusnya Anda protes bahwa sebagai perempuan Anda sudah dilanggar hak-haknya. Harusnya Anda balik bertanya kepada Bung Ilham. Kok cuma perempuan yang dites, laki-laki kok nggak? Kalau ternyata banyak juga laki-laki yang sudah tidak perjaka, lantas apa bedanya dong! Harusnya laki-laki diberikan predikat yang sama, agar kekhawatiran itu tidak hanya menjadi milik perempuan, dan keegoisan laki-laki menilai perempuan.


Dayat Poetra M Nor juga tak kalah tajamnya. “Kanda ilham, sebenarnya melakukan survey seperti itu sma halnya dengan membuka aib seseorang, dan membuka aib seseorang ada pasalnya loh! Cukup Tuhan (Allah) dan dia saja yang tau. Dan memang, ada sih alat untuk mengetahui perawan/tidaknya seseorang. Tapi ,coba dibayangkan ketika kemaluan seseorang di tes pakai alat tersebut. Waduh sadis sekali. Seperti yg dikatakan Bang Rio itu benar sekali, kenapa laki-laki juga tidak di tes? masa hanya perempuan saja sih, yang kena dampaknya. Sungguh tidak adil itu. Kalaupun tujuan survey itu hanya untuk memperingatkan kepada generasi penerus, tidaklah perlu tes seperti itu Kanda. Kalau memang ingin mengingatkan kepada generasi penerus akan dampaknya perbuatan itu, cukuplah diadakan kegiatan seperti pengajian, ceramah selama 1/2 hari dalam 1 minggu di sekolahnya. Bahkan bila perlu panggil itu ustadz/da’i untuk mewakili ceramah tersebut,” demikian papar Dayat.


Dan, saudara-saudara! Kali ini, peserta diskusi tiba-tiba nyelonong pada saat pembicaraan hampir ditutup. Mudda Bima, semakin memperkuat penolakan pernyataan Ilham. “Sumbang saran ndaiku yang tak begitu panjang juga tak begitu pendek, tak begitu besar juga tak begitu kecil. kelamin adalah urusan masing-masing yg tak perlu, tak pantas, tak bermanfaat, dan tak masuk domain publik. seperti halnya kesengsar…aan dan kenikmatan yg ditimbulkan oleh bagian tubuh yg satu ini toh mjd tanggungan masing-masing. Apalagi rencana pemerintah akan mengeluarkan UU tentang keperawanan, wuih, sadis amat Negara, ingin masuk samapai ke wilayah-wilayah kemaluan rakyat. Padahal, urusan publik, sampai akhir zaman sepertinya nggak kelar-kelar. ‘Urus saja moralmu, urus saja akhlakmu….peraturan yg sehat yg kamu mau,’ kata iwan fals,” kata Mudda.


Seakan tak puas, Mudda kembali dengan pernyataan, “Saya panjangin dikit, heheheh…..dan ingat! Apa yang terjadi pada kelamin tidak pernah berbanding lurus dengan akhlak, moral, atau kemaslahatan bersama. Sebab kelmin tidak pernah ganguin siapa-siapa. Perjaka atau perawan adalah inseden yang terjadi pada bagian tubuh. Sama seperti ketika tangan kita terluka atau kaki kita tergores. Bukan semata-mata karena bersentuhan dengan orang lain. Dan, masalah per-per yang saya sebutkan, berbeda konteks ketika membicarkan seks di luar nikah. Jadi, pemerintah jangan “gila” deh! Main tes-tes segala. Apalgi urusan tes-tes ini jadi lahan korupsi, ssssstttt! (rahasia umum). Lebih baik kita tes kekayaan pejabat dgn pembuktian terbalik. Misalnya; berapa pengasilan normal seorang bupati setiap bulan, kalikan setahun. Seluruh pejabat berlaku hal yang sama. Kalau ada kelebihan, boleh diambil untuk disumbangkan ke masjid, panti asuhan, dan ke tempat-tempat yang memang butuh dan perlu. Begitu! Jangan kelamin orang diobok-obok.”


Wow, ternyata masih ada sisa-sisa greget yang mau dituntaskan oleh Mudda. “Wah, keganggu lagi, neh. Tiba-tiba terlintas dalam pikiran saya; ini ada logika sederhana. Kenapa dinamakan “alat kelamin”. Artinya kemin hanyalah sebuah alat. Mobil adalah alat transportasi, ketika sebuah mobil menabrak orang, yang diadili tentu sopirnya. Nggak pernah kan mobil yg dihukum! Atau dihadirkan di hapan majelis hakim yang “konon” mulia! Artinya tes ke-per-per (perjaka dan/atau perawan) salah alamat. Untuk urusan ini, paling-paling kita hanya bisa bilang, ‘Jangan Bermain-main dengan Kelaminmu’ sebagaimana judul cerpen Djenar Maesa Ayu. Dan anjuran saya, mari kita kembalikan kelamin pada fungsi yang sesungguhnya. Kita manfaatkan sebaik-baiknya, sesuai dengan SOP (Standar Operasional Prosedur) dari Tuhan. Kita jaga dan kita rawat dia, sebagai tanda syukur atas karuniaNya.


Di akhir diskusi, 31 Desember 2010 jam 14:49, terhadap gemuruh penolakan dari peserta diskusi lain, Ilham Abdul Rasul menutup diskusi dengan mengatakan, ”terima kasih semuanya. Saya bersyukur teman-teman saya, alias saudara-saudara saya, orang Bima ini, masih sangat peduli dengan urusan moral, secara jujur Bima alias Mbojo itu dikenal orang karna moralnya bagus, kalau itu juga hilang mungkin Bima juga tinggal nama dan hanya akan menjadi kenangan. Wallahualam bissawab.” (Editor: Mudda Bima).

Sumber :  http://bimaqta.wordpress.com


Jadikan setiap Postingan untuk ajang DISKUSI dan saling BERBAGI agar ilmu anda semakin berkembang dan berguna bagi orang lain.

Gunakan Kolom Komentar di bawah ini untuk menyampaikan PENDAPAT/ OPINI sebagai bentuk partisipasi untuk mencerdaskan bangsa.



Anda Akan Menyukai ini :


read more
 

Komentar

Postingan Terakhir