Tanggal 30 Desember tahun 2010 lalu, Grup Bima Institute, melalui akun facebook, heboh dengan diskusi gadis perawan di Bima. Diskusi berlangsung seru hingga tanggal 31 Desember 2010. Empat puluh sembilan komentar mewarnai dinding diskusi. Mereka inilah yang buka-bukaan soal keperawanan. Ada Ilham Abdul Rasul, ZhaNty Pha, Nurdin Micky, Ensyar Langgudu, Iwan Supartana, Thethe Icha MechieSelalu, Ibnu Abbas, Umar Ali, Rio Robby, Dayat Poetra M Nor, dan Mudda Bima. Bagaiman dinamika buka-bukaan soal perawan Bima? Jangan lewatkan liputan berikut!
Di awal, Ilham Abdul Rasul coba lempar umpan dengan pernyataan, “kata orang (sesumbar): sangat sulit menemukan gadis yang masih perawan di Bima. Tapi, sepertinya memang harus dilakukan survey deh supaya bisa dapatin hasil yang akurat.”
Karuan saja. Pernyataan Ilham mendapat tanggapan beragam, multiperspektif dari peserta lain. ZhaNty Pha, orang pertama beri tanggapan. Zha mendukung pernyataa Ilham. Bahkan ia mengatakan, tidak dilakukan survey pun bisa dibaca bagaimana kondisi disana. Ilham merasa geli kalau faktanya seperti itu. Soalnya, Bima yang oleh banyak kalangan dikenal masyarakatnya agamis, malah anak gadisnya tidak terjaga. “Kalau dulu waktu saya SMA, di Ngali sana, kalau mau pacaran sama seorang gadis, terlebih dahulu orang tuanya yang dipacarin, nggak tahu yah, sekarang kayak apa?” ungkap Ilham.


Perlukah Tes Keperawanan?

Sulastri sempat membatah keras pernyataan Ilham. Ilham menjelaskan bahwa tadinya pernyataannya akan membuat semua gadis Bima jengkel bahkan marah, tapi ia bersyukur karna Sulastri juga punya kegelisahan yang sama seperti dirinya dan kebanyakan orag Bima yang lain.

Nurdin Micky sempat meragukan metode seperti apa yang akan digunakan untuk tes keperawanan. Ilham hanya mengatakan banyak metode dan pendekatan ilmiah.
Tiba-tiba, Iwan Supartana, dengan foto profil anak kecil nan lugu muncul. Ia bilang “Hmm…rupanya rubrik buat orang dewasa, aku masih bocah, no coment ah, alnya ulama aja nggak ngurus yang demikian, hih…maaf maaf kate. Mene ku tehe….” Di balik keluguan Iwan sebetulnya meninggalkan kata-kata kritis yang sangat tajam. Atas pernyataan ini, Nurdin Micky malah menanggapi dengan nada guyon, “ya anak kecil mending nete aja biar cepat besar..” Namun Ilham mencoba jawab, “Bung Iwan, tadinya saya hanya lempar bola, dan saya bersyukur ada juga adik-adik kita yang tersinggung. Maksudku Bima nggak buruk-buruk amat.”

Atas pernyataan Thethe, Ilham menanggapi, “dek Thethe, saya sudah menduga hal ini banyak yang tidak setuju dengan pernyataan saya. Semua itu benar, hak masing-masing individu, cuma kalau benar ada syarat kayak gitu, kan pasti tambah takut adik-adik kita untuk berbuat yang nggak wajar. Bahwa, ada modernisasi yang ikut mempengaruhi, iya. Saya juga setuju, tapi modernisasi tanpa nilai budaya lokal saya malah khawatir bablas adikku.”

Ibnu Abbas menanggapi Umar. “Pak Umar, sip, adinda setuju. Dalam hati kecil kami masih yakin bahwa Bima tidak seperti itu. Namun, itu perlu menjadi bahan pertimbangan agar bisa diantisipasi sedini mungkin. Tak perlu menunggu dari pemerintah, kita mulai saja dengan kesadaran kita masing-masing. Kemudian kita menyadarkan orang terdekat kita, sebagaimana tertuang dalam pesan-pesan suci, ‘jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka’,” ungkap Ibnu diplomatis.
Rupanya Thethe Icha MechieSelalu belum puas. Ia menambahkan “ Masih jauh beda juga model pergaulan Daerah Bima dengan kota-kota besar lainnya. Tidak bisa dibandingkan. Yang saya lihat sebenarnya pergaulan di daerah kita hanya sebatas ikut-ikutan saja,” kata Thethe dengan tulisan gaul, hingga sedikit merepotkan editor menafsirkan kalimat demi kalimat.
Menjawab Thethe, Ilham berusaha diplomatis, “dek Thethe, survey itu tidak hanya dengan melakukan wawancara terhadap sasaran, kan bisa dilakukan wawancara pada anak lelaki. Dan bukan hanya wawancara ada juga pendekatan lain misalnya medis. Ada kok dek, alat untuk nguji keperawanan, jangankan itu orang suka bohong aja ada alat deteksi, namanya lie detektor.”
Tantangan dan Harapan
Nurdin Micky mengatakan, “saya kira kini saatnya kita bangkit dari keterpurukan, terutama dari keterpurukan moral dan mental. Boleh pacaran tapi tak perlu dicoba-coba yang belum saatnya. Ibarat mangga kalau dimakan sbelum matang rasanya asam, tapi kalau udah matang rasanya sungguh nikmat. Prinsib maja labo dahu adalah prinsip yang mutlak dimiliki kita, orang Bima. Sehingga selalu terkontrol dalam pergaulan. Majulah terus putra putri Bima….!!!” Dijawab Ilham, “Insya Allah adik. Sejauh kita masih punya keyakinan untuk mempertahankan budaya dasar masyarakat dan merubah keadaan hari ini pastilah ada jalannya. Ilham menambahkan, “dinda Nurdin, saya setuju, tapi usul saya, saya pikir pemaknaan dari prinsip hidup maja labo dahu itu perlu dilakukan rekonstruksi agar pemahamannya tidak menjadi bias. Prinsip ini memang telah mengakar dalam setiap individu kita, orang Bima. Tapi, tidak sedikit yang mengalami reduksi. Maja dalam pengertiannya, yakni malu dalam konteks ini malu yang dimaksud adalah terhadap perbuatan yang salah. Dahu yang berarti takut, mengandung arti takut untuk berbuat dosa. Prinsip ini merupakan perwujudan dari konsep taqwa dalam Al-Qur’an.”

Ilham berharap, ide yang kecil bisa memberi manfaat kendati hasilnya pun agak kecil, tapi kalau boleh berumpama, ide kecil ini ibarat lilin ditengah lorong yang sangat gelap, sekecil apapun sinar lilin itu pastilah memberi manfaat bagi setiap orang yang melewati lorong tersebut.
Melihat dinamika diskusi yang semakin hangat, Nurdin Micky, salah satu inisiator Bima Institute mengambil kesempatan. “Saya pernah disindir oleh teman-teman di kampus. Katanya mahasiswa Bima itu nggak bisa bersatu, nggak bisa berdiskusi, sukanya berkelahi antar sesama. Tapi, melihat antusias dan semangat berdiskusi yang kita lakukan lewat grup ini, maka mulai sekarang saya berani berteriak sekencang-kencangnya, bahwa kami orang Bima bisa bersatu, walau sering beda pendapat dalam forum diskusi….!!” ujar Micky.
Tikungan Tajam di Akhir Putaran

Rio menmbahkan, “Sulastri, Anda jangan menjadikan pergaulan sebagai faktor penentu bahwa seorang perempuan dikatakan sudah tidak perawan. Dasarnya kurang kuat. Seharusnya Anda protes bahwa sebagai perempuan Anda sudah dilanggar hak-haknya. Harusnya Anda balik bertanya kepada Bung Ilham. Kok cuma perempuan yang dites, laki-laki kok nggak? Kalau ternyata banyak juga laki-laki yang sudah tidak perjaka, lantas apa bedanya dong! Harusnya laki-laki diberikan predikat yang sama, agar kekhawatiran itu tidak hanya menjadi milik perempuan, dan keegoisan laki-laki menilai perempuan.

Dan, saudara-saudara! Kali ini, peserta diskusi tiba-tiba nyelonong pada saat pembicaraan hampir ditutup. Mudda Bima, semakin memperkuat penolakan pernyataan Ilham. “Sumbang saran ndaiku yang tak begitu panjang juga tak begitu pendek, tak begitu besar juga tak begitu kecil. kelamin adalah urusan masing-masing yg tak perlu, tak pantas, tak bermanfaat, dan tak masuk domain publik. seperti halnya kesengsar…aan dan kenikmatan yg ditimbulkan oleh bagian tubuh yg satu ini toh mjd tanggungan masing-masing. Apalagi rencana pemerintah akan mengeluarkan UU tentang keperawanan, wuih, sadis amat Negara, ingin masuk samapai ke wilayah-wilayah kemaluan rakyat. Padahal, urusan publik, sampai akhir zaman sepertinya nggak kelar-kelar. ‘Urus saja moralmu, urus saja akhlakmu….peraturan yg sehat yg kamu mau,’ kata iwan fals,” kata Mudda.

Wow, ternyata masih ada sisa-sisa greget yang mau dituntaskan oleh Mudda. “Wah, keganggu lagi, neh. Tiba-tiba terlintas dalam pikiran saya; ini ada logika sederhana. Kenapa dinamakan “alat kelamin”. Artinya kemin hanyalah sebuah alat. Mobil adalah alat transportasi, ketika sebuah mobil menabrak orang, yang diadili tentu sopirnya. Nggak pernah kan mobil yg dihukum! Atau dihadirkan di hapan majelis hakim yang “konon” mulia! Artinya tes ke-per-per (perjaka dan/atau perawan) salah alamat. Untuk urusan ini, paling-paling kita hanya bisa bilang, ‘Jangan Bermain-main dengan Kelaminmu’ sebagaimana judul cerpen Djenar Maesa Ayu. Dan anjuran saya, mari kita kembalikan kelamin pada fungsi yang sesungguhnya. Kita manfaatkan sebaik-baiknya, sesuai dengan SOP (Standar Operasional Prosedur) dari Tuhan. Kita jaga dan kita rawat dia, sebagai tanda syukur atas karuniaNya.

Sumber : http://bimaqta.wordpress.com
Jadikan setiap Postingan untuk ajang DISKUSI dan saling BERBAGI agar ilmu anda semakin berkembang dan berguna bagi orang lain.
Gunakan Kolom Komentar di bawah ini untuk menyampaikan PENDAPAT/ OPINI sebagai bentuk partisipasi untuk mencerdaskan bangsa.

Anda Akan Menyukai ini :
Literatur Ekonomi | Ekonomi Mikro | Buku Komputer | Buku Gratis | Kumpulan Buku | Contoh Makalah | Makalah Management | Makalah Manajemen | Ekonomi Islam | Ilmu Ekonomi | Sistem Ekonomi Indonesia | Free Novels | Novel Melayu | Sistem Informasi Akuntansi | Ilmu Akuntansi | Buku Akuntansi | Dasar Akuntansi | Jurnal Akuntansi | Artikel Akuntansi | Laporan Keuangan Perusahaan Jasa | Skripsi Akuntansi | Sistem Informasi Manajemen | Artikel Manajemen | Manajemen Sumber Daya Manusia | Manajemen Pemasaran | Konsep Dasar Manajemen | Cerpen Indonesia | Cerpen Remaja | Cerpen Cinta | Novel Cerpen | Motivasi Diri | Politik Amerika | Psikologi Anak | Psikologi Sosial | Psikologi Pendidikan | Psikologi Remaja | Pengertian Psikologi | Artikel Ekonomi
0 komentar:
Post a Comment