Home | Looking for something? Sign In | New here? Sign Up | Log out
Showing posts with label Arsitektur Dan Psikologi. Show all posts
Showing posts with label Arsitektur Dan Psikologi. Show all posts

Tuesday, January 24, 2012

Konsep-Konsep Fenomena Perilaku Manusia Dalam Arsitektur Dan Psikologi

Tuesday, January 24, 2012
0 komentar
Di dalam bab terdahulu telah dibahas Fenomena Lingkungan Perilaku, dimana salah satu unsurnya adalah Konsep-konsep Fenomena Perilaku Manusia. Berikut ini akan dibahas konsep-konsep tersebut yang meliputi: Kepadatan, Kesesakan, Privasi, Personal space, dan Teritorialitas. Beberapa konsep lain seperti Stres dan Perilaku Penyesuaian Diri (yang amat berkaitan dengan Kepadatan dan Kesesakan), Ketetanggan dan Defensible Space akan dibahas dalam bab tersendiri.

A. KEPADATAN

Kepadatan atau density ini ternyata mendapat perhatian yang serius dari ahli-ahli psikologi lingkungan. Menurut Sundstrom (dalam Wrightsman & Deaux, 1981) kepadatan adalah sejumlah manusia dalam setiap unit ruangan. Atau sejumlah individu yang berada di suatu ruang atau wilayah tertentu dan lebih bersifat fisik (Holahan, 1982; Heimstra dan McFarling, 1978; Stokols dalam Schmidt dan Keating, 1978). Suatu keadaan akan dikatakan semakin padat bila jumlah manusia pada suatu batas ruang tertentu semakin banyak dibandingkan dengan luas ruangannya (Sarwono, 1992).

Penelitian tentang kepadatan pada manusia berawal dari penelitian terhadap hewan yang dilakukan oleh John Calhoun. Penelitian Calhoun (dalam Worchel dan Cooper, 1983) ini bertujuan untuk mengetahui dampak negatif kepadatan dengan menggunakan hewan percobaan tikus. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya perilaku kanibal pada hewan tikus seiring dengan bertambahnya jumlah tikus. Secara terinci hasil penelitian Calhoun (dalam Setiadi, 1991) menunjukkan hal-hal sebagai berikut:

Pertama, dalam jumlah yang tidak padat (kepadatan rendah), kondisi fisik dan perilaku tikus berjalan normal. Tikus-tikus tersebut dapat melaksanakan perkawinan, membuat sarang, melahirkan, dan membesarkan anaknya seperti halnya kehidupan alamiah.

Kedua, dalam kondisi kepadatan tinggi dengan pertumbuhan populasi yang tak terkendali, ternyata memberikan dampak negatif terhadap tikus-tikus tersebut. Terjadi penurunan fisik pada ginjal, otak, hati, can jaringan kelenjar, serta penyimpangan perilaku seperti hiperaktif, homoseksual, dan kanibal. Akibat keseluruhan dampak negatif tersebut menyebabkan penurunan kesehatan dan fertilitas, sakit, mati, dan penurunan populasi.

Selain itu pengamatan yang dilakukan oleh Dubos (dalam Setiadi, 1991) terhadap jenis tikus Norwegia, menunjukkan bahwa apabila jumlah kelompok telah terlalu besar (over populated), maka terjadi penyimpangan perilaku tikus-tikus itu dengan menceburkan diri ke laut. Hal ini diakibatkan oleh tidak berfungsinya otak secara wajar karena kepadatan tinggi tersebut. Tentu saja hasil penelitian terhadap hewan ini tidak dapat diterapkan pada manusia secara langsung karena manusia mempunyai akal dan norma dalam hidup bermasyarakat. Oleh karena itu, untuk penelitian kepadatan pada manusia cenderung didasarkan pada data sekunder yaitu data-data yang sudah ada, dari data-data tersebut diamati gejala-gejala yang sering muncul dalam masyarakat.

Penelitian terhadap manusia yang pernah dilakukan oleh Bell (dalam Setiadi, 1991) mencoba memerinci: bagaimana manusia merasakan dan bereaksi terhadap kepadatan yang terjadi; bagaimana dampaknya terhadap tingkah laku sosial; dan bagaimana dampaknya terhadap task performance (kinerja tugas)? Hasilnya memperlihat kan ternyata banyak hal-hal yang negatif akibat dari kepadatan.

Pertama, ketidaknyamanan dan kecemasan, peningkatan denyut jantung dan tekanan darah, hingga terjadi penurunan kesehatan atau peningkatan pada kelompok manusia tertentu.

Kedua, peningkatan agresivitas pada anak-anak dan orang dewasa (mengikuti kurva linear) atau menjadi sangat menurun (berdiam diri/murung) bila kepadatan tinggi sekali (high spatial density). Juga kehilangan minat berkomunikasi, kerjasama, dan tolong-menolong sesama anggota kelompok.

Ketiga, terjadi penurunan ketekunan dalam pemecahan persoalan atau pekerjaan. Juga penurunan hasil kerja terutama pada pekerjaan yang menuntut hasil kerja yang kompleks.

Dalam penelitian tersebut diketahui pula bahwa dampak negatif kepadatan lebih berpengaruh terhadap pria atau dapat dikatakan bahwa pria lebih memiliki perasaan negatif pada kepadatan tinggi bila dibandingkan wanita. Pria juga bereaksi lebih negatif terhadap anggota kelompok, balk pada kepadatan tinggi ataupun rendah dan wanita justru lebih menyukai anggota kelompoknya pada kepadatan tinggi.

Pembicaraan tentang kepadatan tidak akan terlepas dari masalah kesesakan. Kesesakan atau crowding merupakan persepsi individu terhadap keterbatasan ruang, sehingga lebih bersifat psikis (Gifford, 1978; Schmidt dan Keating, 1979; Stokols dalam Holahan, 1982). Kesesakan terjadi bila mekanisme privasi individu gagal berfungsi dengan balk karena individu atau kelompok terlalu banyak berinteraksi dengan yang lain tanpa diinginkan individu tersebut (Altman, 1975). Menurut Altman (1975), Heimstra dan McFarling (1978) antara kepadatan dan kesesakan memiliki hubungan yang erat karena kepadatan merupakan salah satu syarat yang dapat menimbulkan kesesakan, tetapi bukan satu-satunya syarat yang dapat menimbulkan kesesakan. Kepadatan yang tinggi dapat mengakibatkan kesesakan pada individu (Heimstra dan McFarling, 1978; Holahan, 1982).

Baum dan Paulus (1987) menerangkan bahwa proses kepadatan dapat dirasakan sebagai kesesakan atau tidak dapat ditentukan oleh penilaian individu berdasarkan empat faktor:
a. karakteristik seting fisik
b. karakteristik seting sosial
c. karakteristik personal
d. kemampuan beradaptasi

Keempat faktor ditambah dengan kepadatan tersebut dapat dirangkum pada gambar berikut:
                          



Berdasarkan keterangan dan gambar di atas, maka dapat disimpulkan bahwa hubungan antara kepadatan dan kesesakan bukanlah suatu hubungan sebab-akibat, melainkan kepadatan merupakan salah satu syarat terjadinya kesesakan. Berikut ini akan dibahas kategori kepadatan dan akibat-akibat kepadatan tinggi.

1 . Kategori Kepadatan

Menurut Altman (1975), di dalam studi sosiologi sejak tahun 1920-an, variasi indikator kepadatan berhubungan dengan tingkah laku sosial. Variasi indikator kepadatan itu meliputi jumlah individu da.lam sebuah kota, jumlah individu pada daerah sensus, jumlah individu pada unit tempat tinggal, jumlah ruangan pada unit tempat tinggal, jumlah bangunan pada lingkungan sekitar dan lain-lain. Sedangkan Jain (1987) berpendapat bahwa tingkat kepadatan penduduk akan dipengaruhi oleh unsur-unsur yaitu jumlah individu pada setiap ruang, jumlah ruang pada setiap unit rumah tinggal, jumlah unit rumah tinggal pada setiap struktur hunian dan jumlah struktur hunian pada setiap wilayah pemukiman. Hal ini berarti bahwa setiap pemukiman memiliki tingkat kepadatan yang berbeda tergantung dari konstribusi unsur-unsur tersebut.

Kepadatan dapat dibedakan ke dalam beberapa kategori. Holahan (1982) menggolongkan kepadatan ke dalam dua kategor, , yaitu kepadatan spasial (spatial density) yang terjadi bila besar atau luas ruangan diubah menjadi lebih kecil atau sempit sedangkan jumlah individu tetap, sehingga didapatkan kepadatan meningkat sejalan menurunnya besar ruang, dan kepadatan sosial (social density) yang terjadi bila jumlah individu ditambah tanpa diiringi dengan penambahan besar atau luas ruangan sehingga didapatkan kepadatan meningkat sejalan dengan bertambahnya individu. Altman (1975) membagi kepadatan menjadi kepadatan dalam (inside density) yaitu sejumlah individu yang berada dalam suatu ruang atau tempat tinggal seperti kepadatan di dalam rumah, kamar; dan kepadatan luar (outside density) yaitu sejumlah individu yang berada pada suatu wilayah tertentu. seperti jumlah penduduk yang bermukim di suatu wilayah pemukiman.

Jain (1987) menyatakan bahwa setiap wilayah pemukiman memiliki tingkat kepadatan yang berbeda dengan jumlah unit rumah tinggal pada setiap struktur hunian dan struktur hunian pada setiap wilayah pemukiman. Sehingga suatu wilayah pemukiman dapat dikatakan mempunyai kepadatan tinggi atau kepadatan rendah.

Zlutnick dan Altman (dalam Altman, 1975; Holahan, 1982) menggambarkan sebuah model dua dimensi untuk menunjukkan beberapa macam tipe lingkungan pemukiman, yaitu:
1. Lingkungan pinggiran kota, yang ditandai dengan tingkat kepadatan luar dan kepadatan dalam yang rendah;
2. Wilayah desa miskin di mana kepadatan dalam tinggi sedangkan kepadatan luar rendah; dan
3. Lingkungan Mewah Perkotaan, di mana kepadatan dalam rendah sedangkan kepadatan luar tinggi;
4. Perkampungan Kota yang ditandai dengan tingkat kepadatan luar dan kepadatan dalam yang tinggi.
 


Taylor (dalam Gifford, 1982) mengatakan bahwa lingkungan sekitar dapat merupakan cumber yang penting dalam mempengaruhi sikap, perilaku dan keadaan internal seseorang di suatu tempat tinggal. Oleh karena itu individu yang bermukim di pemukiman dengan kepadatan yang berbeda mungkin menunjukkan sikap dan perilaku yang berbeda pula.

2. Akibat-akibat Kepadatan Tinggi

Pada bagian sebelumnya telah disajikan secara singkat beberapa bahasan mengenai akibat-akibat kepadatan tinggi, terutama pada penelitian pendahuluan pada binatang dan penelitian lanjutan pada manusia.

Menurut Heimstra dan Mc Farling (1978) kepadatan memberikan akibat bagi manusia baik secara fisik, sosial maupun psikis. Akibat secara fisik yaitu reaksi fisik yang dirasakan individu seperti peningkatan detak jantung, tekanan darah, dan penyakit fisik lain (Heimstra dan McFarling, 1978).


Akibat secara sosial antara lain adanya masalah sosial yang terjadi dalam masyarakat seperti meningkatnya kriminalitas dan kenakalan remaja (Heimstra dan McFarling, 1978; Gifford, 1987).
Akibat secara psikis antara lain:

a. Stres, kepadatan tinggi dapat menumbuhkan perasaan negatif, rasa cemas, stres (Jain, 1987) dan    perubahan suasana hati (Holahan,
1982).

b. Menarik diri, kepadatan tinggi menyebabkan individu cenderung untuk
menarik diri dan kurang mau berinteraksi dengan lingkungan sosialnya (Heimstra dan McFarling, 1978; Holahan, 1982; Gifford, 1987).

c. Perilaku menolong (perilaku prososial), kepadatan tinggi juga menurunkan keinginan individu untuk menolong atau memberi bantuan pada orang lain yang membutuhkan, terutama orang yang tidak dikenal (Holahan 1982; Fisher dkk., 1984).

d. Kemampuan mengerjakan tugas, situasi padat menurunkan kemampuan individu untuk mengerjakan tugas-tugasnya pada saat tertentu (Holahan, 1982).

e. Perilaku agresi, situasi padat yang dialami individu dapat menumbuhkan frustrasi dan kemarahan, serta pada akhirnya akan terbentuk perilaku agresi (Heimstra dan Mc Farling, 1978; Holahan, 1982).

B. KESESAKAN

Menurut Altman (1975), kesesakan adalah suatu proses interpersonal pada suatu tingkatan interaksi manusia satu dengan lainnya dalam suatu pasangan atau kelompok kecil. Perbedaan pengertian antara crowding (kesesakan) dengan density (kepadatan) sebagaimana yang telah dibahas terdahulu tidaklah jelas benar, bahkan kadang-kadang keduanya memiliki pengertian yang sama dalam merefleksikan pemikiran secara fisik dari sejumlah manusia dalam suatu kesatuan ruang.

Stokols (dalam Altman, 1975) membedakan antara kesesakan bukan sosial (nonsocial crowding) yaitu dimana faktor-faktor fisik menghasilkan perasaan terhadap ruang yang tidak sebanding, seperti sebuah ruang yang sempit, dan kesesakan sosial (social crowding) yaitu perasaan sesak mula-mula datang dari kehadiran orang lain yang terlalu banyak. Stokols juga menambahkan perbedaan antara kesesakan molekuler dan molar. Kesesakan molar (molar crowding) yaitu perasaan sesak yang dapat dihubungkan dengan skala luas, populasi penduduk kota, sedangkan kesesakan molekuler (moleculer crowding) yaitu perasaan sesak yang menganalisis mengenai individu, kelompok kecil dan kejadian-kejadian interpersonal.

Morris (dalam Iskandar, 1990) memberi pengertian kesesakan sebagai defisit suatu ruangan. Hal ini berarti bahwa dengan adanya sejumlah orang dalam suatu hunian rumah, maka ukuran per meter persegi setiap orangnya menjadi kecil, sehingga dirasakan adanya kekurangan ruang. Dalam suatu unit hunian, kepadatan ruang harus diperhitungkan dengan mebel dan peralatan yang diperlukan untuk suatu aktivitas. Oleh karenanya untuk setiap ruang akan mernerlukan suatu ukuran standar ruang yang berbeda, karena fungsi dari ruang itu berbeda.

Adapun kesesakan dikatakan sebagai keadaan motivasional yang merupakan interaksi dari faktor spasial, sosial dan personal, dimana pengertiannya adalah persepsi individu terhadap keterbatasan ruang sehingga timbul kebutuhan akan ruang yang lebih luas. Jadi rangsangan berupa hal¬hal yang berkatan dengan keterbatasan ruang disini kemudian diartikan sebagai suatu kekurangan.

Pendapat lain datang dari Rapoport (dalam Stokols dan Altman, 1987) yang mengatakan kesesakan adalah suatu evaluasi subjektif dimana besarnya ruang dirasa tidak mencukupi, sebagai kelanjutan dari persepsi langsung terhadap ruang yang tersedia.

Kesimpulan yang dapat diambil adalah pada dasarnya batasan kesesakan melibatkan persepsi seseorang terhadap keadaan ruang yang dikaitkan dengan kehadiran sejumlah manusia, dimana ruang yang tersedia dirasa terbatas atau jumlah manusianya yang dirasa terlalu banyak.

Berikut ini akan dibahas faktor-faktor yang mempengaruhi kesesakan dan pengaruh kesesakan terhadap perilaku

1 . Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Kesesakan

Terdapat tiga faktor yang mempengaruhi kesesakan yaitu: personal, sosial, dan fisik, yang akan dibahas satu persatu.

Faktor Personal. Faktor personal terdiri dari kontrol pribadi dan locus of control; budaya, pengalaman, dan proses adaptasi; serta jenis kelamin dan usia.

a) Kontrol pribadi dan locus of control
Seligman dan kawan-kawan (dalam Worchel dan Cooper, 1983) mengatakan bahwa kepadatan.tinggi baru akan menghasilkan kesesakan apabila individu sudah tidak mempunyai kontrol terhadap lingkungan di sekitarnya, sehingga kesesakan dapat dikurangi pengaruhnya bila individu tersebut memainkan peran kontrol priba di di dalamnya. Individu yang mempunyai locus of control internal, yaitu kecenderungan individu untuk mempercayai (atau tidak mempercayai) bahwa keadaan yang ada di dalam dirinyalah yang berpengaruh terhadap kehidupannya, diharapkan dapat mengendalikan kesesakan yang lebih baik daripada individu yang mempunyai locus of control eksternal (Gifford, 1987).

b) Budaya, pengalaman, dan proses adaptasi
Suatu penelitian yang dilakukan oleh Nasar dan Min (dalam Gifford, 1987), yang mencoba membandingkan kesesakan yang dialami oleh orang Asia dan orang Mediterania yang tinggal di asrama yang sama di Amerika Utara, menemukan adanya perbedaan persepsi terhadap kesesakan pada individu dengan latar belakang budaya yang berbeda, dimana orang Mediterania merasa lebih sesak daripada orang Asia. Sundstrom (dalam Gifford, 1987) mengatakan bahwa pengalaman pribadi dalam kondisi padat dimana kesesakan terjadi dapat mem pengaruhi dapat mempengaruhi tingkat toleransi individu terhadap stres akibat kesesakan yang dialami. Tingkat toleransi akibat adaptasi ini berguna bila individu dihadapkan pada situasi yang baru.

Bell dan kawan-kawan (1978) mengatakan bahwa semakin sering atau konstan suatu stimulus muncul, maka akan timbul proses pembiasaan yang bersifat psikologis (adaptasi) dan fisik (habituasi) dalam bentuk respon yang menyebabkan kekuatan stimulus tadi melemah. (Adaptasi dan habituasi akan banyak dibahas pada bagian lain buku ini). Karena proses pembiasaan ini berhubungan dengan waktu, maka dalam kaitannya dengan kesesakan di kawasan tempat tinggal, lamanya individu tinggal di kawasan tersebut akan mempengaruhi perasaan sesaknya.

Menurut Yusuf (1991) keadaan-keadaan kepadatan yang tinggi yang menyebabkan kesesakan justru akan menumbuhkan kreativitaskreativitas manusia untuk melakukan intervensi sebagai upaya untuk menekan perasaan sesak tersebut. Pada masyarakat Jepang, upaya untuk menekan situasi kesesakan adalah dengan membangun rumah yang ilustratif, yang dindingnya dapat dipisah-pisahkan sesuai dengan kebutuhan sesaat, serta untuk mensejajarkan keadaannya dengan ruang dan wilayah yang tersedia. Pola ini memiliki beberapa kegunaan sesuai dengan kebutuhan sosial penghuninya, seperti untuk makan, tidur, dan rekreasi. Volume dan konfigurasi tata ruang adalah fleksibel, sehingga dapat diubah-ubah sesuai kebutuhan dalam upayanya untuk menekan perasaan sesak.

Faktor Sosial. Menurut Gifford (1987) secara personal individu dapat lebih banyak atau lebih sedikit mengalami kesesakan cenderung dipengaruhi oleh karakteristik yang sudah dimiliki. Akan tetapi pengaruh orang lain dalam lingkungan dapat juga memperburuk keadaan akibat kesesakan. Faktor-faktor sosial yang berpengaruh tersebut adalah :
a) Kehadiran dan perilaku orang lain
Kehadiran orang lain akan menimbulkan perasaan sesak bila individu merasa terganggu dengan kehadiran orang lain.

b) Formasi koalisi
Keadaan ini didasari pada pendapat yang mengatakan bahwa meningkatriya kepadatan sosial akan dapat meningkatkan kesesakan. Karenanya banyak penelitian yang menemukan akibat penambahan teman sekamar (dari satu menjadi dua orang teman) dalam asrama sebagai suatu keadaan yang negatif. Keadaan negatif yang muncul berupa stres, perasaan tidak enak, dan kehilangan kontrol, yang disebabkan karena terbentuknya koalisi di satu fihak dan seorang yang terisolasi di lain fihak (Gifford, 1987).

c) Kualitas hubungan
Kesesakan menurut penelitian yang dilakukan oleh Schaffer dan Patterson (dalam Gifford, 1987) sangat dipengaruhi oleh seberapa baik seorang individu dapat bergaul dengan orang lain. Individu yang percaya bahwa orang lain mempunyai pandangan yang sama dengan dirinya merasa kurang mengalami kesesakan bila berhu bungan dengan orang-orang tersebut.

d) Informasi yang tersedia
Kesesakan juga dipengaruhi oleh jumlah dan bentuk informasi yang muncul sebelum dan selama mengalami keadaan yang padat. Individu yang tidak mempunyai informasi tentang kepadatan merasa lebih sesak daripada individu yang sebelumnya sudah mempunyai informasi tentang kepadatan (Fisher dan Baum dalam Gifford, 1987).

Faktor Fisik. Gove dan Hughes (1983) menemukan bahwa kesesakan di dalam rumah berhubungan dengan faktor-faktor fisik yang berhubun gan dengan kondisi rumah seperti jenis rumah, urutan lantai, ukuran rumah (perbandingan jumlah penghuni dan luas ruangan yang tersedia) dan suasana sekitar rumah.

Jenis rumah di sini dibedakan atas unit hunian tunggal, kompleks perumahan dan rumah susun. Menurut beberapa penelitian didapati bahwa kesesakan yang paling tinggi ada pada rumah susun, kemudian pada kompleks perumahan dan baru setelah itu rumah tunggal (unit hunian tunggal).

Penelitian yang dilakukan oleh Schiffenbauer (dalam Gifford, 1987) dan Dibyo Hartono (1986) dalam hubungannya dengan urutan lantai pada rumah susun, menemukan bahwa penghuni lantai yang lebih tinggi merasa tidak terlalu sesak daripada penghuni lantai bawah. Hal itu disebabkan karena semakin sedikitnya kehadiran orang asing pada lantai yang lebih tinggi, sehingga penghuni masih tetap bisa mengontrol interaksinya. Selain itu penghuni lantai atas mempunyai ruang yang lebih terang dan bisa memandang lingkungan yang lebih luas melalui jendelanya daripada penghuni lantai bawah.

Altman (1975), Bell dan kawan-kawan (1978), Gove dan Hughes (1983) menambahkan adanya faktor situasional sekitar rumah sebagai faktor yang juga mempengaruhi kesesakan. Stressor yang menyertai faktor situasional tersebut seperti suara gaduh, panas, polusi, sifat lingkungan, tipe suasana, dan karakteristik seting. Faktor situasional tersebut antara lain:

a) Besarnya skala lingkungan
Dalam suatu seting ada tanda-tanda fisik dan psikologis. Tanda-tanda fisik adalah kawasan industri, taman, jalan-jalan, dan lain-lain. Adapun tanda-tanda psikologis seperti sikap terhadap kaum urban, privasi, dan perbandingan dengan kota-kota lain. Perasaan sesak yang terjadi pada skala kecil (tempat tinggal) sebaiknya diprediksikan dengan faktor-faktor fisik dan psikologis, tetapi bila terjadi pada skala yang lebih besar akan lebih balk bila diprediksikan hanya dengan faktor psikologis. Kesimpulan tersebut diambil dari hasil penelitian mengenai pengukuran pengaruh fisik dan psikologis terhadap kesesakan. Kesesakan dipengaruhi oleh skala geografis yang digunakan untuk melihat situasi itu dan perbedaan faktor-faktor pada masing-masing skala yang menyebabkan individu menyimpulkan bahwa dirinya merasa sesak.

b) Variasi arsitektural
Dari penelitian yang telah dilakukan oleh Baum dan Valins (1977) ditemukan bahwa desain koridor yang panjang akan menimbulkan perilaku kompetitif, penarikan diri, rendahnya perilaku kooperatif, dan rendahnya kemampuan untuk mengontrol interaksi.

McCartey dan Saegert (dalam Gifford, 1987) menemukan bahwa bila dibandingkan dengan bangunan horisontal, kehidupan di bangunan vertikal dapat menyebabkan perasaan sesak yang lebih besar dan menimbulkan sikap-sikap negatif seperti kurangnya kemampuan untuk mengontrol, rendahnya rasa aman, merasa kesulitan dalam mencapai privasi, rendahnya kepuasan terhadap bangunan yang ada, dan hubungan yang tidak erat diantara sesama penghuni.

Dari beberapa penelitian disimpulkan bahwa ada beberapa hal yang bisa diasosiasikan dengan perasaan sesak yang rendah, yaitu plafon yang tinggi sehingga menimbulkan kesan luas dan menambah sirkulasi udara. Ruang yang berbentuk persegi panjang lebih balk karena tidak menimbulkan kesan kaku bila dibandingkan dengan ruang yang bujur sangkar. Perlunya jendala dan pintu yang memadai yang dapat berfungsi untuk mengalihkan kejenuhan.

Altman (1975) dan Bell dkk. (1978) menambahkan faktor situasional sebagai faktor yang mempengaruhi kesesakan. Stressor yang menyertai seperti suara gaduh, panas, polusi, sifat lingkungan (lingkungan primer-sekunder), tipe suasana (suasana kerja rekreasi), dan karakteristik seting (tipe rumah, tingkat kepadatan).

2. Pengaruh Kesesakan Terhadap Perilaku

Bila suatu lingkungan berubah menjadi sesak (crowded), sumber-sumber yang ada di dalamnya pun bisa menjadi berkurang, aktivitas seseorang akan terganggu oleh aktivitas orang lain, interaksi interpersonal yang tidak diinginkan akan mengganggu individu dalam mencapai tujuan personalnya, gangguan terhadap norma tempat dapat meningkatkan gejolak dan ketidaknyamanan -(Epstein, 1982) serta disorganisasi keluarga, agresi, penarikan diri secara psikologis (psychological withdrawal), dan menurunnya
kualitas hidup (Freedman, 1973).

Banyak literatur dan penelitian-penelitian yang membahas tentang pengaruh kesesakan terhadap kehidupan manusia. Sampai sekarang ada beberapa ahli yang tetap beranggapan bahwa kesesakan tidak hanya berpengaruh negatif bagi individu tetapi bisa juga berpengaruh positif.

Freedman (1975) memandang kesesakan sebagai suatu keadaan yang dapat bersifat positif maupun negatif tergantung dari situasinya. Jadi kesesakan dapat dirasakan sebagai suatu pengataman yang kadang-kadang menyenangkan dan kadang-kadang tidak menyenangkan. Bahkan dari banyak penelitiannya diperoleh kesimpuian bahwa kesesakan sama sekali tidak berpengaruh negatif terhadap subjek penelitian.

Pengaruh negatif kesesakan tercermin dalam bentuk penurunan-penurunan psikologis, fisiologis, dan hubungan sosial individu. Pengaruh psikologis yang ditimbulkan oleh kesesakan antara lain adalah perasaan kurang nyaman, sires, kecemasan, suasana hati yang kurang baik, prestasi kerja dan prestasi belajar menurun, agresivitas meningkat, dan bahkan juga gangguan mental yang serius.

lndividu yang berada dalam kesesakan juga akan mengalami malfungsi fisiologis seperti meningkatnya tekanan darah dan detak jantung, gejala-gejala psikosornatik, dan penyakit-penyakit fisik yang serius (Worchel dan Cooper, 1983).

Worchel clan Cooper (1983) juga mengutip beberapa penelitian yang dilakukan dalam skala kecil, seperti di asrama-asrama mahasiswa dan di kampus menunjukkan bahwa klinik kesehatan di kampus lebih banyak dikunjungi oleh mahasiswa-mahasiswa yang tinggal di asrama daripada yang tinggal sendiri.

Perilaku sosial yang seringkali timbul karena situasi yang sesak antara lain adalah kenakalan remaja, menurunnya sikap gotong-royong dan saling membantu, penarikan diri dari lingkungan sosial, berkembangnya sikap acuh tak acuh, dan semakin berkurangnya intensitas hubungan sosial (Holahan, 1982).

Dari beberapa penelitian Baum dkk. (dalam Fisher dkk., 1984) menyimpulkan bahwa kepadatan sosial lebih aversif daripada kepadatan ruang. Kepadatan ruang sering memunculkan masalah hanya pada laki-laki saja karena dalam situasi padat laki-laki lebih bersikap kompetitif. Kebanyakan masalah kepadatan muncul karena terlalu banyaknya orang dalam suatu ruangan daripada masalah-masalah yang ditimbulkan karena terbatasnya ruang.

Sementara itu beberapa penelitian lain juga mencoba menunjukkan pengaruh negatif kesesakan terhadap perilaku. Fisher dan Byrne (dalam Watson dkk., 1984) menemukan bahwa kesesakan dapat mengakibatkan menurunnya kemampuan menyelesaikan tugas yang kompleks, menurunkan perilaku sosial, ketidaknyamanan dan berpengaruh negatif terhadap kesehatan dan menaikkan gejolak fisik seperti naiknya tekanan darah (Evans, 1979).

Menurut hipotesis interaksi yang tidak diinginkan (the unwanted-inter-action hypothesis), efektif negatif dari kesesakan terjadi karena dalam situasi sesak kita menemui lebih banyak interaksi dengan orang lain daripada yang kita inginkan (Baum & Valine dalam Watson dkk., 1984). Sementara menurut hipotesis kehilangan kontrol (the loss of control hypothesis), akibat negatif dari kesesakan terjadi karena kesesakan menyebabkan kita kehilangan kontrol selama kejadian (Baron & Rodin, 1978; Schmidt & Keating, 1979).

Dari sekian banyak akibat negatif kesesakan pada perilaku manusia, Brigham (1991) mencoba menerangkan dan menjelaskannya menjadi (1) pelanggaran terhadap ruang pribadi dan atribusi seseorang yang menekan perasaan yang disebabkan oleh kehadiran orang lain; (2) keterbatasan perilaku, pelanggaran privasi dan terganggunya kebebasan memilih; (3) kontrol pribadi yang kurang dan (4) stimulus yang berlebih.
Walaupun pada umumnya kesesakan berakibat negatif pada perilaku seseorang, tetapi menurut Altman (1975) dan Watson dkk. (1984), kesesakan

kadang memberikan kepuasan dan kesenangan. Hal ini tergantung pada tingkat privasi yang diinginkan, waktu dan situasi tertentu, serta seting kejadian. Situasi yang memberikan kepuasan dan kesenangan bisa kita temukan, misalnya pada waktu melihat pertunjukan musik, pertandingan olah raga atau menghadiri reuni atau resepsi.

C. PRIVASI

Privasi merupakan tingkatan interaksi atau keterbukaan yang dikehendaki seseorang pada suatu kondisi atau situasi tertentu. Tingkatan privasi yang diinginkan itu menyangkut keterbukaan atau ketertutupan, yaitu adanya keinginan untuk berinteraksi dengan orang lain, atau justru ingin menghindar atau berusaha supaya sukar dicapai oleh orang lain (Dibyo Hartono, 1986).

Beberapa definisi tentang privasi mempunyai kesamaan yang menekankan pada kemampuan seseorang atau kelompok dalam mengontrol interaksi panca inderanya dengan pihak lain.

Rapoport (dalam Soesilo, 1988) mendefinisikan privasi sebagai suatu kemampuan untuk mengontrol interaksi, kemampuan untuk memperoleh pilihan-pilihan dan kemampuan untuk mencapai interaksi seperti yang diinginkan. Privasi jangan dipandang hanya sebagai penarikan diri seseorang secara fisik terhadap pihak-pihak lain dalam rangka menyepi saja. Hal ini agak berbeda dengan yang dikatakan oleh Marshall (dalam Wrightman & Deaux, 1981) dan ahli-ahli lain (seperti Bates, 1964; Kira, 1966 dalam Altman, 1975) yang mengatakan bahwa privasi menunjukkan adanya pilihan untuk menghindarkan diri dari keterlibatan dengan orang lain dan lingkungan sosialnya.

Altman (1975), hampir sama dengan yang dikatakan Rapoport, mendefinisikan privasi dalam bentuk yang lebih dinamis. Menurutnya privasi adalah proses pengontrolan yang selektif terhadap akses kepada diri sendiri dan akses kepada orang lain. Definisi ini mengandung beberapa pengertian yang lebih luas. Pertama, unit sosial yang digambarkan bisa berupa hubungan antara individu dengan individu, antara individu dengan kelompok dan seterusnya. Kedua, penjelasan mengenai privasi sebagai proses dua arah; yaitu pengontrolan input yang masuk ke individu dari luar atau output dari individu ke pihak lain. Ketiga, definisi ini menunjukkan suatu kontrol yang selektif atau suatu proses yang aktif dan dinamis.

Kemudian Altman menjelaskan beberapa fungsi privasi. Pertama, privasi adalah pengaruh dan pengontrol interaksi interpersonal. Kedua, merencanakan dan membuat strategi untuk berhubungan dengan orang lain. Dan ketiga, memperjelas konsep diri dan iclentitas diri.

Dalam hubungannya dengan orang lain, manusia memiliki referensi tingkat privasi yang diinginkannya. Ada saat-saat dimana seseorang ingin berinteraksi dengan orang lain (privasi rendah) dan ada saat-saat dimana ia ingin menyendiri dan terpisah dari orang lain (privasi tinggi). Untuk mencapai hal itu, ia akan mengontrol dan mengatur melalui suatu mekanisme perilaku, yang digambarkan oleh Altman sebagai berikut :

a). Perilaku verbal
Perilaku ini dilakukan dengan cara mengatakan kepada orang lain secara verbal, sejauh mana orang lain boleh berhubungan dengannya. Misalnya "Maaf, saya tidak punya waktu".

b). Perilaku non verbal
Perilaku ini dilakukan dengan menunjukkan ekspresi wajah atau gerakan tubuh tertentu sebagai tanda senang atau tidak senang. Misalnya seseorang akan menjauh dan membentuk jarak dengan orang lain, membuang muka ataupun terus menerus melihat waktu yang menandakan bahwa dia tidak ingin berinteraksi dengan orang lain. Sebaliknya dengan mendekati dan menghadapkan muka, tertawa, menganggukkan kepala memberikan indikasi bahwa dirinya siap untuk berkomunikasi dengan orang lain.

c). Mekanisme kultural
Budaya mempunyai bermacam-macam adat istiadat, aturan atau norma, yang menggambarkan keterbukaan atau ketertutupan kepada orang lain dan hal ini sudah diketahui oleh banyak orang pada budaya tertentu (Altman, 1975; Altman & Chemers dalam Dibyo Hartono, 1986).

d). Ruang personal
Ruang personal adalah salah satu mekanisme perilaku untuk mencapai tingkat privasi tertentu. Sommer (dalam Altman, 1975) mendefinisikan beberapa karakteristik ruang personal. Pertama, daerah batas diri yang diperbolehkan dimasuki oleh orang lain. Ruang personal adalah batas maya yang mengelilingi individu sehingga tidak kelihatan oleh orang lain. Kedua, ruang personal itu tidak berupa pagar yang tampak mengelilingi seseorang dan terletak pada satu tempat tetapi batas itu melekat pada diri dan dibawa kemana-mana. Fisher dkk. (1984), mengatakan bahwa ruang personal adalah batas maya yang mengelilingi individu. Ketiga, sama dengan privasi ruang personal adalah batas kawasan yang dinamis, yang berubah-ubah besarnya sesuai dengan waktu dan situasi. Bergantung dengan siapa seseorang itu berhubungan. Keempat, pelanggaran ruang personal oleh orang lain akan dirasakan sebagai ancaman sehingga daerah ini dikontrol dengan kuat.

Kebanyakan penelitian menunjukkan bahwa individu yang mempunyai kecenderungan berafiliasi tinggi, ekstrovert atau yang mempunyai sifat hangat dalam berhubungan interpersonal mempunyai ruang personal yang lebih kecil daripada individu yang introvert (Gifford, 1987)

e). Teritorialitas
Pembentukan kawasan teritorial adalah mekanisme perilaku lain untuk mencapai privasi tertentu. Kalau mekanisme ruang personal tidak memperlihatkan dengan jelas kawasan yang menjadi pembatas antar dirinya dengan orang lain maka pada teritorialitas batas-batas tersebut nyata dengan tempat yang relatif tetap.

Sementara itu Marshall (dalam Holahan, 1982); Sarwono (1992) berusaha membuat alat yang berisi serangkaian pernyataan tentang privasi dalam berbagai situasi (dinamakan Privacy Preference Scale) dan ia menemukan adanya enam jenis orientasi tentang privasi yang dapat dikelompokkan ke dalam dua kelompok besar, yaitu tingkah laku menarik diri (withdrawal) dan mengontrol informasi (control of information). Tiga orientasi yang termasuk dalam tingkah laku menarik diri adalah solitude (keinginan untuk menyendiri), seclusion (keinginan untuk menjauh dari pandangan dan gangguan suara tetangga serta kebisingan lalu lintas) dan intimacy (keinginan untuk dekat dengan keluarga dan orang-orang tertentu, tetapi jauh dari semua orang lain). Tiga orientasi lain yang termasuk dalam tingkah laku mengontrol informasi adalah anonymity (keinginan untuk merahasiakan jati din), reserve (keinginan untuk tidak mengungkapkan diri terlalu banyak kepada orang lain) dan not-neighboring (keinginan untuk tidak terlibat dengan tetangga).

Hampir sama dengan Marshall, Westin (dalam Altman, 1975; Wrightman & Deaux, 1981) menjadi privasi menjadi empat macam, yaitu solitude, in-timacy, anonymity dan reserve. Dalam solitude seseorang ingin menyendiri dan bebas dari pengamatan orang lain serta dalam kondisi privasi yang ekstrem. Intimacy ialah keadaan seseorang yang bersama orang lain namun bebas dari pihak-pihak lain. Anonymity ialah keadaan seseorang yang tidak menginginkan untuk dikenal oleh pihak lain, sekalipun ia berada di dalam suatu keramaiari umum. Sedang reserve ialah keadaan seseorang yang menggunakan pembatas psikologis untuk mengontrol gangguan yang tidak dikehendaki.



Upaya untuk mengejar estetika akan mempengaruhi privasi jika tidak dibarengi
dengan jarak dengan tetangga/lingkungan sekitarnya
(Rumah Tinggal Winkler Goetsch Karya Frank Lloyd Wright)
Sumber: Ishar (1994)

Privasi merupakan tingkatan interaksi atau keterbukaan yang dikehendaki oleh seseorang pada suatu kondisi atau situasi tertentu. Tingkatan privasi yang diinginkan itu menyangkut keterbukaan atau ketertutupan, yaitu adanya keinginan untuk berinteraksi dengan orang lain, atau justru ingin menghindar dengan berusaha supaya sukar dicapai oleh orang lain, dengan cara mendekati atau menjauhinya. Lang (1987) berpendapat bahwa tingkat dari privasi tergantung dari pola-pola perilaku dalam konteks budayadan dalam kepribadian dan aspirasi dari keterlibatan individu. Menurut Sarwono (1992) privasi adalah keinginan atau kecenderungan pada diri seseorang untuk tidak diganggu kesendiriannya.

Altman (1975) menjabarkan beberapa fungsi privasi. Pertama, privasi adalah pengatur dan pengontrol interaksi interpersonal yang berarti sejauh mana hubungan dengan orang lain diinginkan, kapan waktunya menyendiri dan kapan waktunya bersama-sama dengan orang lain. Privasi dibagi menjadi dua macam, yaitu privasi rendah yang terjadi bila hubungan dengan orang lain dikehendak.i, dan privasi tinggi yang terjadi bila ingin menyendiri dan hubungan dengan orang lain dikurangi. Fungsi privasi kedua adalah merencanakan dan membuat strategi untuk berhubungan dengan orang lain, yang meliputi keintiman atau jarak dalam berhubungan dengan orang lain. Fungsi ketiga privasi adalah memperjelas identitas diri.

Holahan (1982) menyatakan enam jenis privasi, yaitu: 1) keinginan untuk menyendiri, 2) keinginan untuk menjauhi pandangan dan gangguan suara tetangga atau kebisingan lalu lintas, 3) kecenderungan untuk intim terhadap orang-orang tertentu (keluarga), tetapi jauh dari semua orang lain, 4) keinginan untuk merahasiakan jati diri agar tidak dikenal orang lain, 5) keinginan untuk tidak mengungkapkan diri terlalu banyak, 6) keingi-nan untuk tidak terlibat dengan tetangga.

Berdasarkan pembahasan di atas, maka kita dapat mengatakan bahwa konsep privasi ternyata sangat dekat dengan konsep ruang personal dan teritorialitas. Altman (1975) membuat suatu model organisasi konseptual. Altman mempertimbangkan ruang personal, teritorial, dan kesesakan untuk mencapai privasi.



1. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Privasi

Terdapat faktor yang mempengaruhi privasi yaitu faktor personal, faktor situasional, dan faktor budaya.

Faktor Personal. Marshall (dalam Gifford, 1987) mengatakan bahwa perbedaan dalam latar belakang pribadi akan berhubungan dengan kebutuhan akan privasi. Dalam penelitiannya, ditemukan bahwa anak¬anak yang tumbuh dalam suasana rumah yang sesak akan lebih memilih keadaan yang anonim dan reserve saat is dewasa. Sedangkan orang menghabiskan sebagian besar waktunya di kota akan lebih memilih keadaan anonim dan intimacy.

Sementara itu Walden dan kawan-kawan (dalam Gifford, 1987) menemukan adanya perbedaan jenis kelamin dalam privasi. Dalam sebuah penelitian pada para penghuni asrama ditemukan bahwa antara pria dan wanita terdapat perbedaan dalam merespon perbedaan keadaan antara ruangan yang berisi dua orang dengan ruangan yang berisi tiga orang. Dalam hubungannya dengan privasi, subjek pria lebih memilih ruangan yang berisi dua orang, sedangkan subjek wanita tidak mempermasalahkan keadaan dalam dua ruangan tersebut. Hal itu rnenunjukkan bahwa wanita merespon lebih baik daripada pria bila dihadapkan pada situasi dengan kepadatan yang lebih tinggi.

Faktor Situasional. Beberapa hasil penelitian tentang privasi dalam dunia kerja, secara umum menyimpulkan bahwa kepuasan terhadap kebutuhan akan privasi sangat berhubungan dengan seberapa besar lingkungan mengijinkan orang-orang di dalamnya untuk menyendiri (Gifford, 1987).

Penelitian Marshall (dalam Gifford, 1987) tentang privasi dalam rumah tinggal, menemukan bahwa tinggi rendahnya privasi di dalam rumah antara lain disebabkan oleh seting rumah. Seting rumah di sini sangat berhubungan seberapa sering para penghuni berhubungan dengan orang, jarak antar rumah dan banyaknya tetangga sekitar rumah. Seseorang yang mempunyai rumah yang jauh dari tetangga dan tidak dapat melihat banyak rumah lain di sekitarnya dari jendela dikatakan memiliki kepuasan akan privasi yang lebih besar.

Faktor Budaya. Penemuan dari beberapa peneliti tentang privasi dalam berbagai budaya (seperti Patterson dan Chiswick pada suku ban di Kalimantan, Yoors pada orang Gypsy dan Geertz pada orang Jawa dan Bali) memandang bahwa pada tiap-tiap budaya tidak ditemukan adanya perbedaan dalam banyaknya privasi yang diinginkan, tetapi sangat berbeda dalam cara bagaimana mereka mendapatkan privasi (Gifford, 1987).

tidak terdapat keraguan bahwa perbedaan masyarakat menunjukkan variasi yang besar dalam jumlah privasi yang dimiliki anggotanya. Dalam masyarakat Arab, keluarga-keluarga menginginkan tinggal di dalam rumah dengan dinding yang padat dan tinggi mengelilinginya (Gifford, 1987). Hasil pengamatan Gifford (1987) di suatu desa di bagian Selatan India menunjukkan bahwa semau keluarga memiliki rumah yang sangat dekat satu sama lain, sehingga akan sangat sedikit privasi yang diperolehnya. Orang-orang desa tersebut merasa tidak betah bila terpisah dari tetangganya. Sejumlah studi menunjukkan bahwa pengamatan yang dangkal seringkali menipu kita. Kebutuhan akan privasi barangkali adalah sama besarnya antara orang Arab dengan orang India.

Studi Patterson dan Chiswick (dalam Gifford, 1987) di bawah ini menggambarkan privasi masyarakat Iban, Serawak, Kalimantan. Orang¬orang Iban tinggal di rumah panjang dengan privasi yang (diduga) kurang, dimana kesempatan untuk menyendiri atau keintiman ada di belakang pintu¬pintu yang tertutup. Apakah orang-orang Iban memiliki privasi yang amat memprihatinkan? Atau apakah mereka tidak membutuhkan privasi? Patterson dan Chiswick menemukan orang Iban tampaknya membutuhkan privasi kira-kira sebanyak yang kita butuhkan, akan tetapi mereka melakukannya dengan mekanisme yang berbeda. Mekanisme-mekanisme ini adalah suatu kesepakatan sosial. Sebagai contoh, orang Iban memiliki cara khusus untuk berganti pakaian di daerah yang bersifat publik dengan cara yang sederhana. Terdapat aturan-aturan bagi anak-anak untuk mengurangi hal-hal yang tidak dinginkan dalam hubungannya dengan orang dewasa. Rumah panjang itu tertutup bagi anak-anak dalam banyak kesempatan. Pada saat mulai pubertas, ruang tidur anak mulai dibedakan berdasarkan jenis kelaminnya.

2. Pengaruh Privasi Terhadap Perilaku

Altman (1975) menjelaskan bahwa fungsi psikologis dari perilaku yang penting adalah untuk mengatur interaksi antara seseorang atau kelompok dengan lingkungan sosial. Bila seseorang dapat mendapatkan privasi seperti yang diinginkannya maka is akan dapat mengatur kapan harus berhubungan dengan orang lain dan kapan harus sendiri.

Maxine Wolfe dan kawan-kawan (dalam Holahan, 1982) mencatat bahwa pengelolaan hubungan interpersonal adalah pusat dari pengalaman tentang privasi dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, orang yang terganggu privasinya akan merasakan keadaan yang tidak mengenakkan.

Westin (dalam Holahan, 1982) mengatakan bahwa ketertutupan terhadap informasi personal yang selektif, memenuhi kebutuhan individu untuk membagi kepercayaan dengan orang lain. Keterbukaan membantu individu untuk menjaga jarak psikologis yang pas dengan orang lain dalam banyak situasi.

Schwartz (dalam Holahan, 1982) menemukan bahwa kemampuan untuk menarik diri ke dalam privasi (privasi tinggi) dapat membantu membuat hidup ini lebih mengenakkan saat harus berurusan dengan orang-orang yang "sulit". Sementara hal yang senada diungkapkan oleh Westin bahwa saat-saat kita mendapatkan privasi seperti yang kita inginkan, kita dapat melakukan pelepasan emosi dari akumulasi tekanan hidup sehari-hari.

Selain itu, privasi juga berfungsi mengembangkan identitas pribadi, yaitu mengenal dan menilai diri sendiri (Altman, 1975; Sarwono, 1992; Holahan, 1982). Proses mengenal dan menilai diri ini tergantung pada kemampuan untuk mengatur sifat dan gaya interaksi sosial dengan orang lain. Bila kita tidak dapat mengontrol interaksi dengan orang lain, kita akan memberikan informasi yang negatif tentang kompetensi pribadi kita (Holahan, 1982) atau akan terjadi proses ketelanjangan sosial dan proses deindividuasi (Sarwono, 1992).

Menurut Westin (dalam Holahan, 1982) dengan privasi kita juga dapat melakukan evaluasi diri dan membantu kita mengembangkan dan mengelola perasaan otonomi diri (personal autonomy). Otonomi ini meliputi perasaan bebas, kesadaran memilih dan kemerdekaan dari pengaruh orang lain.

Dari beberapa pendapat di atas, dapat diambil suatu rangkuman bahwa fungsi psikologis dari privasi dapat dibagi menjadi, pertama privasi memainkan peran dalam mengelola interaksi sosial yang kompleks di dalam kelompok sosial; kedua, privasi membantu kita memantapkan perasaan identitas pribadi.

D . PERSONAL SPACE (RUANG PERSONAL)

Istilah personal space pertama kali digunakan oleh Katz pada tahun 1973 dan bukan merupakan sesuatu yang unik dalam istilah psikologi, karena istilah ini juga dipakai dalam bidang biologi, antropologi, dan arsitektur (Yusuf, 1991).

Selanjutnya dikatakan bahwa studi personal space merupakan tinjauan terhadap perilaku hewan dengan cara mengamati perilaku mereka berkelahi, terbang, dan jarak sosial antara yang satu dengan yang lain. Kajian ini kemudian ditransformasikan dengan cara membentuk pembatas serta dapat pula diumpamakan semacam gelembung yang mengelilingi individu dengan individu lain.

Masalah mengenai ruang personal ini berhubungan dengan batas-batas di sekeliling seseorang. Menurut Sommer (dalam Alt man, 1975) ruang personal adalah daerah di sekeliling seseorang dengan batas-batas yang tidak jelas dimana seseorang tidak boleh memasukinya. Goffman (dalam Altman, 1975) menggambarkan ruang personal sebagai jarak/daerah di sekitar individu dimana dengan memasuki daerah orang lain, menyebabkan orang lain tersebut merasa batasnya dilanggar, merasa tidak senang, dan kadang¬kadang menarik diri.

Beberapa definisi ruang personal secara implisit berdasarkan hasil-hasil penelitian, antara lain:

Pertama, ruang personal adalah batas-batas yang tidak jelas antara seseorang dengan orang lain.
Kedua, ruang personal sesungguhnya berdekatan dengan diri sendiri.
Ketiga, pengaturan ruang personal merupakan proses dinamis yang memungkinkan diri kita keluar darinya sebagai suatu perubahan situasi.
Keempat, ketika seseorang melanggar ruang personal orang lain, maka dapat berakibat kecemasan, stres, dan bahkan perkelahian.
Kelima, ruang personal berhubungan secara langsung dengan jarakjarak antar manusia, walaupun ada tiga orientasi dari orang lain: berhadapan, sating membelakangi, dan searah.

Menurut Edward T. Hall, seorang antropolog, bahwa dalam interaksi sosial terdapat empat zona spasial yang meliputi: jarak intim, jarak per¬sonal, jarak sosial, dan jarak publik. Kajian ini kemudian dikenal dengan istilah Proksemik (kedekatan) atau cara seseorang menggunakan ruang dalam berkomunikasi (dalam Altman, 1975).

Pertama, jarak intim adalah jarak yang dekat/akrab atau keakraban dengan jarak 0 - 18 inci. Menurut Hall pada jarak yang akrab ini kemunculan orang lain adalah jelas sekali dan mungkin suatu saat akan menjadi sangat besar karena sangat meningkatnya masukan pancaindera. Penglihatan, papas tubuh orang lain, suara, bau, dan tarikan napas, semuanya menyatu sebagai tanda yang sangat jelas tentang keterlibatan orang lain. Pada jarak 0 - 6 inci (fase dekat pada jarak intim), kontak fisik merupakan suatu hal yang teramat penting. Hall menggambarkan, bahwa pada jarak ini akan mudah terjadi pada saat orang sedang bercinta, olahraga gulat, saling

menyenangkan, dan melindungi. Pada jarak ini ke mungkinan untuk menerima dan menyampaikan isyarat-isyarat komunikasi adalah sangat luar biasa. Seseorang dapat melihat dengan jelas keseluruhan orang yang sedang dihadapinya seperti tekstur kulitnya, kerut dan cacat wajahnya, warna matanya, tingkat keputihan bola matanya, kerutan pada keningnya, dan mulutnya. Pada jarak sedekat itu kita lebih dari sekedar melihat. Seseorang dapat menyentuh hampir semua bagian tubuh orang terebut atau dengan mudah memeluknya. Seseorang dapat membaui napas dan parfum, merasakan perbedaan panas tubuh dan deru napasnya. Hall menyimpulkan bahwa pada "daerah keakraban" tersebut kaya akan syarat-syarat yang potensial untuk berkomunikasi, yang juga menyajikan banyak hal tentang seseorang. Mungkin juga kondisi seperti ini, yang dikatakan Hall sebagai jarak yang biasanya diperuntukkan kepada "intimate lovers"— pasangan kekasih yang sudah sangat intim— dan suami istri, tidak disetujui umum.

Jika daerah/zona ini menyenangkan dalam suatu situasi, yaitu ketika seseorang berinteraksi dengan orang lain yang dicintainya, mungkin akan menjadi tidak menyenangkan dalam situasi lain. Misalnya, ketika orang dengan tidak sengaja terpaksa untuk masuk ke dalam elevator yang penuh sesak, mereka seringkali menjadi tidak bergerak/kaku, melihat dengan gugup kepada nomor-nomor lantai. Hal ini mungkin juga sebagai tanda bahwa mereka menyadari telah sating melanggar "jarak kedekatan" (intimate distance), tetapi berusaha untuk berbuat yang terbaik untuk menghindari interaksi yang tidak pantas.

Zona yang kedua adalah personal distance (jarak pribadi), yang memiliki jarak antara 1,5 - 4 kaki. Jarak ini adalah karak teristik kerenggangan yang biasa dipakai individu satu sama lain. Gangguan di luar jarak ini menjadi tidak menyenangkan. Jarak pribadi ini masih mengenal pembagian fase menjadi dua: fase dekat (1,5 - 2,5 kaki) dan fase jauh (2,5 - 4 kaki). Pada fase dekat masih memungkinkan banyak sekali pertukaran sentuhan, bau, pan dangan, dan isyarat-isyarat lainnya, meski tidak sebanyak pada intimate distance. Otot-otot wajah, pori-pori, dan rambut wajah, masih nampak/dapat dilihat, sama halnya pada intimate zone. Hall merasa bahwa pada fase dekat pada jarak personal ini diperuntukkan bagi pasangan intim. Pada fase jauh yang meliputi jarak 2,5 - 4 kaki, jaraknya dapat memanjang sampai jarak dimana masing-masing orang dapat sating menyentuh dengan mengulurkan tangannya. Di luar jarak ini menurut Hall seseorang tidak dapat dengan mudah memegang tangan orang lain. Pada jarak ini komunikasi halus (fine grain communication) masih dapat diamati, termasuk warna rambut, tekstur kulit, dan roman muka. Isyarat suara masih banyak, namun bau dan panas tubuh kadang-kadang tidak terdeteksi jika tidak menggunakan parfum. Zona jarak pribadi adalah transisi antara kontak intim dengan tingkah laku umum yang agak formal.

Daerah ketiga adalah jarak sosial (social distance), yang mempunyai jarak 4 - 25 kaki dan merupakan jarak-jarak normal yang memungkinkan terjadinya kontak sosial yang umum serta hubungan bisnis. Dalam penelitian di suatu kantor terbukti bahwa pada susunan bangku-bangku dan perabotan milik kantor sering disusun ternyata secara tak sengaja berdasarkan pada zona jarak sosial.

Pada bagian yang dekat dengan zona sosial tau pada jarak 4 - 7 kaki, kontak visual tidak begitu terselaraskan dengan baik dibandingkan dengan daerah-daerah lainnya. Isyarat-isyarat vokal seperti kekerasan dan tinggi rendahnya suara dapat dengan mudah dideteksi, tetapi panas tubuh dan isyarat-isyarat sentuhan lainnya menjadi relatif tidak penting. Interaksi di antara orang yang secara dekat bekerja bersama dan di antara perkenalan-perkenalan yang terjadi secara kebetulan pada jarak ini, dan hal itu adalah jarak yang dapat diterima dan pantas dalam lingkungan umum. Hasil pengamatan Hall, bahwa orang-orang yang ada di bandara atau dalam percakapan umum di jalan-jalan dan kantor-kantor seringkali menjaga jarak satu sama lain di dalam range ini.

Fase yang ketiga adalah fase jauh atau dalam jarak 7 - 12 kaki, seringkali lebih formal, dimana pengamatan visual secara terinci seringkali terlewatkan, meskipun seluruh tubuh orang lain dapat dengan mudah dilihat. Panas tubuh, sentuhan dan bau biasanya tidak lagi ada pada jarak ini.

Daerah yang keempat/terakhir adalah Zona Publik, yaitu pada jarak 12 - 25 kaki atau jarak-jarak dimana isyarat-isyarat komunikasi lebih sedikit dibandingkan dengan daerah-daerah terdahulu. Jarak ini secara khusus disediakan untuk situasi-situasi formal atau pembicaraan umum atau orang-orang yang berstatus lebih tinggi, misalnya dalam kelas.



E. TERITORIALITAS

Holahan (dalam Iskandar, 1990), mengungkapkan bahwa teritorialitas adalah suatu tingkah laku yang diasosiasikan pemilikan atau tempat yang ditempatinya atau area yang sering melibatkan ciri pemilikannya dan pertahanan dari serangan orang lain. Dengan demikian menurut Altman (1975)

penghuni tempat tersebut dapat mengontrol daerahnya atau unitnya dengan benar, atau merupakan suatu teritorial primer.
Apa perbedaan ruang personal dengan teritorialitas? Seperti pendapat Sommer dan de War (1963), bahwa ruang personal dibawa kemanapun seseorang pergi, sedangkan teritori memiliki implikasi tertentu yang secara geografis merupakan daerah yang tidak berubah-ubah.

1. Elemen-elemenTeritorialitas
Menurut Lang (1987), terdapat empat karakter dari teritorialitas, yaitu:
(1) kepemilikan atau hak dari suatu tempat;
(2) personalisasi atau penandaan dari suatu area tertentu;
(3) hak untuk mempertahankan diri dari gangguan luar; dan
(4) pengatur dari beberapa fungsi, mulai dari bertemunya kebutu han dasar psikologis sa.mpai kepada kepuasan kognitif dan kebutuhan-kebutuhan estetika.

Porteus (dalam Lang, 1987) mengidentifikasikan 3 kumpulan tingkat spasial yang salirig terkait satu sama lain:
1. Personal space, yang telah banyak dibahas di muka.
2. Home Base, ruang-ruang yang dipertahankan secara aktif, misalnya
rumah tinggal atau lingkungan rumah tinggal.
3. Home Range, seting-seting perilaku yang terbentuk dari bagian
kehidupan seseorang.

Dalam usahanya membangun suatu model yang memberi perhatian secara khusus pada desain lingkungan, maka Hussein EI-Sharkawy (dalam Lang, 1987) mengidentifikasikan empat tipe teritori yaitu: attached, central, supporting, & peripheral.
1. Attached Territory adalah "gelembung ruang" sebagaimana telah dibahas dalam ruang personal.
2. Central Territory, seperti rumah seseorang, ruang kelas, ruang kerja,
dimana kesemuanya itu kurang memiliki personalisasi; Oscar Newman menyebutnya. "ruang privat".
3. Supporting Territory adalah ruang-ruang yang bersif at semi privat dan
semi publik. Pada semi privat terbentunya ruang terjadi pada ruang duduk asrama, ruang duduk/santai di tepi kolam renang, atau area- area pribadi pada rumah tinggal seperti pada halaman depan rumah yang berfungsi sebagai pengawasan terhadap kehadiran orang lain. Ruang-ruang semi publik antara lain adalah: salah satu sudut ruangan dalam toko, kedai minum (warung), atau jalan kecil di depan rumah. Semi privat cenderung untuk dimiliki, sedangkan semi publik tidak dimiliki oleh pemakai.
4. Peripheral Territory adalah ruang publik, yaitu area-area yang dipakai oleh individu-individu atau suatu kelompok tetapi tidak dapat memiliki dan menuntutnya.

Sementara itu, Altman membagi teritorialitas menjadi tiga, yaitu: teritorial primer, teritorial sekunder, dan teritorial umum.

1. Teritorial Primer
Jenis teritori ini dimiliki serta dipergunakan secara khusus bagi pemiliknya. Pelanggaran terhadap teritori utarna ini akan mengakibatkan timbulnya perlawanan dari pemiliknya dan ketidakmampuan untuk mempertahankan teritori utama ini akan mengakibatkan masalah yang serius terhadap aspek psikologis pemiliknya, yaitu dalam hal harga diri dan identitasnya. Yang termasuk dalam teritorial ini adalah ruang kerja, ruang tidur, pekarangan, wilayah negara, dan sebagainya.

2. Teritori Sekunder
Jenis teritori ini lebih longgar pemakaiannya dan pengontrolan oleh perorangan. Teritorial ini dapat digunakan oleh orang lain yang masih di dalam kelompok ataupun orang yang mempunyai kepentingan kepada kelompok itu. Sifat teritorial sekunder adalah semi-publik. Yang termasuk dalam teritorial ini adalah sirkulasi lalu lintas di dalam kantor, toilet, zona servis, dan sebagainya.

3. Teritorial Umum
Teritorial umum dapat digunakan oleh setiap orang dengan mengikuti aturan-aturan yang lazim di dalam masyarakat dimana teritorial umum itu berada. Teritorial umum dapat dipergunakan secara sementara dalam jangka waktu lama maupun singkat. Contoh teritorial umum ini adalah taman kota, tempat duduk dalam bis kota, gedung bioskop, ruang kuliah, dan sebagainya. Berdasarkan pemakaiannya, teritorial umum dapat dibagi menjadi tiga yaitu: Stalls, Turns, dan Use Space.

a. Stalls
Stalls merupakan suatu tempat yang dapat disewa atau diper gunakan dalam jangka waktu tertentu, biasanya berkisar antara jangka waktu lama dan agak lama. Contohnya adalah kamar-kamar di hotel, kamar-kamar di asrama, ruangan kerja, lapangan tenis, sampai ke bilik telepon umum. Kontrol terhadap stalls terjadi pada saat penggunaan saja dan akan berhenti pada saat penggunaan waktu habis.
b. Turns
Turns mirip dengan stalls, hanya berbeda dalam jangka waktu penggunaannya saja. Turns dipakai orang dalam waktu yang singkat, misalnya tempat antrian karcis, antrian bensin, dan sebagainya.
c. Use Space
Use Space adalah teritori yang berupa ruang yang dimulai dari titik kedudukan seseorang ke titik kedudukan objek yang sedang diamati seseorang. Contohnya adalah seseorang yang sedang mengamati objek lukisan dalam suatu pameran, maka ruang antara objek lukisan dengan orang yang sedang mengamati tersebut adalah Use Space" atau ruang terpakai yang dimiliki oleh orang itu. serta tidak dapat diganggu- gugat selama orang tersebut masih mengamati lukisan tersebut.

Privasi suatu lingkungan dapat dicapai melalui pengontrolan teritorial. arena di dalamnya tercakup pemenuhan kebutuhan dasar manusia yang meliputi:
1. Kebutuhan akan identitas, berkaitan dengan kebutuhan akan
kepemilikad, kebutuhan terhadap aktualisai diri, yang pada prinsipnya adalah dapat menggambarkan kedudukan serta peran seseorang dalam masyarakat;
2. Kebutuhan terhadap stimulasi yang berkaitan erat dengan aktualisasi
dan pemenuhan diri;
3. Kebutuhan akan rasa aman, dalam bentuk bebas dari kecaman, bebas
dari serangan oleh pihak luar, dan memiliki keyakinan diri;
4. Kebutuhan yang berkaitan dengan pemeliharaan hubungan dengan pihak-pihak lain dan lingkungan sekitarnya (Lang dan Sharkawy dalam Lang, 1987).
Menurut Fisher dkk. (1984), pada teritori-teritori utama, suatu keluarga memiliki peraturan-peraturan teritorial yang memfasilitasi berfungsinya rumah tangga. Hal ini mendukung organisasi sosial keluarga dengan cara memperbolehkan perilaku-perilaku tertentu dilakukan oleh beberapa anggotanya, pada daerah-daerah tertentu (misalnya: orang tua dapat membangun keintiman di kamar tidur tanpa terganggu). Dalam satu studi tentang teritorialitas dalam kehidupan keluarga, ditemukan bahwa orang¬orang yang berbagi kamar tidur menunjukkan perilaku teritorial, seperti halnya individu-individu di meja makan (misalnya: dengan adanya pola tempat duduk). Anggota keluarga umumnya menghormati tanda-tanda teritorial yang lain, seperti misalnya pintu yang ditutup dan pelanggaran aturan-aturan teritorial seringkali berakibat pada penghukuman orang-orang yang melanggarnya.

Perilaku teritorial dalam kelompok tidak terbatas pada teritori utama saja. Lipman (1967) menemukan bahwa rumah peristirahatan membuat klaim yang hampir eksklusif atas kursi-kursi tertentu dalam ruang sehari-hari. Mereka mempertahankan "teritori" mereka meskipun akan mengakibatkan ketidaknyamanan fisik dan psikologis.

Pada suatu studi yang juga mendukung asumsi Altman (1975) tentang pembedaan konseptual antara teritori primer, sekunder dan umum, Taylor dan Stough (1978) menemukan bahwa subjek mela porkan merasa memiliki kendali yang lebih besar di teritori primer (misalnya kamar di asrama), diikuti oleh teritori sekunder (misalnya sekretariat perkumpulan) dan teritori umum (misalnya tempat minum, bar atau kafetaria). Pada banyak penelitian, perasaan mengendalikan atau mengontrol ini berkaitan dengan perasaan puas dan sejahtera (sense of well being), seperti juga efek positif lainnya (misalnya implikasi yang menguntungkan terhadap kesehatan). Dan studi yang dilakukan oleh Edney (1975) terhadap mahasiswa Universitas Yale memperjelas manfaat tambahan dari perasaan rnerasa berada di wilayah sendiri.

Penelitian ini dilaksanakan di kamar salah seorang dari pasangan yang ada, di suatu asrama (teritori primer), dimana anggota yang lain menjadi "tamu pengunjung". Subjek yang berada di wilayahnya sendiri dinilai (rated) oleh si tamu 13bih santai, daripada si pemilik tempat menilai tamunya, dan pemilik kamar menilai kamarnya lebih menyenangkan dan bersifat pribadi, daripada si tamu. Pemilik kamar juga menunjukkan perasaan kontrol pasif yang lebih besar. Pada studi yang berhubungan, Edney dan Uhlig (1977) melaporkan bahwa subjek yang terdorong untuk berpikir bahwa Lamar tersebut adalah teritorinya lebih tidak bergairah, mengatribusikan perila kunya lebih kepada kamarnya, dan menemukan setting tersebut lebih menyenangkan daripada yang lainnya dalam Lelompok kontrol.

Menurut Altman (1975), teritorial bukan lianya alat untuk menciptakan privasi saja, melainkan berfungsi pula sebagai alat untuk menjaga keseimbangan hubungan sosial.

Perilaku teritorialitas manusia dalam hubungannya dengan lingkungan binaan dapat dikenal antara lain pada penggunaan elemen-elemen fisik untuk menandai demarkasi teritori yang dimiliki seseorang, misalnya pagar halaman. Teritorialitas ini terbagi sesuai dengan sifatnya yaitu mulai dari yang privat sampai dengan publik. Ketidakjelasan pemilikan teritorial akan menimbulkan gangguan terhadap perilaku.

LATIHAN SOAL
1. Bagaimana menjelaskan hubungan antara kepadatan dan kesesakan?
2. Sebutkan kategori kepadatan menurut Holahan dan Altman!
3. Kesesakan tidak selalu menimbulkan pengaruh yang negatif. Coba terangkan!
4. Apa kaitan antara desain arsitektur dengan kesesakan?
5. Bagaimana menurut anda cara mencapai privasi penghuni rumah dengan desain banyak menggunakan bukaan (kaca atau jendela terbuka)?
6. Apa perbeciaan mendasar antara teritorialitas dengan ruang personal?
7. Apa implikasi konsep teritorialitas terhadap desain rumah tinggal?


Jadikan setiap Postingan untuk ajang DISKUSI dan saling BERBAGI agar ilmu anda semakin berkembang dan berguna bagi orang lain.

Gunakan Kolom Komentar di bawah ini untuk menyampaikan PENDAPAT/ OPINI sebagai bentuk partisipasi untuk mencerdaskan bangsa.




read more

Kelompok Pemakai Dalam Arsitektur dan Psikologi

1 komentar
Pembahasan tentang kelompok pemakai pada bab ini berkaitan amat dengan konsep-konsep yang telah disajikan terdahulu dimana kesemuanya itu merupakan bagian dari "Ruang Lingkup Informasi Lingkungan-Perilaku". Dalam membahas kelompok pemakai ini, maka pembagian yang mungkin dapat dilakukan dengan tiga pendekatan yaitu:
a. berdasarkan perkembangan manusia dan
b. berdasarkan kelompok aktivitas tertentu
c. berdasarkan kelompok dengan karakteristik tertentu

Kelompok pemakai berdasarkan perkembangan manusia adalah hal¬hal yang berhubungan dengan perkembangan manusia semenjak lahir sampai usia lanjut. Pendekatan ini akan banyak disajikan dalam bab ini, yang dalam pembahasannya akan disajikan beberapa implikasi desain terutama pada kelompok perkembangan tertentu.
Sementara kelompok pemakai berdasarkan kelompok aktivitas tertentu adalah berkaitan dengan seting atau latar (ingat: "Ruang Lingkup Informasi Lingkungan-Perilaku"), misalnya:
(a). seting pendidikan
yang digunakan oleh kelompok pemakai tertentu, dengan jenjang tertentu, dan dengan kebutuhan ruang tertentu; misalnya ruang kelas, asrama, laboratorium, ruang terbuka, dan perpustakaan;
(b). seting perkantoran;
(c). seting perumahan
yang digunakan oleh kelompok pemakai tertentu, dapat berdasarkan kelas sosial, tingkat penghasilan, gaya hidup, dan sebagainya; bentuknyapun beragam seperti unit hunian tunggal, rumah susun, rumah kopel, apartemen, dan sebagainya.
Kelompok dengan karakteristik tertentu adalah pengelompokan-pengelompokan individu berdasarkan pada karakter atau sifat-sifat tertentu, seperti: budaya, etnis, cacat fisik, kelas sosial, agama, dan sebagainya.

Pendekatan kedua dan ketiga ini tidak akan dibahas pada bab ini. Akan tetapi beberapa di antaranya akan dibahas pada bab-bab lain buku ini dan beberapa di antaranya tumpang tindih dengan pendekatan pertama.

A . PERKEMBANGAN MANUSIA

Perkembangan bukan merupakan suatu proses yang terputus-putus dan terpisah-pisah, melainkan suatu proses dinamis yang berlangsung terus menerus (suatu kontinum). Meksipun banyak ahli menggunakan istilah-istilah periode, fase, atau stadium untuk menjelaskan gejala-gejala perilaku yang menonjol dalam masa perkembangan tertentu, istilah tersebut tidak bermaksud memberikan garis batas yang tegas antara masa yang satu dengan masa yang lain (misalnya antara masa remaja dan masa dewasa). Secara umum harus dimengerti bahwa perkembangan adalah suatu kontinum. Dengan demikian, suatu fase perkembangan selalu berhubungan dengan fase sebelum dan sesudahnya.

Perkembangan dan Pertumbuhan. Mahasiswa sering dibingungkan oleh arti istilah perkembangan dan pertumbuhan. Secara umum perkembangan merupakan perubahan-perubahan psikologis atau mental yang dialami individu dalam proses menjadi dewasa. Perubahan-perubahan tersebut terbentuk dimana seluruh aspek kepribadian individu semakin terdeferensiasi tetapi segala aspek yang berkembang itu terorganisasi menjadi satu totalitas.

Sementara itu, pertumbuhan berarti perubahan-perubahan fisik/biologis ke arah kemasakan fisiologis, yaitu organ-organ tubuh dapat berfungsi secara optimal. Pertumbuhan hanya terjadi sekali saja dan tidak dapat diulang.

B . TAHAP-TAHAP PERKEMBANGAN MANUSIA
Menurut Dwi Riyanti dkk. (1997) terdapat sembilan tahap perkembangan manusia, antara lain adalah:
1. Periode Pranatal
2. Periode Bayi
3. Periode Kanak-Kanak Awal (Early Childhood).
4. Periode Kanak-Kanak Akhir (Late Childhood)
5. Periode Pubertas (Akhil Balik)
6. Periode Remaja (Adolescence)
7. Periode Dewasa Awal (Early Adulthood)
8. Periode Dewasa Madya (Middle Adulthood/Middle Age) 9. Periode Usia Lanjut (Late Adulthood/Old Age)

Berikut ini akan diuraikan secara umum perkembangan manusia dari dalam kandungan sampai usia tua. Pembahasan hanya ditekankan pada ciri-ciri perilaku yang menonjol dalam periode perkembangan tertentu, faktor-faktor penting yang harus diperhatikan dalam masa tersebut, serta beberapa implikasi desain yang relevan.

1 . Periode Pranatal
Periode ini sangat penting artinya karena selama dalam kandungan terjadi pembentukan wujud manusia yang akibat-akibatnya terus berpengaruh sepanjang hidup. Hal-hal penting yang terjadi pada fase ini, pertama, terjadi pengalihan ciri-ciri genetis dari kedua orang tua. Bila terjadi gangguan dalam proses ini, maka balk ciri-ciri fisik maupun psikologisnya dimasa mendatang juga akan terpengaruh. Kedua, pembentukan semua organ tubuh, termasuk yang menentukan jenis kelamin seseorang. Gangguan dalam proses ini akan mengakibatkan cacat bawaan. Ketiga, Iingkungan dalam perut yang banyak dipengaruhi oleh kondisi psikologis dan fisik ibu ketika mengandung mempunyai dampak psikologis tertentu.

2. Periode Bayi
Perilaku bayi dalam periode ini masih bersifat sembarangan hampir tanpa arti, dan kurang terkendali. Perilaku seperti ini disebut masa activity. Akan tetapi bayi juga menunjukkan perilaku-perilaku spesifik (specific activi-ties), termasuk beberapa jenis refleks yang terjadi bila ada rangsang dari luar. Periode selanjutnya (babyhood/bayi) terdapat pembentukan dasar-dasar kepribadian individu. Periode bayi berlangsung selama dua tahun sejak masa jabang bayi. Periode ini adalah usia terjadinya perubahan dan pertumbuhan yang amat cepat, sekaligus semakin berkurangnya ketergantungan anak pada ibunya, dan awal munculnya individualitas.

Pada usia-usia awal ini individu mulai belajar mengenal orang lain di luar dirinya dan ibunya dan harus menyesuaikan did dengan berbagai tuntutan lingkungan (sosialisasi). Tuntutan lingkungan tadi antara lain adalah peran seksual (sex role typing), yaitu apa yang diharapkan sebagai anak laki-laki atau anak perempuan.
Ciri menonjol lain dalam usia awal ini adalah keingintahuan yang besar sekali. Walau koordinasi otot dan kekuatan fisik belum sempurna, tetapi bayi sudah sejak dini melakukan berbagai percobaan dengan Iingkungan, balk dengan cara menggigit, meraba-raba, mencium, membanting atau melempar sesuatu. Masa-masa bayi adalah masa-masa tumbuhnya kreativitas dimasa mendatang.

Periode bayi juga masa yang penuh tugas-tugas penting, antara lain belajar berbicara dengan bahasa ibu, belajar berbagai aturan sederhana dalam lingkungannya, serta belajar menggunakan berbagai organ tubuh untuk tugas-tugas fungsional yang sesuai (misal: untuk tangan bayi belajar menggenggam, melepas, dan melempar). Oleh karena itu, periode bayi dianggap sebagai nnulainya masa peka (critical period) untuk ketrampilan berbahasa dan penguasaan organ-organ tubuhnya.


Implikasi Desain

Stimulasi. Stimulasi adalah perangsang atau pendorong untuk membangkitkan suatu perilaku tertentu. Stimulasi ini amat diperlukan baik pada Periode Pranatal maupun pada Periode Bayi. Penelitian Profesor Bruner (dalam Sigit Sidi, 1988) menemukan bahwa bayi yang berkembang dalam situasi sunyi perkembangannya akan tertinggal selama tiga bulan dibandingkan dengan bayi yang berkembang pada situasi ruangan yang penuh semarak dan terbuka terhadap komunikasi dengan dunia luar. Oleh karena itu, ruangan terbaik pada hunian keluarga bagi bayi adalah ruangan yang langsung berhubungan dengan dunia luar; yang memiliki jendela-jendela lebar, terbuka dalam pengertian terhadap masuknya suara-suara dari luar dan penuh dengan hiasan-hiasan yang berwarna-warni pada elemen-elemen ruangannya.

Ruangan Untuk Bergerak atau Bermain. Rasa ingin tahu yang besar sekali serta secara dini melakukan berbagai percobaan dengan lingkungan (seperti menggigit, meraba-raba, mencium, membanting atau melempar sesuatu) secara fisik keruangan tentunya membawa implikasi ruangan yang cukup untuk bergerak. Ruang-ruang yang ada di dalam ataupun di luar rumah dapat dimanfaatkan dengan balk untuk mewadahi aktivitas-aktivitas pada periode ini. Yang menjadi pertimbangan penting pada kondisi ini adalah bahwa dalam menggunakan ruang-ruang di rumah, pengawasan dari orang tua ataupun pengasuh harus mendapat perhatian secara fisik keruangan. Jika seorang ibu sedang memasak di dapur, maka aktivitas anaknya harus tidak lepas dari perhatiannya meskipun aktivitas tersebut tidak berada di dapur.

3. Periode Kanak-Kanak Awal (Early Childhood).
Periode ini dihitung sejak anak sudah berusia dua tahun sampai berusia enam tahun. Orang tua sering memandang periode ini sebagai masa-masa yang sulit. Anak menjadi luar biasa nakalnya, suka membantah orang tua dan banyak bertanya. Ini terjadi karena anak yang sudah mulai bisa mengkoordinasikan tubuhnya dan lebih mengenal lingkungannya merasa lebih mandiri. Ia mulai sadar bahwa sampai tahap tertentu ia bisa mengatasi lingkungannya tanpa bantuan orang lain. Ia juga semakin tahu bahwa ia tidak harus selalu tunduk pada lingkungan, entah itu suatu situasi, benda, atau orang tuanya sendiri.

Ciri perilaku yang menonjol dalam usia ini adalah semakin baiknya penguasaan terhadap tangan dan kakinya. Bahkan anak sudah cenderung secara tetap menggunakan satu tangan untuk melakukan satu pekerjaan (handedness). Kemampuan bahasa lebih baik, termasuk mengucapkan kata¬kata, susunan kalimatnya, dan frekuensi bicaranya. Masa ini dikatakan usia cerewet atau chatterbox age. Pada usia ini anak juga sudah terlibat dalam permainan-permainan yang lebih berstruktur dengan teman-teman sebayanya. Di akhir periode kanak-kanak awal, anak sudah bisa diatur oleh orang lain dan berinteraksi sebagai teman dengan anak-anak sebayanya. Perkembangan ini menentukan kesiapan anak untuk masuk sekolah.

Para psikolog berpendapat bahwa periode ini adalah masa umur berkelompok (gang-age). Anak-anak cenderung berkumpul dengan sebayanya yang berjenis kelamin sama, dan gaya bahasa yang sama. Dalam kelompok ini anak-anak belajar tunduk pada kemauan orang banyak (kelompoknya). Oleh karena itu, Para ahli psikologi juga menyebut sebagai umur konformitas.

Perkembangan fisik mulai berjalan lambat, tetapi pada usia ini anak mulai belajar banyak ketrampilan lain, diantaranya: ketrampilan-ketrampilan yang diajarkan di sekolah (school skills), bermain (play skills), dan mengurus dirinya sendiri (self-help skills).

4. Periode Kanak-Kanak Akhir (Late Childhood)
Periode ini mulai sejak anak-anak berusia 6 tahun sampai organ-organ seksualnya masak. Kemasakan seksual ini sangat bervariasi baik antar jenis kelamin maupun antar budaya yang berbeda. Tetapi pada umumnya dapat diambil patokan 12-13 tahun untuk wanita, dan 14-15 tahun untuk laki-laki.
Dalam usia sekolah, anak-anak sudah jauh lebih mandiri. Anak mulai membandingkan segala sesuatu di rumahnya dengan yang is temui di luar, baik di sekolah maupun di rumah teman-temannya. Norma-norma moral yang tadinya absolut di rumah, kini menjadi relatif. Oleh karena itu, anak¬anak dalam usia ini suka membantah dan membanding-bandingkan.

Implikasi Desain

Ruangan Untuk Bergerak. Semakin baiknya fungsi motorik berupa penguasaan terhadap tangan dan kakinya, menyebabkan anak akan makin mengenal dunia luar di sekelilingnya. la sudah dapat berbicara dan berjalan, sehingga ketergantungan dengan orang lain semakin berkurang. Untuk mewadahi aktivitas-aktivitas ini, diperlukan ruang (baik di dalam maupun di luar), sehingga anak akan memperoleh sesuatu yang berharga sesuai dengan kebutuhannya.

Playground. Kecenderungan berkumpul dengan sebayanya (peer group) dan belajar bermain (play skills) membawa implikasi desain tertentu. Menurut Moore (1994) dalam studi mengenai rancangan perumahan ditemukan banyak keluhan tidak memadainya kesempatan bagi anak dalam melakukan kegiatan di luar ruangan (outdoor activities). Pada rumah-rumah susun juga ditemukan bahwa mayoritas pemakai outdoor adalah anak-anak, dimana kebanyakan terjadi pada tiga lantai terbawah. Selebihnya (lantai keempat ke atas), para orangtua tidak mengijinkan anak-anaknya bermain di luar ruangan kecuali dengan pengawasan ketat. Walaupun sudah diperhitungkan bahwa anak¬anak merupakan pengguna terbesar ruang-ruang publik, tempat bermain (playground), dan taman, akan tetapi ternyata kesemuanya itu tidak dapat memenuhi sebagian besar kebutuhan mereka.

Menurut Hayward dkk. (dalam Proshansky, 1976), bermain bagi anak adalah sesuatu bagian denting bagi perkembangan aspek-aspek kognitif, fisik, sosial, dan emosi. Melalui bermain anak akan banyak belajar tentang dirinya dan dunianya. Hayward dkk. telah menemukan tiga jenis playground, yaitu: tradisional, kontemporer, dan avonturir.

Tradisional adalah playground yang paling sering kita jumpai, seperti ayunan atau timbangan.

Kontemporer adalah playground yang sebenarnya hampir sama dengan yang tradisional, tetapi dikembangkan ke dalam bentuk-bentuk baru, seperti papan luncur atau mainan tangga.

Sementara avonturir adalah playground yang semula dikembangkan di Eropa (tepatnya di Inggris). Konsepnya adalah menyediakan material-mate¬rial dasar untuk bermain, sehingga akan memberikan kesempatan yang luas bagi anak; dan bukannya menyediakan perlengkapan untuk bermain sebagaimana yang terjadi pada playground yang tradisional dan kontemporer. Playgruond ini dirancang di suatu tempat yang kosong, yang dikelilingi pagar, sehingga anak memiliki kebebasan mengembangkan rencana-rencana atau merencanakan ulang area tersebut sesuai dengan perkembangan minatnya.

5. Periode Pubertas (Akhil Balik)
Menurut Elizabeth Hurlock pubertas adalah masa dalam perkembangan manusia ketika anak-anak berubah dari makhluk aseksual menjadi makhluk seksual.
Masa pubertas ditandai dengan masaknya organ-organ reproduksi sehingga secara fisik-biologis remaja sudah siap beranak-pinak. Kemasakan organ-organ seksual ini juga mengubah pola sosialisasi anak. Bila dalam periode kanak-kanak akhir, individu lebih tertarik pada teman-teman yang berjenis kelamin sama, maka dalam masa pubertas daya tarik heteroseksual mulai menjadi jauh lebih kuat.

Periode pubertas merupakan suatu periode tumpang tindih (overlap-ping period) yaitu saat-saat di akhir masa kanak-kanak dan awal masa remaja. Walau tidak berlangsung lama (kira-kira umur 12-14 tahun untuk wanita, dan 13-15 tahun untuk laki-laki), periode pubertas merupakan masa-masa yang cukup sulit bagi individu. Timbulnya tanda-tanda seksual sekunder pada bagian tubuh tertentu tidak jarang cukup mengejutkan. Mesntruasi pertama pada wanita (menarche) atau mimpi basah pada pria (wet dream atau noctural ejaculation), bila tidak dipersiapkan atau dijelaskan bisa membuat individu malu dan merasa rendah diri. Kesulitan-kesulitan penyesuaian diri dalam usia-usia ini sering mereka alami.

Ciri-ciri utama periode pubertas adalah selain tumbuhnya tanda-tanda seksual sekunder, tubuh mengalami pertumbuhan yang cukup pesat (tinggi dan atau besar badan). Selain itu perilaku ditandai dengan negativisme, yaitu sering menyendiri (sering bertengkar dengan saudara dan teman sebaya); bosan dengan berbagai aktivitas yang biasanya digemari; hidup seenaknya (tidak. rapi, canggung); antagonistik, menentang kehendak orang¬orang yang is hormati, bermusuhan dengan teman-teman yang berlainan jenis (sikap ini akan menjadi sebaliknya di akhir masa pubertas), suasana hatinya mudah berubah dari melankolik menjadi pemarah, mudah tersinggung dan tertekan batinnya; kurang percaya diri dan ketakutan akan kegagalan menjadi lebih besar; dan mereka menjadi lebih sopan dari biasanya karena mereka takut orang lain berkomentar negatif atas perubahan-perubahan yang terjadi pada dirinya. Penerimaan dan penolakan terhadap berbagai perubahan dalam tubuhnya akan sangat mempengaruhi kesiapannya memasuki dunia dewasa dalam masa remaja.

6. Periode Remaja (Adolescence)
Periode remaja adalah masa transisi dalam periode anak-anak ke periode dewasa. Periode ini dianggap sebagai masa-masa yang amat penting dalam kehidupan seseorang khususnya dalam pembentukan kepribadian individu.

Masa remaja dibagi dua bagian yaitu
(1) periode remaja awal (early adolescence), yaitu berkisar antara umur 13-17 tahun, dan
(2) periode remaja akhir, yaitu umur 17-18 tahun.

Secara umum, periode remaja merupakan klimaks dari periode-periode perkembangan sebelumnya. Dalam periode ini apa yang diperoleh dalam masa-masa sebelumnya, diuji dan dibuktikan sehingga dalam periode selanjutnya individu telah mempunyai suatu pola pribadi yang lebih mantap.

Pertumbuhan fisik dalam periode pubertas terus berlanjut sehingga mencapai kematangan pada akhir periode remaja. Masalah-masalah sehubungan dengan perkembangan fisik pada periode pubertas (malu, atau rendah diri, takut gemuk, pengin punya kumis, dan lain-lain) masih berlanjut, tetapu akhirnya mereda.

Ciri-ciri yang menonjol pada usia-usia ini terutama terlihat pada perilaku sosialnya. Dalam masa-masa ini teman sebaya punya arti yang amat penting. Mereka ikut dalam kelompok-kelompok, klik-klik, atau gang-gang sebaya atau peer group yang perilaku dan nilai-nilai kolektifnya sangat mempengaruhi perilaku serta nilai-nilai individu-individu yang menjadi anggotanya. Inilah proses dimana individu membentuk pola perilaku dan nilai-nilai baru yang pada gilirannya bisa menggantikan nilai-nilai serta pola perilaku yang dipelajarinya di rumah.

Remaja adalah seorang idealis, is memandang dunianya seperti apa yang is inginkan, bukan sebagaimana adanya. la suka mimpi-mimpi yang sering membuatnya marah, cepat tersingung atau frustrasi. Selain itu, oleh keluarga dan masyarakat is dianggap sudah menginjak dewasa, sehingga diberi tanggung jawab layaknya seorang yang sudah dewasa. la mulai memperhatikan prestasi dalam segala hal, karena ini memberinya nilai tambah untuk kedudukan sosialnya di antara teman sebaya maupun orang-orang dewasa.
Periode remaja adalah periode pemantapan identitas diri. Pengertiannya akan "siapa aku" yang dipengaruhi oleh pandangan orang-orang sekitarnya serta pengalaman-pengalaman pribadinya akan menentukan pola perilakunya sebagai orang dewasa.

Pemantapan identitas diri ini tidak selalu mulus, tetapi sering melalui proses yang panjang dan bergejolak. Oleh karena itu, banyak ahli menamakan periode ini sebagai masa-masa strom and stress (badai dan tekanan), atau masa up and down.

Implikasi Desain
Ruang Privat Yang Terpisah. Para penghuni perumahan perkotaan di Indo-nesia setidaknya memiliki ciri-ciri berupa keluarga luas dan catur warga. Jika dalam tahun-tahun awal, suatu keluarga memiliki dua orang anak dengan jenis kelamin yang berbeda, kondisi ini bukanlah rnerupakan masalah besar dari segi pemenuhan ruang. Permasalahan akan timbul jika kedua anak tersebut mulai menginjak remaja dan berkembangnya keluarga dari keluarga inti menjadi keluarga luas. Kondisi ini akan membawa implikasi meningkatnya kebutuhan ruang secara kuantitatif, padahal untuk mendapatkan rumah dengan jumlah ruang yang memadai di perkotaan dalam kondisi masa kini amatlah sulit. Selain itu pada masa pubertas sampai remaja dimana perkembangan terjadi dari anak-anak (makhluk aseksual) menjadi makhluk seksual yang ditandai dengan masaknya organ-organ reproduksi secara fisik¬biologis, secara fisik keruangan tentunya memerlukan ruang privat yang terpisah antara remaja pria dan remaja wanita.

Peer Group. Menurut Monk dkk. (1996) pada masa remaja orientasi sosial individu beralih dari lingkungan keluarga (khususnya orang tua dan di lingkungan rumah) kepada kelompok sebaya/peer group (kebanyakan di luar lingkungan rumah), sehingga peranan teman sebaya menjadi lebih penting dalam membentuk pola-pola perilaku sosialnya. Oleh karena it diperlukan ruang-ruang di lingkungan perumahan atau kampung untuk mewadahi aktivitas remaja pada ma.sa ini. Ruang bersama ini dapat berupa ruang terbuka dan ruang untuk aktivitas-aktivitas tertentu (olahraga, kesenian, atau pertemuan). Pendapat ini diperkuat oleh Monk dkk (1996) yang menganggap para remaja mengalami lebih banyak kesukaran dalam "memanfaatkan" waktu luangnya daripada anak-anak dan mereka lebih sering melakukan hal-hal "to kill the time" (membunuh waktu). Waktu luang yang benar-benar membebaskannya adalah jika mereka diberi kesempatan untuk mengembangkan diri secara orisinal melalui aktivitas-aktivitas yang disukainya.

7. Periode Dewasa Awal (Early Adulthood)
Periode dewasa awal ini secara umum berkisar antara usia 18-40 tahun. Bila masa-masa sebelumnya dapat dianggap sebagai umur-umur pembentukan (formative years), maka periode dewasa secara umum adalah umur-umur pemantapan diri terhadap pola hidup baru (berkeluarga). Hura¬hura pada masa remaja sudah lewat, individu harus memikirkan hal-hal penting lain dalam hidupnya. Mereka mulai serius belajar demi karir dimasa yang akan datang, mulai memilih-milih pasangan yang lebih serius, dan cita¬citanya menjadi lebih reatistis. Sikap-sikap dan nilai-nilai remaja yang kadang¬kadang ekstrem mulai dikaji kembali dengan tenang, pengaruh teman sebaya banyak berkurang sehingga is bisa berfikir dan memutuskan berdasarkan kehendak sendiri. la mulai belajar berbagai peranan yang sudah menetap seperti: sebagai orangtua, sebagai dosen, pemimpin perusahaan, pemuka masyarakat, termasuk sebagai wanita dan laki-laki dewasa.

Implikasi Desain
Pengembangan Lingkungan Kampus. Pada masa permulaan Dewasa Awal, sebagian diantaranya adalah mereka yang mendapatkan kesempatan untuk belajar di perguruan tinggi. Lingkungan kampus yang menjadi tempat dimana mereka belajar untuk meraih masa depan yang lebih baik, idealnya tidak hanya bertujuan mengembangkan aspek kogriitif saja, melainkan juga bertujuan untuk mengembangkan kepribadian. Sehingga diperlukan wadah untuk menampung aktivitas-aktivitas tersebut. Sebagian besar kampus¬kampus di Indonesia umumnya hanya merancang ruang-ruang yang ditekankan pada kativitas-aktivitas kurikuler di dalam ruangan/kelas, seperti ruang kuliah, laboratorium, praktikum, perpustakaan, ruang serbaguna dan sebagainya. Sebagian kecil lagi di antara kampus-kampus tersebut juga menyediakan wadah untuk aktivitas-aktivitas ekstra-kurikuler secara memadai. Di hampir semua perguruan tinggi di Indonesia jarang dijumpai kampus yang merancang ruang-ruang publik sebagai penunjang kegiatan kurikuler secara memadai.

Ruang-ruang publik tersebut memiliki fungsi antara lain: sebagai media komunikasi informal, sebagai penunjang kegiatan kurikuler (untuk diskusi, mengerjakan pekerjaan rumah, laporan, atau makalah), dan sebagai tempat untuk menunggu waktu jeda kuliah. Kesemua fungsi tersebut ternyata memiliki sumbangan yang besar terhadap keberhasilan studi mahasiswa dan pembentukan kepribadian. Kelangkaan ruang publik tersebut akan berakibat antara lain adalah: terbentuknya ruang-ruang baru secara spontan yang difungsikan sebagai ruang publik atau menggunakan ruang-ruang lain untuk fungsi tersebut. Terbentuknya ruang-ruang tersebut antara lain adalah di kantin, ruang parkir, koridor, taman, dan sebagainya. Jika "ruang-ruang spontan" ini tidak dilengkapi dengan tempat duduk, maka yang akan terjadi adalah penggunaan lantai untuk mewadahi aktivitas-aktivitas yang mereka butuhkan.




8. Periode Dewasa Madya (Middle Adulthood/Middle Age)
Periode dewasa madya berkisar pada usia 40 - 60 tahun. Kehidupan mereka umumnya sudah mapan, berkeluarga, dan memiliki (beberapa) anak. Pada usia 40-an, anak-anak sudah meninjak remaja atau dewasa. Keadaan fisik mereka tidak sekuat atau setegar periode sebelumnya. Para wanita sedikit demi sedikit mulai kehilangan kecantikan serta keindahan tubuh, suatu modal utama yang sering dibanggakan. Berbagai penyakit fisik mulai bermunculan karena kerja keras selama ini, atau terlalu stress dalam kehidupan sehan-hari. Kehidupan rumah tangga mungkin sudah tidak semanis dulu lagi, anak-anak sudah tidak dirumah, dan kehidupan seks sudah tidak sehangat dulu lagi. Periode tengah umur adalah periode transisi seperti masa pubertas dan masa remaja. Individu harus mulai menyesuaikan diri lagi dengan berbagai perubahan fisik dan lingkungan sosialnya.

Meskipun demikian, para ahli nampaknya sependapat bahwa bagi laki¬laki dan wanita karir, periode ini adalah masa puncak keberhasilan. Inilah umur-umur dimana individu dapat mempengaruhi orang lain dengan otoritasnya serta membanggakan prestise yang ada padanya.

Periode tengah umur merupakan masa untuk melihat kembali ke masa lampau. Setelah semua keberhasilan diperoleh, logislah bahwa mereka mengevaluasi kembali keberhasilan-keberhasilan itu berdasarkan aspirasi¬aspirasi dan harapan-harapan mereka serta orang lain di sekitar mereka dimasa lalu. Hasil dari evaluasi seperti ini membawa pengertian diri yang lebih balk, dan sikap serta harapan yang lebih realistis terhadap dirinya.

Ciri-ciri perilaku yang menonjol dalam periode ini adalah adanya usaha¬usaha kontemplasi ke masa lalu; keseriusan kerja, serta usaha-usaha untuk mempertahankan keberhasilan yang telah diperoleh; perhatian kepada keluarga lebih dititik beratkan kepada anak-anak yang sudah menginjak dewasa. Kehidupan keluarga agak membosankan, oleh karena itu mereka cenderung punya perhatian yang besar pada aktivitas-aktivitas hiburan di luar rumah.

Dalam usia 50-an wanita mengalami menopouse, yaitu berhentinya kesuburan yang mengakibatkan depresi pada ibu-ibu. Selain itu menopouse memang diikuti oleh berbagai gejala psikosomatik seperti pusing-pusing, rasa capai yang amat sangat, sering berkeringat dingin diikuti bercak-bercak merah di wajah dan di leher, cepat nervus dan tidak bisa tenang. Menopouse juga berarti hilangnya salah satu ciri kewanitaan yang diikuti oleh gejala¬gejala fisik lain, yaitu bulu-bulu ditubuh menjadi lebih kasar, buah dada kempes, suara sedikit lebih berat, dan bulu-bulu di genital berkurang.

Laki-laki tengah baya juga mengalami keadaan serupa dengan wanita. Gejala-gejala yang dialami pria disebut dimacteric syndrome. Meskipun demikian, dimacteric syndrome ini tidak persis sama dengan menopouse dan rata-rata baru dialami pada usia 60-70 tahunan. Pada saat itu aktivitas kelenjar gonad sudah berkurang, demikian juga dorongan seksual dan Jaya tahan tubuhnya. Laki-laki sering merasa terlalu kawatir akan penampilannya sebagai laki-laki dan mengalami gangguan psikosomatik seperti gangguan pencernaan, pusing-pusing, dan imsomnia (sulit tidur).

9. Periode Usia Lanjut (Late Adulthood/Old Age)
Manusia usia lanjut (manula) merupakan periode terakhir dalam hidup manusia, yaitu umur 60 tahun ke atas. Masa ini adalah saat-saat untuk mensyukuri segala sesuatu yang sudah ia capai dimasa lalu. Pada saat ini keadaan fisiknya sudah jauh menurun, bahkan ia mungkin juga sudah pensiun. Oleh karena itu, berbagai masalah juga harus mereka hadapi. Kesejahteraan ekonomi, status sosial, ditinggalkan pasangan, dan nilai-nilai yang berubah cepat merupakan sumber-sumber masalah utama yang harus mereka hadapi. Bagi mereka yang biasa bekerja, masa pensiun merupakan suatu cobaan yang cukup berat karena ini menimbulkan perasaan tidak berguna lagi (sense of unusefulness). Mereka cenderung mempunyai hobi dan kelompok-kelompok yang sama seperti waktu remaja dulu.

Implikasi Desain
Menjadi Satu atau Dipisahkan dari Keluarga. Meningkatnya jumlah manula merupakan konsekuensi logis dari meningkatnya tingkat kesehatan suatu populasi. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: bagaimana memperlakukan mereka sesuai dengan tingkat kebutuhan dan perkembangannya? Apakah lebih baik tinggal menjadi satu dengan keluarganya atau tinggal di panti-panti jompo?

Jika dipilih tetap tinggal bersama dengan keluarganya, maka konsekuensi fisiknya lebih sedikit dibandingkan dengan konsekuensi psikologis. Konsekuensi psikologis tersebut di antaranya adalah terjadinya kesenjangan sosial antara manula dengan cucu-cucunya, yang pada tingkat tertentu dapat berakibat konflik. Jika dipilih tinggal di panti jompo, meski terdapat beberapa kelemahan, akan tetapi beberapa hal yang dapat diambil manfaatnya adalah adanya:
• kesempatan yang luas untuk berinteraksi dengan teman-temannya senasib yang memiliki minat dan kemampuan bersama
• upaya untuk menghilangkan perasaan kesepian dengan teman-temannya senasibnya
• kesempatan untuk mengaktualisasikan prestasi yang dulu pernah diraih
• rancangan ruang dan elemen-elemennya memang disengaja untuk keperluan hiburan dan rekreasi
• kesempatan bertemu dengan keluarga atau orang-orang yang lebih muda secara temporer.

Para perancang panti jompo ternyata masih memiliki anggapan yang keliru dalam merencakan rancangannya. Beberapa anggapan keliru tersebut antara lain adalah (lihat Fisher dkk., 1984):

1.    Anggapan bahwa para manula adalah homogen
Dalam kenyataannya, para manula ternyata memiliki kesulitan-kesulitan fisik dan psikologis yang berbeda-beda. Kesulitan fisik antara lain adalah: lemah pendengaran, lemah penglihatan, dan lemah dalam hal gerakan. Sedangkan kesulitan psikologis antara lain adalah withdrawal (menarik diri) dan kesulitan untuk membeda-bedakan atau mengkategorikan stimu¬lus.

2.    Anggapan bahwa perencanaan lebih ditekankan untuk mempermudah cara kerja pengelola panti jompo, terutama dalam hal: merawat, membersihkan ruangan, dan mengelola. Anggapan ini bisa jadi disebabkan oleh visi perancang yang kurang memiliki pengetahuan yang cukup tentang manula.
Fisher dkk. (1984) menekankan tiga hal penting dalam merancang suatu panti jompo, yaitu: keamanan, kenyamanan, dan kondisi fisik.

1 . Keamanan
Untuk mencapai keamanan para manula diperlukan jumlah staf yang cukup untuk mengawasi. Selain itu untuk mencegah kecelakaan atau mendeteksi apa-apa yang terjadi, maka dapat dilakukan dengan cara:
• merancang pegangan pada hall
• merancang lantai yang tidak licin
• tersedianya saluran komunikasi kepada staf jika para manula mengalami masalah, misalnya di kamar mandi
2. Kenyamanan
Kenyamanan dapat dilakukan dengan cara:
• menyediakan bantuan orientasi dengan cara mengembangkan kode warna tertentu pada lantai atau dengan tanda-tanda atau warna tertentu untuk membedakan ruang
• merancang pintu gerbang yang terlindung dari matahari dan hujan.

3. Kondisi Fisik
Beberapa persyaratan fisik yang diperlukan adalah:
•    ukuran ruang yang cukup untuk berekreasi atau untuk mengurangi interaksi dengan yang lain
•    ruang yang memungkinkan staf panti jompo untuk mengawasi

LATIHAN SOAL

1. Sebutkan tiga pendekatan untuk membahas kelompok pemakai!
2. Apa perbedaan konsep perkembangan dengan pertumbuhan!
3. Pada masa bayi ciri-ciri apa yang menonjol dalam perkembangan? Bagaimana implikasi desain untuk mewadahi aktivitas-aktivitas yang dapat membantu perkembangannya?
4. Apa kegunaan playground bagi kanak-kanak? Sebutkan jenis-jenis play-
ground dan manakah yang terbaik bagi kanak-kanak?
5. Apa yang biasanya dilakukan oleh suatu keluarga yang tinggal di rumah tipe 36 dan memiliki dua orang anak (pria dan wanita) yang sedang tumbuh dan berkembang menjadi remaja?
6. Pada seting kampus. aktivitas-aktivitas apa sajakah yang seringkali tidak
dapat difasilitasi dengan baik di Indonesia?
7. Urgensi apakah yang terjadi pada Manula dalam kaitannya dengan desain?

Jadikan setiap Postingan untuk ajang DISKUSI dan saling BERBAGI agar ilmu anda semakin berkembang dan berguna bagi orang lain.

Gunakan Kolom Komentar di bawah ini untuk menyampaikan PENDAPAT/ OPINI sebagai bentuk partisipasi untuk mencerdaskan bangsa.




read more

Monday, January 23, 2012

Arsitektur dan Psikologi

Monday, January 23, 2012
1 komentar

Adalah Kurt Lewin yang pertama kali memperkenalkan Field Theory (Teori Medan) yang merupakan salah satu langkah awal dari teori yang mempertimbangkan interaksi antara lingkungan dengan manusia. Lewin mengatakan bahwa tingkah laku adalah fungsi dari pribadi dan lingkungan, sehingga dapat diformulasikan menjadi:


Berdasarkan rumusan tersebut, Lewin rnengajukan adanya kekuatan kekuatan yang terjadi selama interaksi antara manusia dan lingkungan. Masing-masing komponen tersebut bergerak suatu kekuatan-kekuatan yang terjadi pada medan interaksi, yaitu daya tarik & daya mendekat dan daya tolak & daya menjauh. Interaksi tersebut teriadi pada lapangan psikologis seseorang (penghuni/pemakai) yang pada akhimya akan mencerminkan tingkah laku penghuni (Iskandar, 1990).

Sebelum kita kenal istilah psikologi lingkungan (environmental psychology) yang sudah baku, beberapa istilah lain telah mendahuluinya, Semula Lewin pada tahun 1943 memberikan istilah ekologi psikologi (psychological ecology). Lalu Egon Brunswik dengan beberapa mahasiswanya mengajukan istilah psikologi ekologi (ecological psychology). Pada tahun 1947, Roger Barker dan Herbert Wright memperkenalkan istilah seting perilaku (behavioral setting) untuk suatu unit ekologi kecil yang melingkupi perilaku manusia sehari-hari .

Istilah psikologi arsitektur (architectural psychology) pertama kali diperkenalkan ketika diadakan konferensi pertama di Utah pada tahun 1961 dan 1966. Jurnal profesional pertama yang diterbitkan pada akhir 1960-an banyak menggunakan istilah lingkungan dan perilaku (Environment and Behavior). Baru pada tahun 1968, Harold Proshansky dan William 'nelson memperkenalkan program tingkat doktoral yang pertama dalam bidang psikologi lingkungan (environmental psychology) di CUNY (City University of New York) (Gifford, 1987).

Definisi psikologi lingkungan memiliki beragam batasan. Heimstra dan Mc Farling (dalam Prawitasari, 1989) menyatakan bahwa psikologi lingkungan adalah disiplin yang memperhatikan dan mempelajari hubungan antara perilaku manusia dengan lingkungan fisik. Gifford (1987) mendefinisikan psikologi lingkungan sebagai studi dad transaksi di antara individu dengan seting fisiknya. Dalam transaksi tersebut individu mengubah lingkungan dan seba iiknya perilaku dan pengalaman individu diubah dleh lingkungan. Sementara itu Proshansky, lttleson, dan Rivlin (dalam Prawitasari, 1989) menyatakan bahwa definisi yang adekuat tentang psikologi lingkungan tidak
ada. Mereka mengatakan bahwa psikologi lingkungan adalah apa yang dilakukan oleh psikolog lingkungan. Ahli lain seperti Canter dan Craik (dalam Prawitasari, 1989) mengatakan bahwa psikologi lingkungan adalah area psikologi yang melakukan konjungsi dan analisis tentang transaksi dan hubungan antara pengalaman dan tindakan-tidakan yang berhubungan dengan lingkungan sosiofisik.

B. L1NGKUP PSIKOLOG1 LINGKUNGAN

Proshansky (1974) melihat bahwa psikologi lingkungan memberiperhatian terhadap manusia, tempat serta perilaku dan pengalaman-pengalaman manusia dalam hubungannya dengan seting fisik. Lingkungan fisik tidak hanya berarti rangsang-rangsang fisik (seperti cahaya, sound, suhu, bentuk, warna, dan kepadatan) terhadap objek-objek fisik tertentu, tetapi lebih dari itu merupakan suatu kompleksitas yang terdiri dari beberapa seting fisik dimana seseorang tinggal, berinteraksi dan beraktivitas.
Sehubungan dengan lingkungan fisik, pusat perhatian psikologi lingkungan adalah lingkungan binaan (built environment).

Ruang lingkup psikologi lingkungan tidak hanya terbatas pada arsitektur atau pada lingkungan binaan (built environment), akan tetapi lebih jauh membahas pula: rancangan (desain), organisasi dan pemaknaan, ataupun hal-hal yang lebih spesifik seperti ruang-ruang, bangunan-bangunan, ketetanggaan, rumah sakit dan ruang-ruangnya, perumahan, apartemen, museum, sekolan, mobil, pesawat, teater, ruang tidur, kursi, seting kola, tempat rekreasi, nutan alarni, serta seting-seting lain pada lingkup yang bervariasi (Proshansky, 1974).

Sementara itu, Veitch dan Arkkelin (1995) menetapkan bahwa osikologi lingkungan rnerupakan suatu area dari pencarian yang bercabang dari sejumlah displin, seperti biologi geologi, psikologi, hukum, geografi, ekonomi, sosiologi, kimia, fisika, sejarah, filsafat, berserta sub disiplin dan rekayasanya.

Oleh karena itu berdasarkan ruang lingkupnya, maka psikologi lingkungan ternyata selain membahas seting-seting yang berhubungan dengan manusia dan perilakunya, juga melibatkan disiplin ilmu yang beragam.

C. HUBUNGAN ANTARA LINGKUNGAN DAN PERILAKU

Untuk membahas hubungan antara lingkungan dan perilaku manusia, maka pembahasan akan disajikan secara bertahap yaitu:
(1) hubungan lingkungan dengan perilaku
(2) hubungan lingkungan binaan dengan perilaku
(3) hubungan arsitektur dengan perilaku

Pembagian tersebut di atas bukanlah pembagian yang didasarkan pada suatu hirarki tertentu, melainkan bertujuan untuk mempermudah penggunaan istilah-istilah lingkungan, tingkungan binaan, dan arsitektur yang terkadang saling tumpang-tindih.

1. Hubungan Lingkungan dengan Perilaku

Lingkungan mempengaruhi perilaku dengan empat cara. Pertama, lingkungan menghalangi perilaku, akibatnya juga membatasi apa yang kita lakukan. "Kita mungkin tidak menyadari akan dinding kamar, padahal dinding itu akan menentukan seberapa jauh kita dapat berjalan di dalamnya. Ketinggian meja akan mempengaruni cara kita duduk; jumlah orang di dalam kamar mempengaruhi perasaan nyaman kita, kegaduhan mempengaruhi banyaknya suara yang kita dengar' (lttelson dkk., 1974). Halangan ini bahkan
mempengaruhi lebih jauh. Anak kota yang tidak pernah melihat gunung, sungai atau hutan mungkin tidak pernah bisa membedakan antara pohon pinus dengan pohon cemara, dan mereka tidak pernah belajar menghargai alam. Sebaliknya anak yang tumbuh di pinggiran yang tidak pernah melihat lift dapat mengalami kesenjangan antara pengetahuan dan kepekaannya (Calhoun, 1995).

Kedua, lingkungan mengundang atau mendatangkan perilaku, menentukan bagaimana kita harus bertindak. Ketika kita memasuki masjid, lingkungan menuntut kita untuk tenang dan khidmat. Ketika kita memasuki taman, lingkungan membuat kita untuk tertawa dan bergembira. Ruang tengan dengan kursi bersandaran tegak dan terbungkus plastik agar tetap bersih, membuat kita duduk tegak dan tidak mengotorinya. Ruang tamu dengan kursi besar, bantalannya tebal membuat kita duduk bersandar dan santai (Calhoun, 1995).

Ketiga, lingkungan membentuk kepribadian. Perilaku yang dibatasi lingkungan dapat menjadi bagian tetap dari diri, yang menentukan arah perkembangan kepribadian pada masa yang akan datang. Sebagai contoh, seorang anak yang pada tahun pertama sekolahnya belajar di "ruangan kelas terbuka". Di ruangan seperti itu tidak ada deretan bangku yang menghadap guru. Tetapi ruangan tersebut merupakan ruangan terbuka yang penuh dengan kegiatan yang dapat diikuti semua anak. Dalam lingkungan tersebut mungkin anak memandang bahwa belajar bukan untuk menyerap informasi dari orang yang ahli dalam bidangnya tetapi sebagai proses pemuasan rasa keingintahuannya. Dalam proses ini kepribadiannya akan dapat terbentuk (Calhoun, 1995).

Keempat, lingkungan akan mempengaruhi citra-diri. Direktur merasa betapa punting dirinya dari semua benda di sekitarnya — lukisan di dinding, dan karpet di lantai. Demikian juga, seorang anak kota tahu cat yang sudah melepuh kumuh, dan bau busuk adalah ketakberdayaan dan kemelaratan. Seandainya dia penting, mengapa dia berada di tempat seperti ini?

Ringkasnya, lingkungan sekitar kita menentukan apa yang dapat kita lakukan, apa yang harus kita lakukan, dan jelasnya siapa kita sebenarnya. Pada bagian berikut, kita akan membahas faktor lingkungan binaan yang terbukti mempengaruhi perilaku, arsitektur dan perilaku, ruang lingkup informasi lingkungan dan perilaku, dan seting perilaku (Calhoun, 1995).

2. Hubungan Lingkungan Binaan dengan Perilaku

Faktor lingkungan mempunyai pengaruh negatif terhadap perilaku sosial. Sekarang kita beralih pada faktor lingkungan yang dapat mempunyai pengaruh dari sangat positif sampai sangat negatif. Faktor tersebut dinamakan lingkungan binaan. Lingkungan binaan meliputi semua tempat yang sebagian besar telah direncanakan dan diciptakan oleh manusia (Hemistra dan MeFarling,1978) — ruangan, gedung, lingkungan sekitar, kota besar, kota kecil dan sebagainya. Kebalikannya, lingkungan alami, yaitu yang meliputi
semua tempat yang hanya sedikit atau tidak diubah sama sekali oleh manusia, seperti danau, ladang, dan hutan.

Tidak semua lingkungan dapat dikelompokkan ke dalam satu tipe atau yang lain (Contoh, bagaimana dengan danau yang dikelilingi penginapan dan kedai-kedai? Bagaimana  keaslian lingkungan tersebut?). Meskipun demikian, apabila kita ingin meneliti respon psikologis manusia terhadap lingkungan yang dibuat manusia, terdapat banyak lingkungan buatan yang dapat kita teliti. Ruang ramu, ruang kelas, kota, pusat pertokoan — semua telah direncanakan, dengan teiiti atau ceroboh, oleh manusia. Dan karena direncanakan, semua itu akan mempengaruhi perilaku (Calhoun, 1995).

Herbert J. Gans (dalam Budihardjo, 1991a) menyatakan bahwa dalam perencanaan lingkungan binaan ada dua kutub:
• Kutub pertama, arsitek (dan planalog) menganut sikap bahwa lingkungan fisik akan mempengaruhi langsung terhadap perubahan perilaku manusia.
• Kutub kedua, ahli-ahli ilmu sosial, secara frontal menyanggah dengan postulatnya bahwa faktor penentu perilaku manusia justru bukan aspek fisik melainkan aspek-aspek nonfisik seperti sosial, ekonomi dan budaya.

3. Hubungan Arsitektur dengan Perilaku

Salah satu pertanyaan paling menarik yang dihadapi doh para pakar psikologi lingkungan adalah bagaimana perancangan bangunan, sekolah, dan pusat perbelanjaan mempengaruhi kita. Memang, struktur yang kita hasilkan, yang disebut lingkungan binaan merupakan bagian dari dunia kita yang sangat penting. Dan beberapa di antaranya tampak "berjalan" lebih baik dibandingkan yang lain.

Beberapa rumah tampak menyenangkan untuk ditempati dan berfungsi dengan lancar, sedangkan yang lain tidak, beberapa toko dapat meminimalkan kesumpekan dan biasanya menimbulkan pengalaman berbeianja yang relatif menyenangkan; toko yang lain menimbulkan pengaruh yang sebaliknya. Dan hal yang sama juga terjadi pada struktur-struktur lain yang kita bangun. Para arsitek berusaha keras agar rancangannya terwujud dengan baik, tetapi pada umumnya mereka menyandarkan diri pada intuisi dan pengalaman mereka. Sampai saat ini belum ada penelitian yang sistematis tentang pengaruh rancangan terhadap manusia, dan bahkan sekarang pun para pakar psikologi dan sosiologi baru mulai meneliti masalah itu seGara serius.

Tetapi setidak-tidaknya mereka mulai memahami beberapa rancangan mempengaruhi manusia, dan mungkin tidak lama lagi mereka akan mampu memberikan bimbingan kepada para
arsitek berdasarkan penelitian yang mendalarn. Saat ini, sebagian besar penelitian yang dilakukan oleh pakar psikologi berkaitan dengan struktur asrama (yang jelas menarik minat banyak prang di universitas) dan perumahan bertingkat-tinggi lawan perumahan bertingkat rendah (Sears dkk..1992).

Menurut Fisher dkk. (1984) sampai saat ini, pengaruh desain arsitektur terhadap perilaku seringkali masih dipandang kecil. meskipun direncanakan secara umum, rancangan suatu kota dan bangunan-bangunannya jarang sekali mempertimbangkan bagaimana kota dan bangunan tersebut dapat mempengaruhi perilaku atau kualitas kehidupan manusia penggunanya.

Sebaliknya pertimbangan estetis mendapatkan tempat puncak di mata para perancang/arsitek. Sehubungan dengan adanya hubungan mempengaruhi dan atau dipengaruhi antara manusia dengan lingkungan fisiknya, maka terdapat empat pandangan berhubungan dengan seberapa luas pengaruh desain arsitektur terhadap perilaku manusia sebagai penggunanya, yaitu: Pendekatan Kehendak Bebas (Free-will Approach), Determinisme Arsitektur (Architectural Determinism), Kemungkinan Lingkungan (Environmental Possibilism), dan Probabilisme Lingkungan (Environmental Probabilism).

Pendekatan Kehendak Bebas (Free-will Approach). Pendekatan ini secara ekstrim berpendapat bahwa lingkungan tidak memiliki dampak apapun terhadap perilaku. Lebih lanjut diperjelas bahwa manusia semenjak memiliki pembatas-pembatas yang kuat sebagai makhluk biologi, maka semenjak itu pula keadaan ini tidak dapat dipertahankan lagi (Lang, 1984).

Determinisme Arsitektur (Architectural Determinism). Salah satu konsep awal tentang pengaruh arsitektur terhadap perilaku adalah determinisme arsitektur. lstilah ini terkadang disebut sebagai determinisme fisik (physical determinism) atau determinisme lingkungan (environmental determinism) (Lang, 1987).

Secara singkat determinisme arsitektur berarti bahwa lingkungan yang dibangun membentuk perilaku manusia di dalamnya. Dalam bentuknya yang paling ekstrim, arsitektur dan desain dipandang sebagai satu-satunya penyebab dari munculnya perilaku. Namun jelas terlihat bahwa pandangan seperti ini terlalu sederhana untuk dipertimbangkan dalam menilai seberapa besar pengaruh desain terhadap perilaku. Yang menjadi penyebabnya adalah: pertama, konsep ini mengabaikan fakta bahwa manusia terlibat dalam
transaksi dengan lingkungan;    manusia mempengaruhi dan merubah lingkungan seperti juga halnya lingkungan mempengaruhi dan merubah  manusia. Kedua, determinism° arsitektur tidak mempertimbangkan adanya interaksi yang kompleks yang muncul antara faktor-faktor fisik, sosial, dan psikologis.

Desain arsitektur dapat mempengaruhi formasi kelompok, sementara hal-hal lain seperti kebutuhan, aktivitas yang sedang berlangsung, dan hubungan yang dimiliki seseorang dengan orang lain akan dapat membentuk modifikasi-modifikasi dari pengaruh-pengaruh tersebut. Misalnya, apakah seseorang akan pindah ke bagian asrama yang padat dimana tinggal pula di sana beberapa prang temannya, atau ke bagian asrama lain yang sama tetapi tanpa teman, atau mungkin akan dapat menentukan apakah orang tersebut mengalami stres karena kepadatan (Baum dkk. dalam Fisher dkk., 1984).

Menurut Budihadjo (1991a) paham ini percaya bahwa penciptaan lingkungan yang balk akan memberikan pengaruh secara langsung terhadap perilaku pemakai/penghuninya. Umumnya para arsitek atau ahli bangunan hanya menentukan tiga faktor utama sebagai syarat untuk membuat bangunan dengan arsitektur yang baik yakni: fungsional, struktural, dan estetis.

Fungsional dalam arti bahwa bangunan itu enak dipakai dan memenuhi persyaratan yang tidak menyulitkan pemakaian. Struktural dalam pengertian kuat sehingga aman untuk dipakai/dihuni. Estetis dalam arti dalam arti bahwa bangunan itu rnemiliki keindahan (Ishar, 1995).

Terdapat hubungan antara fungsional, struktural, dan estetis (dalam arsitektur) dengan proses-proses psikologi yang dapat dilihat pada tabel berikut ini.


Sir Henry Welton (dalam Lang dkk., 1974) menguraikan dengan kata-katanya sendiri, bahwa pendapat Vitruvius punya perhatian besar dalam arsitektur. Menurutnya arsitektur yang baik adalah yang memiliki dimensi "commodite, firmeness, dan delight" (fungsi, struktur, dan estetika). Kebanyakan arsitektur modern mengasumsikan bahwa: commodite + firmeness = delight. Jika seseorang menerima model Vitruvius, maka delight dibentuk dari estetika formal dan estetika simbolik, sementara commodite
dibentuk berdasarkan perilaku spasial dalam semua manifestasinya. Sementara itu, pertimbangan firmeness tidak akan banyak dibahas dalam psikologi lingkungan. Persepsi, kognisi, dan perilaku spasial adalah konsep-konsep perilaku dasar yang banyak menjadi perhatian.

Menurut Lang dkk (1974) kontribusi potensial dari perilaku (seperti sosiolosi, psikologi, dan antropologi) terhadap arsitektur dapat dijelaskan pada gambar berikut ini.



Teori arsitektur baru amat berhubungan dengan latar belakang teori dari ilmu-ilmu perilaku. Setiap bangunan baru dapat menjadi suatu hipotesis tentang hubungan dari perilaku manusia kepada desain iingkungan, dimana hipotesis tersebut dapat diuji dengan menggunakan prinsip-prinsip yang pragmatis melalui observasi, bagaimana bangunan tersebut dapat berjalan daiam kenyataan.

Kemungkinan Lingkungan (Environmental Possibilism). Perspektif yang lain tentang pengaruh perilaku di dalam lingkungan binaan (built environment) telah berkembang sebagai reaksi terhadap determinisme arsitektur. Daripada mengasumsikan bahwa lingkungan sepenuhnya menentukan perilaku (seperti dalam deterrninisme), konsep kemungkinan lingkungan memandang lingkungan sebagai sebuah wadah di mana perilaku akan muncul.

Lingkungan membuka kesempatan-kesempatan yang luas dimana perilaku manusia dapat terjadi atau sebaliknya tidak dapat terjadi. Akan tetapi manusia tidak sepenuhnya bebas menentukan pilihannya, karena setiap individu memiliki motivasi dan kompetensi yang paling tidak dipengaruhi pula oleh lingkungan alamiah, lingkungan sosial, dan lingkungan budaya. Menurut konsep ini hasil perilaku yang kita pilih ditentukan oleh lingkungan dan piiihan yang kita buat (Fisher dkk., 1978; Lang, 1987).

Probabilisme Lingkungan (Environmental Probabilism). Di antara posisi para determinis dan posibilis dalam arsitektur dan perilaku, terdapat pula orientasi yang lain yaitu probabilisme lingkungan. Sementara determinisme berasumsi bahwa lingkungan menentukan perilaku secara mutlak dan kemungkinan lingkungan memberikan peran yang besar pada pilihan individual sehingga sulit membuat prediksi tentang pengaruh lingkungan terhadap perilaku, probabilisme merupakan sebuah konnpromi. Konsep ini berasumsi bahwa organisme dapat memilih variasi respon pada berbagai situasi lingkungan, dan pada saat itu muncul pula probabilitas yang berkaitan dengan contoh-contoh kasus desain dengan perilakunya yang spesifik.

Probabilitas ini merefleksikan pengaruh faktor-faktor non-arsitektural, seperti halnya pengaruh desain dan perilaku. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa, berdasarkan pengetahuan kita tentang manusia dan lingkungan tertentu dimana mereka berada, suatu perilaku tertentu lebih besar kemungkinannya muncul dibanding perilaku lainnya. Sebuah contoh sederhana dapat mengilustrasikan probabilisme lingkungan ini. Jika diasumsikan bahwa anda berada di dalam kelas yang sangat besar dengan beberapa prang lain di dalamnya. Pada kondisi seperti ini terjadinya diskusi kemungkinannya kecil untuk dilakukan. Setelah mempelajari segala sesuatu tentang ruang kelas yang dapat arida temukan, anda memutuskan untuk merubah pengaturan meja dan kursi. Anda telah mempelajari bahwa dalam banyak kasus, jika tempat duduk ditata melingkar, prang akan berbicara lebih banyak. Dengan demikian kemungkinan akan lebih besar orang akan bicara jika ruang kelas ditata sedemikian, anda akan membantu menciptakan suasana yang mendukung diskusi. Namun, jika kelas tersebut dijadualkan pada saat-saat akhir hari atau jika instruktur telah "mematikan inisiatif para siswa", anda mungkin tidak akan berhasil. Mak ada laruhan yang pasti" menurutt konsep probabilisme ini.

12 HUANG LINGKUP INFORMASI LINGKUNGAN PERILAKU

Menurut Irwin Altman (dalam Moore, 1994) sebuah model yang berguna untuk melihat informasi antara lingkungan dan perilaku yang tersedia, pertama kali diusulkan oleh psikolog arsitektur Irwin Atman yang memuat tiga komponen pokok: fenomena lingkungan-perilaku, kelompok pemakai, dan seting.

Fenomena Lingkungan-Perilaku. Masing-masing dari fenomena ini merupakan aspek perilaku manusia yang berbeda sehubungan dengan lingkungan fisik tiap hari. Contoh yang umum adalah proxemic dan privacy. Proxemic adalah jarak yang berbeda antarmanusia yang dianggap menyenangkan untuk melakukan interaksi sosial. Privacy adalah suatu mekanisme pengendalian antarpribadi yang mengukur dan mengatur interaksi dengan orang-orang lain. Faktor-faktor rancangan fisik mernpengaruhi sejauh mana kita dapat mengendalikan interaksi antarpribadi dan mempertahankan keseimbangan antara keleluasaan pribadi (privacy) dan masyarakat (komunitas). Contoh-contoh lain tentang fenomena lingkungan-perilaku meliputi makna dan simbolisme lingkungan dan cara-cara manusia menggunakan lingkungan dalam menyajikan diri. Beberapa fenomena ini,
sepeni proxemic dan privacy, yang menunjuk pada pola-pola perilaku pribadi, sementara yang lain-lain, seperti komunitas dan ketetanggaan (neighborhood) menghadapi pola-pola dan ketentuan-ketentuan sosiai. Semua fenomena perilaku lingkungan ini penting ban para perancang karena mereka saling berkaitan dan dengan demikian muncul lagi sebagai pertimbangan dalam merancang berbagai tipe bangunan untuk berbagai kelompok pemakai.



Kelompok Pemakai. Kelompok pemakai yang berbeda mempunyai kebutuhan yang berbeda dan dipengaruhi dalam berbagai cara oleh sifat lingkungan. Banyak sekali informasi kini terdapat mengenai anak-anak dan lingkungan, kelompok etnis yang berbeda-beda, dan kelompok-kelompok pemakai khusus seperti mereka yang tak mampu belajar dan cacat asmaniah. Pentingnya mempelajari faktor-faktor perilaku dad pendirian seorang pemakai ialah bahwa ia memberi kepada arsitek perbendaharaan pengalaman yang dapat diterapkan dalam setiap proyek perancangan yang melibatkan para pemakai tersebut. Salah satu pendekatan untuk mengungkap kelompok pemakai akan dibahas pada bab 2.

Seting. Komponen terakhir dari model meliputi semua skala seting, mulai dari skala kamar sampai kepada agama, bangsa, dan dunia. Skala kamar terhadap bangunan dan terhadap kelompok bangunan penting sekali bagi arsitek. Skala bangunan terhadap kola adalah urusan perancang kota. Kelompok bangunan sehubungan dengan daerah menyibukkan perancang kota dan daerah, dan seterusnya. Perkembangan akhir-akhir ini dalam telaah telaah perilaku, dan kriteria untuk tipe berbagai bangunan; umpamanya, lingkungan kediaman untuk anak-anak; perumahan bagi mereka yang lebih tua, dan daerah-daerah kediaman dan ketetanggaan bagi berbagai kelompok
sosial budaya. Ciri yang unik tentang orientasi ini terhadap perhatian-perhatian perilaku dalam arsitektur adalah fokus holistik pada semua fakor periiaku, sosial, dan budaya yang harus diperhatikan dalam merancang tipe bangunan yang berbecla-beda.

E. SETING PERILAKU

Menurut Roger Barker (dalam Sarwono, 1994) tingkah laku tidak hanya ditentukan oleh lingkungan atau sebaliknya, melainkan kedua hal tersebut saling menentukan dan tidak dapat dipisah-pisahkan. Dalam istilah Barker, hubungan tingkah laku dengan lingkungan adalah seperti jalan dua arah (two way street) atau interdependensi ekologi. Selanjutnya Barker mempelajari hubungan timbal balik antara lingkungan dengan dan tingkah laku. Suatu hal yang unik pada teori Barker adalah adanya seting perilaku yang dipandang sebagai faktor tersendiri. Seting perilaku adalah pola tingkah laku kelompok (bukan indiviclu) yang terjadi sebagai akibat kondisi lingkungan tertentu (physical milieu). Misalnya jika suatu ruangan terdapat pintu, beberapa jendela, serta dilengkapi dengan papan tulis dan meja tulis yang berhadapan dengan
sejumlah bangku yang berderet, maka seting perilaku yang terjadi pada ruang tersebut adalah rangkaian dari tingkah laku murid yang sedang belajar di ruang kolas. Jika ruang tersebut berisikan perabotan kantor, maka orang-orang yang berada di dalamnya akan berperilaku sebagaimana lazimnya karyawan kantor.

Menurut Roger Barker (dalam Moore, 1994) seting perilaku adalah konsep kunci bagi analisis perilaku manusia dalam arsitektur. Berdasarkan karya Barker ini, suatu seting perilaku dapat diterapkan untuk tujuan-tujuan arsitektur sebagal suatu unit dasar analitis interaksi lingkungan-perilaku yang meliputi empat kekhususan berikut ini:
1. Suatu pola perilaku tetap atau suatu tipe perilaku yang berulang kali, seperti berhenti berbicara jika melalui seorang teman.
2. Aturan-aturan dan tujuan-tujuan sosial yang menentukan yang dapat ditafsirkan sebagai norma-norma yang menentukan perilaku yang dapat ditafsirkan sebagai norma-norma yang berlaku. Pembicaraan pembicaraan panjang lobar merupakan norma bagi orang-orang yang lebih tua, dan konvonsi sosial memperkenankan menyentuh dan berdekatan akrab sementara berbicara.
3. Ciri-ciri fisik kritis dari pelataran seting yaitu unsur dan lingkungan fisik
yang terjalin tak terpisahkan dengan perilaku, seperti ukuran dan bentuk ruang sosial perumahan untuk kaum tua di mana percakapan-percakapan terjadi.
4. Tempat waktu, kerangka waktu di mana perilaku terjadi, untuk berbagai perilaku yang memiliki ritme harian, mingguan, bulanan, dan musiman.

LATIHAN SOAL

1. Sebutkan beberapa macarn lingkungan binaan yang arida ketahui!
2. Di antara keempat pendekatan yaitu pendekatan Kehendak Bebas (Free will Approach), Determinisme Arsitektur (Architectural Determinism), Kemungkinan Lingkungan (Environmental Possibilism), dan Probabilisme Lingkungan (Environmental Probabilism), manakah yang paling menonjol pada perencanaan lingkungan binaan di Indonesia?
3. Coba terangkan bagaimana hubungan antara arsitektur dengan ilmu ilmu perilaku (behavioral sciences) pada umumnya dan hubungan antara arsitektur dengan psikologi pada khususnya
4. Apa yang dimaksud dengan Seting Perilaku menurut Roger Barker?



Jadikan setiap Postingan untuk ajang DISKUSI dan saling BERBAGI agar ilmu anda semakin berkembang dan berguna bagi orang lain.

Gunakan Kolom Komentar di bawah ini untuk menyampaikan PENDAPAT/ OPINI sebagai bentuk partisipasi untuk mencerdaskan bangsa.


read more
 

Komentar

Postingan Terakhir